Tas misi Apollo 11 akan dilelang, harganya bisa capai Rp53 miliar

Tas dengan label "Lunar Sample Return" ini dibawa astronaut Amerika Serikat, Neil Armstrong, pada pendaratan pertama di Bulan.
Tas dengan label "Lunar Sample Return" ini dibawa astronaut Amerika Serikat, Neil Armstrong, pada pendaratan pertama di Bulan.
© Richard Drew /AP Photo

Apakah Anda menggemari pernak-pernik penjelajahan antariksa? Punya uang lebih dari USD2 juta (Rp26,6 miliar) yang tak terpakai? Bersiaplah.

Tas Bulan yang dibawa oleh astronaut ternama Amerika Serikat, Neil Armstrong, saat mendarat di Bulan untuk pertama kalinya pada 1969, akan dilelang di New York pada Kamis (20/7/2017).

Tas itu digunakan untuk menampung contoh batu dan debu dari kawasan di Bulan yang disebut Sea of Tranquility. Demikian dilansir Daily Mail (13/7/2017).

Lelang akan dilakukan di rumah lelang internasional Sotheby's, sekaligus menandai ulang tahun ke-48 pendaratan bulan pertama yang jatuh pada 20 Juli. Tas bulan tersebut, beserta debu di dalamnya, diharapkan mencapai nilai antara USD2 juta hingga USD4 juta (Rp26,6 miliar-Rp53 miliar).

Lelang tersebut, kata Jim Hull, kepala pameran dan artefak di NASA, merupakan penjualan legal pertama dari artefak yang dibawa pada misi ke Bulan tersebut.

Beberapa benda yang berkaitan dengan misi Apollo 11 itu, termasuk batuan dan debu bulan, diyakini telah terjual di pasar gelap, walau ada hukum yang membatasi penjualan barang tersebut.

Tas berukuran 30,5x21,5 cm bertuliskan "Lunar Sample Return" itu telah mengalami perjalanan panjang setelah kembali ke Bumi hingga pelelangan ini.

Setelah sampai di Bumi, keberadaan tas tersebut tak terdeteksi hingga tahun lalu. Saat itu pemerintah AS dan NASA baru menyadari bahwa mereka telah melelang benda bersejarah itu dengan harga murah pada 17 Februari 2015.

Pembelinya adalah Nancy Lee Carlson, seorang pengacara dari Illinois, pada 17 Februari 2015. Saat itu ia membelinya dengan harga USD995 atau sekitar Rp13 juta saja.

Sebelumnya, tas itu menjadi salah satu barang yang diduga dicuri oleh Max Ary, pendiri dan mantan direktur Kansas Cosmosphere dan Space Center di Hutchinson, Kansas, Amerika Serikat.

Benda itu ditemukan saat rumah Ary digeledah pada 2003. Pada 2006 Ary dijatuhi hukuman penjara selama tiga tahun dan denda USD130.274.

Kekacauan birokrasi menyebabkan benda bersejarah itu kemudian malah dilelang oleh pemerintah dan Carlson menjadi pemenangnya.

Pemerintah AS kemudian berusaha mengambil kembali tas tersebut melalui pengadilan. Akan tetapi, seperti dipaparkan Chicago Tribune (1/3), hakim federal kemudian memenangkan Carlson dan memerintahkan NASA untuk mengembalikan tas itu padanya.

Sebenarnya tak ada yang istimewa dari bahan pembuat tas tersebut. Namun nilai sejarahnya yang amat besar membuat harganya diperkirakan bakal meroket. Apalagi masih ada sisa debu Bulan di dalamnya.

Menurut Sotheby's kepada The Daily Star (17/7), ramainya pemberitaan kasus tersebut membuat banyak orang yang menghubungi Calrson untuk membeli tas tersebut. Oleh karena itu, Carlson memutuskan untuk melelangnya.

Mengutip Newsmax (13/7), NASA masih berharap tas tersebut tak berakhir di tangan warga sipil.

"Artefak ini penting, tidak hanya unsur nilai ilmiahnya, tapi juga karena ini merupakan puncak dari usaha nasional yang besar yang melibatkan astronaut yang mempertaruhkan hidup mereka dalam upaya untuk mencapai tindakan paling signifikan yang pernah dicapai manusia," kata William Jeffs, juru bicara divisi astromaterial NASA.

Selain tas itu, akan dilelang juga foto astronaut Buzz Aldrin yang diambil Armstrong dan dokumentasi rencana penerbangan Appolo 11 dari Bulan ke Bumi.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.