PILPRES 2019

Yang tersurat dan tersirat dalam 'Siap, Presiden!'

Video TKN menyalami Jokowi "Siap, Presiden!" mengundang aneka tafsir. Dia memang presiden. Tapi bisa mengesalkan bagi yang tersindir.
Video TKN menyalami Jokowi "Siap, Presiden!" mengundang aneka tafsir. Dia memang presiden. Tapi bisa mengesalkan bagi yang tersindir. | Salni Setyadi /Beritagar.id

TAFSIR | Bayangkanlah piringan hitam atau kaset: ada sisi A dan sisi B. Maka dalam sisa keriuhan pasca-pencoblosan Pilpres 2019 ini sisi A berupa cerita video calon presiden Prabowo Subianto. Lalu sisi B berisi kisah video capres petahana Joko "Jokowi" Widodo.

Video dalam Sisi A beredar sehari setelah Pemilu 17 April lalu, dan kubu Prabowo menolak hasil hitung cepat. Dalam video, ada barisan pria berseragam Persatuan Purnawirawan Indonesia Raya antre menyalami Prabowo. Satu per satu memberi hormat, lalu mengucapkan salam, "Siap, Presiden!"

Mereka memanggil Prabowo sebagai presiden. Prabowo pun sudah menyatakan diri memenangi pilpres. Kubu lawan menertawai adegan tanpa canda itu.

Lalu di media sosia beredar meme menirukan adegan itu — dari acara resepsi pengantin sampai sekelompok remaja bersarung di halaman gedung. Semuanya dalam suasana cengengesan tanpa takzim.

Nah, lalu tentang sisi B. Berisi video yang beredar akhir pekan lalu. Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf antre menyalami Jokowi dengan lagak meniru video sisi A. Penuh hahahihi.

Sebuah meme bukan oleh warga biasa. Melibatkan presiden. Direkam di Istana Negara. Jokowi hanya tersenyum, kadang tertawa kecil, dan akhirnya menggeleng-geleng pelan seperti bapak menghadapi ulah anaknya yang nakal tapi jenaka.

Adakah yang salah? Adalah fakta, Jokowi masih presiden. Bahkan misalnya dia kalah pilpres pun dia belum menyerahkan jabatan. Boleh dong disapa "Siap, Presden!"

Bagi kubu Barisan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, video TKN itu tak elok. Menurut Ferdinand Hutahaean, juru bicara BPN, video itu bisa dianggap memperolok Prabowo dan memanaskan suhu politik.

Video dalam sisi A (Prabowo) mengundang tafsir lalu ejekan. Video dalam sisi B (Jokowi) juga mengundang tafsir sebagai pembalasan terhadap Prabowo yang merasa sebagai pemenang pilpres. Menghibur bagi pendukung Jokowi. Menyakitkan bagi pendukung Prabowo.

Akan tetapi dalam sakit hati kubu Prabowo tak ada jurus tangkisan kuat, selain menyayangkan atau membelokkan masalah ke isu melecehkan purnawirawan. Persoalan teks dan konteks terus mengalir selama pekan ini.

Tentu tak semua pendukung Jokowi girang dengan video sisi B. Misalnya Ahmad Sahal, pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Amerika. Dia tak nyaman dengan video itu.

Bagi Sahal, misalnya video itu bikinan TKN, maka tak mewakili Jokowi yang berfalsafah Jawa "menang tanpa ngasoraké" — menang tanpa merendahkan.

Hmm... pilpres yang panas. Masing-masing kandidat direpoti oleh ulah pendukung. Dan jika kita bertanya siapa yang memulai, bahkan siapa paling ofensif hingga usai pencoblosan, masing-masing kubu akan saling tuding. Namun jejak digital di media sosial, misalnya tagar di Twitter, dapat dikelompokkan menjadi data.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR