Ekonomi kreatif menuntut kreativitas sebagai modal utama daya saing individu. Dalam skala besar, menunjukkan daya saing sebuah bangsa.

Perkembangan teknologi informasi telah memudahkan komunikasi, dan mendatarkan dunia. Persaingan global memacu ekonomi dunia ke era kreativitas dan inovasi. Manusia dituntut menghasilkan produk dengan nilai tambah tinggi dalam kegiatan ekonomi.

Globalisasi industri berbasis kreativitas inilah dasar kelahiran ekonomi kreatif. Ekonom Inggris, John Howkins, menyadarinya saat melihat nilai produk Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Amerika Serikat pada 1997 mencapai $414 miliar AS; ekspor tertinggi saat itu.

Ekonomi kreatif dijelaskan sebagai sebuah penciptaan nilai tambah berbasis ide yang lahir dari kreativitas sumber daya manusia (orang kreatif) dan berbasis pemanfaatan ilmu pengetahuan, termasuk warisan budaya dan teknologi (Menparekraf, 2014).

Lalu dari mana asalnya kreativitas? Prof. Dr. Primadi Tabrani, sejak 1970-an telah memperkenalkan konsep integrasi kemampuan fisik-kreatif-rasio lewat apa yang disebutnya Limas Citra Manusia (Proses Kreasi, Apresiasi, Belajar, 2000). Integrasi kemampuan dasar manusia ini idealnya tercapai pada masa dewasa, saat kemampuan berpikirnya tak lagi sektoral.

Sistem pendidikan turut bertanggung jawab mengembangkan tiga aspek ini secara seimbang. Mulai dari pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi. Pendidikan seharusnya menciptakan manusia yang utuh; secara fisik, kreatif, dan rasio. Kehilangan kreativitas akan menurunkan kualitas intuisi manusia sehingga hanya akan menghasilkan robot belaka.

Guru Besar Seni Rupa ini pernah berpesan, "Kalau pendidikan kita tidak banyak memberi ruang kreatif, maka pada masa depan, kita akan banyak kekurangan insan-insan kreatif untuk mendukung tumbuhnya industri kreatif," ucapnya. (Kompas.com, 25/5/2009)

Kini terbukti, gelombang baru ekonomi kreatif menuntut kreativitas sebagai modal utama daya saing individu. Dalam skala besar, menunjukkan daya saing sebuah bangsa.

Pada praktiknya, ekonomi kreatif di Indonesia dibagi dalam 16 subsektor (2015). Di antaranya Fashion, Kuliner, dan Kriya. Ketiga subsektor tengah berkembang pesat, dan pemerintah sedang mendorong sektor ekonomi kreatif lain agar bisa bertumbuh.

Presiden Joko Widodo optimistis bahwa ekonomi kreatif kelak menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Bila pada 2015 kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB Indonesia sebesar 7,38 persen, dalam RPJMN 2015-2019, angkanya diharapkan naik menjadi lebih dari 12 persen.

Untuk mencapainya, perlu kerja keras multipihak. Kualitas sumber daya manusia sebagai penopang ekonomi kreatif, masih perlu ditingkatkan dan sebarannya diperluas secara proporsional. Di samping itu, tentu saja, badan usaha tempat mereka bernaung yang masih butuh perhatian.

Pekerjaan rumah akhirnya bermuara pada Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atau Intelectual Property (IP). Para pelaku industri kreatif harus mendapat perlindungan hukum menurut UU tentang Hak Cipta, UU tentang Desain Industri, dan UU tentang Merek. Di sisi lain, jangan sampai melanggar ketentuan ketiga undang-undang tersebut.

Sumber daya ekonomi di balik kreativitas

Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) yang besar menunjukkan sumber daya ekonomi yang besar. Bila digabung dengan nilai ekspornya berdasarkan harga berlaku, bisa menunjukkan pendapatan yang bisa dinikmati oleh penduduk suatu negara.

PDB merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. Kontribusi sektor ekonomi kreatif mencapai 7,38 persen, terhadap PDB Indonesia sebesar Rp11.540 triliun pada 2015.

Kontribusi PDB ekonomi kreatif menunjukkan peningkatan dalam kurun waktu 2010-2015. Besaran PDB ekonomi kreatif naik dari Rp525,96 triliun pada 2010 menjadi Rp852,24 triliun pada 2015, atau meningkat rata-rata 10,14 persen per tahun.

Terdapat tiga sub sektor yang memberikan sumbangan terbesar, yaitu dari subsektor Kuliner sebesar Rp209 triliun (32,5 persen), Fashion sebesar Rp182 triliun (28,3 persen), dan kerajinan atau Kriya sebesar Rp93 triliun (14,4 persen).

Pada periode 2010-2014 subsektor Televisi dan Radio pertumbuhannya selalu paling besar. Namun pada 2015, posisinya digeser subsektor Desain Komunikasi Visual yang meraih pertumbuhan sebesar 10,28 persen.

Nilai ekspor bertumbuh pada masa krisis

Selama periode 2010 sampai 2015, ekspor nonmigas Indonesia cenderung menurun dari tahun ke tahun. Penurunan terbesar pada 2015 yaitu sebesar 9,71 persen. Komoditas ekonomi kreatif, dalam neraca perdagangan digolongkan sebagai komoditas nonmigas.

Berbeda dengan ekspor pada umumnya, ekspor ekraf justru cenderung meningkat. Selama periode 2010 sampai 2015, ekspor ekraf hanya mengalami penurunan nilai ekspor pada 2012.

Secara rata-rata ekspor ekraf mengalami peningkatan sebesar 7,67 persen per tahun selama periode 2010-2015. Angka ini jauh lebih besar jika dibandingkan peningkatan ekspor nonmigas yang rata-ratanya hanya mencapai 0,99 persen per tahun.

Sayangnya tidak semua komoditi subsektor ekraf datanya tersedia dalam seri data ekspor Indonesia. Selama periode 2010-2015 hanya ada tujuh subsektor ekraf yang tercatat, yaitu Fashion; Kriya; Kuliner; Penerbitan; Seni Rupa; Musik; dan Film, Animasi dan Video.

Subsektor Fashion sangat mendominasi nilai ekspor pada 2015, dengan capaian $10,9 miliar AS, atau 90 persen dari tujuh subsektor yang tercatat. Selanjutnya Kriya dan Kuliner, masing-masing dengan nilai ekspor $7,3 miliar dan $1,1 miliar AS.

Meski demikian, pertumbuhan subsektor Fashion pada 2015 lebih rendah dari Kriya yang meningkat sebesar 14,16 persen dibandingkan pada 2014. Pertumbuhan ekspor tertinggi juga dicatat subsektor ini, pada 2014 sebesar 48,59 persen dibanding tahun sebelumnya.

Banyak tak berbadan usaha, andalkan modal sendiri

Sampel dalam survei SKEK 2016 didominasi oleh usaha/perusahaan yang tidak berbadan usaha, kecuali pada subsektor Televisi dan Radio. Subsektor Periklanan, Arsitektur, Film, Animasi dan Video, cenderung telah memiliki badan usaha.

Sebagian besar perusahaan sampel, membangun usahanya dari modal sendiri (92 persen) dan yang berstatus PMA maupun PMDN masih relatif rendah. Kondisi ini disimpulkan rendahnya minat investasi domestik dan asing pada usaha/perusahaan ekonomi kreatif.

Apabila dikelompokkan berdasarkan jumlah tenaga kerja, hampir separuh usaha/perusahaan yang menjadi sampel SKEK 2016 adalah usaha/perusahaan dengan jumlah tenaga kerja 5-19 orang dan usaha dengan jumlah tenaga kerja 1-4 orang.

Dari sisi subsektor, hasil SKEK 2016 memperlihatkan sebarannya belum merata di 34 provinsi di Indonesia. Dari total 6.000 sampel survei di seluruh Indonesia, persentase sebaran sampel terbanyak adalah Kriya, mencapai 718 responden atau 11,98 persen.

Subsektor terpopuler berikutnya adalah Kuliner (10,65 persen), dan Fashion (10,03 persen). Sementara itu, persentase sebaran sampel terendah di subsektor Desain Komunikasi Visual (1,15 persen), Arsitektur (1,84 persen), dan Desain Interior (1,84 persen).

Ketenagakerjaan ekonomi kreatif didominasi usia dewasa

Dari 100 orang penduduk bekerja, sekitar 14 orang bekerja pada sektor ekonomi kreatif. Dalam periode 2010-2015, tren pekerja ekonomi kreatif cenderung menurun pada 2010. Namun sejak 2011 hingga 2015, meningkat hingga 13,90 persen. Sekitar 16 juta tenaga kerja terserap di bidang ekonomi kreatif pada 2015.

Pertumbuhan tenaga kerja di setiap subsektor ekonomi kreatif dari tahun ke tahun mengalami pertumbuhan positif, kecuali subsektor Kriya. Pertumbuhan rata-rata tenaga kerja subsektor Kuliner paling tinggi, mencapai 4,25 persen per tahun.

Empat kategori subsektor dengan jumlah tenaga kerja terbesar, yaitu Kuliner, Kriya, Fashion, dan Lainnya. Kategori Lainnya, merupakan gabungan dari 13 subsektor. Pada 2015, Kuliner menyerap 7,41 juta orang, Fashion dan Kriya menyerap masing-masing 3,86 juta dan 3,64 juta orang. Sedangkan subsektor Lainnya hanya menyerap 1,05 juta orang.

Penduduk usia dewasa (25-59 tahun) paling mendominasi sektor ekonomi kreatif, mencapai 75,47 persen pada 2015. Trennya dari 2010 hingga 2015 cenderung fluktuatif. Sempat menurun pada 2012, tetapi meningkat hingga 2014, menjadi 75,78 persen. Penurunan kembali terjadi pada 2015.

Sayangnya, tenaga kerja ekonomi kreatif lebih didominasi oleh Blue Collar; tenaga usaha penjualan, tenaga usaha jasa, tenaga produksi, dan pekerja kasar. Sedangkan tenaga kerja White Collar, yang terdiri dari tenaga profesional, atau teknisi, hanya mencapai 7,8 persen. Pola ini sesuai ketenagakerjaan di Indonesia pada umumnya.

Menyongsong HKI sebagai basis ekonomi kreatif

Hak Kekayaan Intelektual (HKI) merupakan hak privat (private rights) terhadap hasil dari kegiatan intelektual atau hasil olah pikir manusia dalam bidang seni, sastra, ilmu pengetahuan, simbol, temuan teknologi atau informasi.

Pelaku ekonomi kreatif bebas mengajukan permohonan atau mendaftarkan karya intelektualnya atau tidak. Objek yang diatur adalah karya-karya yang timbul atau lahir karena kemampuan intelektual manusia.

Secara garis besar HKI terbagi dalam dua bagian, yaitu (1) Hak cipta; dan (2) Hak kekayaan industri (industrial property rights).

Hak kekayaan industri, terbagi lagi menjadi hak paten, desain industri, merek, desain tata letak sirkuit terpadu, rahasia dagang, penanggulangan praktik persaingan curang, dan perlindungan varietas tanaman.

Meski HKI menjadi basis pengembangan ekonomi kreatif, sebagian besar pelaku (88,95 persen) belum memiliki HKI. Pelaku ekonomi kreatif yang telah mengajukan HKI dan disetujui Direktorat Jenderal HKI, mayoritas berjenis Hak Cipta.

Subsektor Seni Rupa dan Televisi & Radio paling banyak disetujui HKI-nya oleh Ditjen HKI, sedangkan subsektor yang paling sedikit yang disetujui HKI-nya adalah subsektor Desain Interior, dan Kriya.

Selengkapnya