PILPRES 2019

Pilih: Prabowo jadi presiden atau pemilu ulang

Arah tuntutan BPN adalah Prabowo jadi presiden atau KPU bikin pemilu ulang. MK akan memutuskan pada pekan satriya wirang.
Arah tuntutan BPN adalah Prabowo jadi presiden atau KPU bikin pemilu ulang. MK akan memutuskan pada pekan satriya wirang. | Antyo® /Beritagar.id

Setiap warga negara negara berhak atas keadilan. Setiap capres berhak menempuh upaya beroleh keadilan. Bagi pasangan capres Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, upaya itu mereka tempuh melalui Mahkamah Konstitusi (MK), sejak 24 Mei lalu.

Ujung tuntutan tim hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi ada dua. Pertama: KPU menetapkan pasangan capres nomor 02 itu sebagai presiden. Kedua, sebagai alternatif, KPU menggelar pemilu ulang di seluruh Indonesia.

Tentu sebelum sampai pada putusan itu KPU harus membatalkan kemenangan Joko Widodo - Ma'ruf Amin 55,31persen. Sebelumnya, KPU harus menyatakan pasangan capres 01 itu terbukti curang.

BPN optimistis

Akankah MK meluluskan tuntutan BPN? "Insya Allah kami optimistis," kata ketua tim hukum BPN Bambang Widjojanto pekan lalu.

Jika proses sesuai jadwal, MK akan memutuskan sebulan lagi, pada Jumat Wage 28 Juni 2019. Menurut penanggalan Jawa, hari itu saptawara (pekan berisi tujuh hari) yang bersifat satriya wirang.

Dalam bahasa Indonesia, satriya wirang berarti kesatria yang memetik aib. Istilah ini beberapa kali muncul dalam telaah politis dari sudut kejawen. Tafsirannya bisa berbeda-beda, bergantung setiap penafsir.

Maka siapa pun boleh merasa berhak untuk bermain othak-athik gathuk — mempertautkan sejumlah hal agar tampak cocok. Misalnya nama pekan putusan MK dengan sosok tokoh.

Kesatria dengan aib

Menjelang Pilpres 2014 misalnya, media mengutip pandangan Benny Ridwan, dosen filsafat Jawa IAIN Salatiga, Jawa Tengah, tentang satriya wirang.

"Satrio Wirang ini merupakan sosok satria pemberani, tegas, memiliki prinsip kuat dan sangat cinta pada negaranya," kata Benny.

Pak Dosen merujuk capres 2014 Prabowo, "[...] sering dipersalahkan dan selalu menjadi korban fitnah yang keji. Selalu berbuat baik tetapi tetap saja dituduh bersalah walau kesalahan tersebut bukan dia yang berbuat."

Lima tahun sebelumnya (2009), Djoko Suud Sukahar menulis kolom ihwal satriya wirang di detikcom. Ia menulis, "Jangan kaget jika tak lama lagi bakal muncul seabreg Satrio Wirang, tokoh-tokoh memalukan sekaligus malu-maluin, konsekuensi logis dari 'pentuhanan akal' dan 'takdir buatan' itu."

Nah, membingungkan ya soal kesatria berkeaiban itu? Baiklah, rupanya lebih penting memantau proses peradilan di MK setelah Lebaran.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR