Seorang napi di Spanyol bangkit dari ''kematian''

Ilustrasi mayat.
Ilustrasi mayat.
© Fer Gregory /Shutterstock

Kasus unik yang cukup menggemparkan terjadi di Spanyol. Seorang tahanan di penjara di Asturias, kota di bagian utara negara tersebut, "bangkit dari kematian". Padahal tiga dokter yang bergiliran memeriksanya menyatakan ia telah wafat.

Awalnya, dipaparkan The Telegraph, tahanan bernama Gonzalo Montoya Jimenez tersebut ditemukan tak sadar di dalam selnya pada Minggu (7/1/2018) jam 8.00 pagi waktu setempat. Ia duduk tak sadarkan diri, tubuhnya membiru, dan tak ada tanda-tanda kehidupan.

Dokter jaga malam langsung dipanggil, memeriksanya, dan menyatakan Jimenez telah meninggal. Dokter kedua yang bertugas pagi, lalu seorang ahli forensik yang didatangkan kemudian, juga menyatakan tahanan itu tak lagi bernyawa.

Jimenez, laki-laki berusia 29 tahun yang divonis 4 tahun penjara karena mencuri besi bekas, lalu dibawa ke kamar mayat, dimasukkan ke ruang es untuk diawetkan, dan tubuhnya diberi tanda untuk proses autopsi.

Akan tetapi, ketika tubuh yang telah dibungkus kantung plastik selama empat jam itu akan diautopsi, dokter forensik yang akan membedah tubuhnya tiba-tiba mendengar suara dari dalam kantung tersebut.

"Dokter forensik mulai mendengar suara yang keluar dari dalam kantung, Montoya tidak mati, justru sebaliknya," lapor El Espanol (h/t Science Alert). "Forensik [ahli patologi] lalu membuka katung dan menemukan narapidana tersebut masih hidup."

Jimenez kemudian dipindahkan di bawah pengawasan ambulans ke rumah sakit lain untuk dipulihkan dari kejadian misterius yang dialaminya. Ia dikabarkan telah dalam kondisi stabil dan menjalani perawatan intensif di Central University Hospital of Asturias, Oviedo, Spanyol.

Juru bicara Penjara Pusat Asturias, dikutip Mail Online, menyatakan tak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tetapi sekali lagi memastikan bahwa tiga dokter di Institut of Legal Medicine benar memeriksa dan menyatakan Jimenez telah tewas.

Sehari setelah kembali sadar, pria yang akan habis masa hukumannya dalam waktu tujuh bulan mendatang itu bertanya tentang istrinya. Dokter menganggap hal tersebut adalah pertanda baik karena artinya Jimenez tidak menderita kerusakan otak.

Kasus katalepsi

Kesalahan pemeriksaan atau mukjizat kah yang dialami Jimenez?

Pada pemeriksaan awal di rumah sakit, dokter menyatakan Jimenez kemungkinan mengalami apa yang disebut katalepsi, suatu kondisi yang menyebabkan tubuh menjadi kaku, tidak responsif terhadap rasa sakit, dan fungsinya menurun signifikan, termasuk pernapasan.

Sehari sebelum peristiwa itu, dia telah mengeluh kurang enak badan. Meski tidak diketahui apa penyebab sakitnya, tapi otoritas penjara menggambarkan pria itu mengalami sianosis.

Sianosis adalah perubahan warna keunguan pada kulit akibat sirkulasi yang buruk atau kekurangan oksigen pada tubuh. Hal ini biasanya juga menyebabkan kekakuan pada mayat (rigor mortis).

Kaku mayat ini biasanya menjadi salah satu tanda fisik kematian yang terjadi mulai 2 hingga 24 jam setelahnya. Mungkin hal inilah yang menyebabkan ketiga dokter yang memeriksa Jimenez menyatakan bahwa dia telah meninggal.

Kaku mayat terjadi akibat hilangnya adenosina trifosfat (ATP) dari otot-otot tubuh manusia. ATP digunakan untuk memisahkan ikatan aktin dan myosin pada otot sehingga otot dapat berelaksasi. Keduanya hanya akan beregenerasi bila proses metabolisme terjadi.

Apabila seseorang mengalami kematian, maka proses metabolismenya akan berhenti. Inilah yang menjadikan suplai ATP tidak akan terbentuk, sehingga tubuh perlahan-lahan akan menjadi kaku seiring menipisnya jumlah ATP pada otot.

Pejabat rumah sakit telah mengatakan kepada media Spanyol bahwa kematian palsu bisa masuk ke kasus katalepsi. Kondisi di mana tubuh memasuki keadaan trans atau kejang, menunjukkan hilangnya kesadaran dan sensasi, bersamaan dengan kekakuan fisik.

Katalepsi sendiri merupakan salah satu gejala epilepsi.

Bagaimana Jimenez mengalami reaksi katalitik tidak jelas, meskipun narapidana tersebut memang menderita epilepsi dan menjalani pengobatan untuk kondisinya.

Namun kemudian keluarga napi itu menyatakan, kemungkinan besar Jimenez berupaya bunuh diri dengan meminum obat penenang secara berlebihan.

Mereka juga menduga ketiga dokter di penjara tidak memeriksanya dengan baik. Surat kematian Jimenez, tuding mereka, adalah hasil pemeriksaan dokter pertama, sementara dua ahli lainnya hanya membubuhkan tanda tangan tanpa memeriksa kembali.

Jose Carlos Montoya, ayah Jimenez, menyatakan anaknya itu pernah mencoba menggantung diri di selnya sekitar tujuh bulan lalu.

"Jelas bahwa mereka tidak mengawasi atau memperlakukannya dengan baik di penjara," kata Montoya kepada El Comercio (h/t The Telegraph), lalu menuntut pemerintah setempat untuk segera membebaskan anaknya itu.

Setelah melakukan serangkaian tes, pihak rumah sakit menyatakan memang ada indikasi Jimenez tidak menderita katalepsi. Ia mengalami overdosis, ditambah hipotermia yang parah sehingga tanda-tanda vitalnya tak terdeteksi.

Bukan yang pertama

Kejadian hidup kembali dari kematian ini bukanlah kasus yang pertama. Awal 2014 seorang petugas rumah pemakaman kaget melihat seorang "mayat" menendang kantung tempat ia disimpan.

Kantung itu berisi mayat penderita penyakit koroner bernama Walter Williams yang dinyatakan telah meninggal karena denyut jantungnya tak terdeteksi. Namun ketika akan dibalsem, pria berumur 78 tahun tersebut bernapas dan hidup kembali.

Kemudian pada akhir tahun 2014 kasus seperti ini terjadi juga pada seorang wanita lanjut usia di Polandia. Janina Kolkiewicz dinyatakan meninggal setelah diperiksa dokter.

Tubuhnya kemudian sudah dibawa ke kamar mayat dan dipersiapkan untuk pemakamannya dalam waktu dua hari lagi. Namun secara mengejutkan Kolkiewicz hidup kembali dan menjalani hidup secara biasanya.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.