PEMASARAN

Universitas IPB? Ya, yang di Bogor itu lho...

| Tito Sigilipoe /Beritagar.id

REDUNDAN | Ada dua hal menarik dari branding Institut Pertanian Bogor di Jawa Barat. Pertama, nama yang berulang: IPB University. Dalam percakapan awam usil, "Universitas kok institut." Kedua, penginggrisan dan pengindonesiaan.

Nama berulang juga terjadi pada perguruan tinggi (perti) lain — biasanya swasta — serta sejumlah jenama, korporat, dan penyebutan benda dalam percakapan sehari-hari (lihat komik).

Untuk perti, polanya adalah penyisipan abreviasi nama lama ke dalam nama baru. Salah satu pelopor ada di Yogyakarta, sebuah perti negeri. Akademi Seni Rupa Indonesia, yang disingkat ASRI, pada 1968 menjadi sekolah tinggi, dan kemudian jadilah STSRI "ASRI". Ya, pakai tanda petik. Pada 1980-an namanya menjadi ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta — terhimpun bersama AMI (musik) dan ASTI (tari).

Tentang penginggrisan nama IPB, sebelumnya adalah Bogor Agricultural Institute kemudian Bogor Agricultural University karena keragaman program studi, tak sebatas pertanian.

Lantas untuk mempermudah pengucapan dan meringkas penulisan, bulan ini jadi IPB University. Bagi para pemangku kepentingan (stakeholders) di IPB, kata "pertanian" dari "P" sering diartikan secara sempit oleh calon mahasiswa maupun orang tuanya.

Penginggrisan nama lembaga adalah bagian dari pergaulan internasional. Bagi media luar negeri juga akan lebih mudah jika setiap lembaga, termasuk partai politik, punya versi nama Inggris. Lantas media luar tingga menambahan abreviasi maupun akronim versi Indonesia.

Namun dari sisi media di Indonesia, soal pengindonesiaan nama lembaga di luar negeri — termasuk nama perti — masih bikin kagok. Jika pedomannya adalah siaran pers berbahasa Indonesia dari kedutaan asing di Jakarta, ternyata tak semua nama terindonesiakan.

Salah satu naskah siaran pers Kedutaan Besar Amerika Serikat memuat rentetan ini dalam selarik kalimat: "... Universitas Columbia, Harvard School of Public Health, Texas A&M."

Hal sama terjadi pada berita berbahasa Indonesia dari media asing versi Indonesia. Anda bisa mencarinya di VOA Indonesia, Deutsche Welle Indonesia, dan BBC Indonesia.

Akan tetapi kekagokan tak terjadi pada media asing — bukan hanya yang berbahasa Inggris — saat mengalihbahasakan nama perti di Indonesia ke dalam bahasa mereka. Apakah Anda tahu sebabnya?

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR