MENJELANG PILPRES 2019

Pilpres 2019 dengan bintang utama versi 2014

 Catatan: Partai Demokrat tak ikut deklarasi Prabowo pada Kamis 9/8/2018, tapi akhirnya mendukung.
Catatan: Partai Demokrat tak ikut deklarasi Prabowo pada Kamis 9/8/2018, tapi akhirnya mendukung. | Antyo / Beritagar.id

Malam menjelang pergantian hari, dari tanggal 9 ke 10 Agustus 2018, Prabowo Subianto mendeklarasikan diri sebagai calon presiden Indonesia 2019. Di rumah Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, itu Bowo menunjuk Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden.

Semua partai pengusung Bowo sebut: Partai Gerindra, Partai Keadilan Sosial, dan Partai Amanat Nasional. Ia tak menyebut Demokrat, partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang sepuluh hari sebelumnya bergabung ke koalisi -- yang oleh alumni 212 disebut Koalisi Keumatan -- sampai kemudian pecah kabar skandal kardus.

Deklarasi Bowo tersebut dilakukan sekitar enam jam setelah deklarasi pesaingnya, Joko "Jokowi" Widodo. Koalisi sembilan partai mendampingi Jokowi di Restoran Plataran, Menteng, Jakarta Pusat. Jokowi menetapkan K.H. Ma'ruf Amien sebagai cawapres.

Masa menjelang deklarasi adalah drama dengan tikungan tajam. Semula Jokowi menunjuk mantan ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud M.D.. Mahfud pun sudah bersiap. Namun ternyata yang terpilih oleh Koalisi Indonesia Kerja adalah Ma'ruf.

Hari ini adalah tenggat pendaftaran pasangan calon ke Komisi Pemilihan Umum, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Namun kata Ketua DPP Gerindra Habiburokhman, "Kami tetap terbuka, sangat terbuka. Kami sangat terbuka jika mereka (Demokrat) ingin bergabung." (CNN Indonesia, 10/08/2018)

Wakil Ketua Umum Demokrat Syarief Hasan menyatakan pihaknya tak menyetujui Sandi sebagai cawapres. Ia beralasan "Pertama karena tidak pernah dibicarakan, tidak pernah dibahas, kemudian yang kedua ada sesuatu yang tidak jelas," (Kompas.com, 10/8/2018)

Akhirnya siang ini SBY menegaskan dukungan. "Beliau (SBY -red) akan mendukung koalisi kami, akan mendukung pencalonan saya dan Sandiaga Uno dan ini satu langkah yang besar," kata Bowo (detikcom,10/10/2018).

Maka akan berlagalah Jokowi dan Bowo untuk kedua kalinya, mengulang Pilpres 2014. Salah satu hal yang membedakan pilpres tahun depan dan lima tahun lalu adalah komposisi pendukung.

Pada 2014 Jokowi dan Jusuf Kalla didukung lima partai, sedangkan Bowo dan Hatta Rajasa disokong tujuh partai. Kemenangan Jokowi sempat diganggu oleh kubu lawan di parlemen.

Nanti, 2019, pendukung Jokowi-Ma'ruf ada sembilan partai. Lalu pendukung Bowo-Sandi akhirnya empat partai -- ditambah elemen nonpartai yakni alumuni 212 yang berhimpun dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U).

Fatwa ulama termaksud, yakni dokumen Pendapat dan Sikap Keagamaan Majelis Ulama Indonesia, diteken oleh Ma'ruf selaku Ketua MUI. Ma'ruf, yang kini menjadi cawapres untuk Jokowi, saat itu Ma'ruf menilai ucapan Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama menistakan Alquran dan menghina ulama (detikcom, 11/10/2016).

Sebelum Prabowo berdelarasi, Ketua GNPF-U Yusuf Martak mengomentari penunjukan Ma'ruf sebagai cawapres lawan, "... kenapa Pak Jokowi lebih cerdas daripada kita, ini tidak boleh." (Merdeka,com. 9/8/2018)

BACA JUGA