UJARAN KEBENCIAN

Sanksi Garuda Indonesia untuk sang pilot rasis

Ilustrasi pilot.
Ilustrasi pilot. | JeJai Images /Shutterstock

Pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas bea cukai hingga naik ke atas pesawat memang jarang terjadi. Bisa jadi ini sebabnya seorang pilot maskapai Garuda Indonesia melayangkan protesnya kepada para petugas Bea Cukai Bandara Internasional Silangit saat pesawatnya disambangi.

Peristiwa itu direkam oleh salah seorang penumpang yang duduk dekat dengan posisi pilot saat kejadian. Video berdurasi 2 menit 18 detik tersebut kemudian diunggah oleh akun Twitter @sugi_0706, Minggu (19/11/2017), sembari menanyakan apakah pilot dalam video tersebut memang awak Garuda Indonesia.

Hanya dalam hitungan jam, video tersebut pun menjadi viral di media sosial. Maklum, sang pilot dalam video itu mengucapkan kalimat bernada rasisme.

Sebenarnya video yang sama lebih dulu beredar pada 11 November. Dilansir Okezone, Kamis (16/11), video itu diunggah oleh akun Facebook @Ricco Andika. Namun video baru viral setelah dikicaukan pada Minggu.

Dalam video, sang pilot merasa janggal dengan pemeriksaan oleh tindakan Bea Cukai dan mengucapkan bahwa pesawatnya merupakan milik negara. Ia pun menyarankan agar petugas Bea Cukai memeriksa maskapai lain yang disebutnya sebagai milik etnis lain.

Menimpali perkataan pilot tersebut, petugas pun mengatakan dia hanya menjalankan tugas sesuai dengan standar operasional pelayanan. Tak terima dengan alasan petugas, pilot kembali mengatakan: "30 tahun sudah saya terbangkan pesawat, enggak pernah dilakukan hal-hal seperti ini."

Saat berdebat itu, pilot juga melontarkan sebuah kalimat yang dinilai oleh banyak pihak sebagai ucapan yang rasis dan tidak seharusnya diutarakan oleh seorang pilot senior.

Garuda Indonesia melalui Hengki Heriandono, pelaksana harian Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia, mengaku telah melihat video yang menghebohkan tersebut.

Garuda Indonesia pun membenarkan bahwa pilot termaksud adalah awaknya. Sementara peristiwa itu terjadi pada 31 Oktober 2017 di Bandara Silangit, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

"Pada saat itu, GA8510 SIN-DTB baru mendarat di Silangit. Setelah penumpang turun, kemudian naik petugas Bea-Cukai yang akan memeriksa pesawat dan tas kru," ujar Hengki kepada detikcom, Senin (20/11).

"Garuda Indonesia sangat menyesalkan perilaku dan pernyataan Pilot tersebut. Meskipun Pilot memberikan izin petugas bea cukai melakukan pemeriksaan di dalam pesawat namun pernyataan dan sikap pilot sangat disayangkan," kata Hengki, Minggu (19/11) dalam kompas.com.

Hengki menjelaskan bahwa pihaknya telah meminta maaf kepada direksi maskapai yang disebut-sebut oleh pilot dalam video itu. "Direksi Garuda Indonesia juga sudah menyampaikan secara langsung permohonan maaf kepada Direksi maskapai yang disebut dan permasalahan sudah diselesaikan dengan baik," jelasnya.

Selanjutnya, Hengki menjelaskan telah berkoordinasi dengan Bea Cukai dan membahas kesalapahaman yang terjadi. Garuda Indonesia dengan tegas menyatakan tidak menoleransi sikap dan pernyataan pilot tersebut.

Senior Manager Public Relations PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Ikhsan Rosan, dalam wawancaranya dengan Tempo.co menambahkan bahwa pilot menolak diperiksa karena merasa selama ini belum pernah ada pemeriksaan di dalam pesawat.

"Kemungkinan juga pilot belum mengetahui bahwa sesuai SOP, petugas Bea Cukai berhak masuk ke dalam pesawat," jelasnya.

Ikhsan mengklaim pihaknya sudah melakukan penyelidikan internal. Hasilnya, Garuda Indonesia memberikan sanksi administratif kepada pilot yang bersangkutan.

"Investigasi dan pemberian sanksi sudah kami lakukan sebelum video tersebut viral di media sosial," katanya meski menolak menjelaskan bentuk sanksinya secara detail.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR