BUDAYA DIGITAL

Pemusnahan disertasi kertas dan tantangan digital(isasi)

| Tito Sigilipoe /Beritagar.id

BERKAS | Tentang penyiangan khazanah pustaka di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ada hal yang menarik: digitalisasi berkas kertas (hard copy).

Jika sekian banyak berkas gambar, teks, dan suara ingin disebut sebagai arsip, koleksi, khazanah, atau apa pun yang mentereng, syaratnya adalah: tertata, mudah dicari dan ditemukan. Oh ya, ada pula informasi kapan dan di mana berkas itu dibuat atau disimpan.

Untuk kepentingan personal, serumit itukah syaratnya? Tidak. Eh, tergantung kebutuhan setiap orang.

Untuk foto lama dua puluh tahun lalu (hasil pemindaian kertas jadi digital), ada yang peduli dengan apa dan siapa dalam gambar, serta kapan dan di mana foto dijepret. Urusan selanjutnya biarlah orang lain yang memperkaya info.

Akan tetapi untuk foto digital sejak pengambilan gambar, semua info itu antara perlu dan tak perlu. Ketika menjadi arsip, teknologi dari platfrom jejaring sosial dapat membantu menyajikan. Minimal tahun pengunggahan dan nama orang yang tertandai.

Nah, untuk ratusan foto dalam ponsel, hasil jepretan sendiri maupun kiriman, bagaimana mengelolanya? Setiap orang punya cara. Pencarian visual dari thumbnails masih jadi metode. Begitu pun cara bernama memeras ingatan: ini foto apa dan kapan ya? Tak apa, itu bagian dari merawat daya ingat.

Berkas digital bagi sebagian orang belum memuaskan pengguna terutama dari sisi informasi. Dalam trek lagu pengaliran (streaming) misalnya: miskin informasi. Belum tentu ada nama siapa additional musician dan nama desainer sampul seperti dalam sampul CD dan vinyl. Tapi, ah... bukankah Google bisa mencarikan?

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR