PILPRES 2019

Yang menggosok dan yang cuek dalam kerusuhan

Politik identitas itu mesiu sejak sebelum pemilu. Saat kerusuhan, mesiu itu pun menebal. Lalu kukuhlah bingkai: perintah menindas muslim.
Politik identitas itu mesiu sejak sebelum pemilu. Saat kerusuhan, mesiu itu pun menebal. Lalu kukuhlah bingkai: perintah menindas muslim. | Tito Sigilipoe /Beritagar.id

GOSOK | Sesuatu yang hangat perlu digosok agar menjadi panas. Dalam kerusuhan di Jakarta 21-22 Mei kemarin gosokan itu terlihat dan terasa.

Seperti halnya pembingkaian diri kubu pasangan capres 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, bahwa pihaknya adalah saluran aspirasi muslim Indonesia, protes terhadap kemenangan Joko Widodo - Ma'ruf Amin juga bernuansa begitu.

Maka terlihatlah karangan cerita ada upaya membakar masjid. Pemosisian korban kerusuhan pun sebagai muslim, seperti kata Amien Rais. Padahal misalkan benar, penembak tak bertanya dulu apa agama si korban, lalu jawaban akan menentukan tarikan picu.

Di media sosial berseliweran info sesat yang memanasi sentimen primordial, terutama agama dan ras. Termasuk juga gambar personel Brimob yang dibilang impor dari Tiongkok.

Yang tak peduli gosokan, dan dibutuhkan polisi maupun demonstran, adalah penjaja kopi starling (setarbak keliliing) dan bakso. Setarbak itu pelafalan untuk Starbucks.

Catatan Redaksi: teks komik telah direvisi, tanggal kerusuhan menjadi 21-22 Mei 2019.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR