LINGKUNGAN HIDUP

3 Ton kulit kerang hijau ditebar untuk jernihkan Teluk Jakarta

Foto Ilustrasi. Seorang warga melintas di samping kapal yang bersandar di laut yang tercemar sampah plastik di Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (28/11/2018).
Foto Ilustrasi. Seorang warga melintas di samping kapal yang bersandar di laut yang tercemar sampah plastik di Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (28/11/2018). | Reno Esnir /Antara Foto

Sebanyak 14 komunitas se-DKI Jakarta dan Forum CSR DKI Jakarta menebar tiga ton kulit kerang hijau di perairan Ancol, Jakarta Utara, Minggu (6/10/2019). Agenda rutin Restorasi Kerang Hijau itu dilakukan untuk menumbuhkan kepedulian dalam upaya menjernihkan kembali perairan Teluk Jakarta.

Manajer Komunikasi Korporat PT Pembangunan Jaya Ancol, Rika Lestari mengatakan, Restorasi Kerang Hijau merupakan program konservasi Ancol yang sudah dilakukan sejak 2018 untuk mengembalikan keanekaragaman hayati perairan Teluk Jakarta.

"Upaya ini tidak bisa dilakukan sendiri, perlu keterlibatan banyak pihak. Kami mengajak berbagai pihak mengkampanyekan Restorasi Kerang Hijau sebagai sebuah gerakan. Kegiatan ini memperbesar peluang kualitas air laut Teluk Jakarta menjadi semakin baik," ungkap Rika, Minggu (6/10).

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian dan eksperimen tim konservasi Ancol pada pertengahan tahun lalu, diketahui 1 kilogram kerang hijau mampu menyaring air sebanyak 10 liter per jam.

Bahkan, sebanyak 96 kilogram kerang hijau hasil restorasi yang dilakukan juga telah mampu menyaring 960 liter air laut secara alami dan menurunkan nitrogen sebanyak 21 miligram per jam.

"Target kami tahun ini mendapatkan pertumbuhan 1.000 kg kerang hijau, sehingga akan ada 10 liter air yang difilterisasi setiap jam secara alami, tanpa bantuan teknologi maupun manusia. Dengan keterlibatan Forum CSR DKI Jakarta, Rumah Millennials, dan banyak pihak, kami berharap dapat melampaui target tersebut," tandasnya.

Soal jumlah polutan di laut Jakarta --termasuk kawasan Pantai Ancol--hasil penelitian pakar kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) beberapa tahun lalu menunjukkan, air laut di Teluk Jakarta mengandung silikat sebesar 52.156 ton, fosfat 6.741 ton, dan nitrogen 21.260 ton.

Dengan adanya kerang hijau, polutan logam berat seperti merkuri (Hg), cadmium (Cd), timbal (Pb), krom (Cr), dan timah (Sn) dapat terserap.

Metode ram kawat

Penebaran tiga ton kulit kerang hijau di perairan Ancol (6/10), menggunakan metode ram kawat yang dipasang sebagai media tanam tumbuhnya kerang hijau di perairan Jakarta.

Pengembalian populasi kerang hijau di wilayah pesisir diharapkan berdampak positif pada meningkatnya kualitas air dan biodiversitas serta jumlah biota yang ada di Laut Kawasan Ancol.

Ketua Umum Forum CSR DKI Jakarta, Mahir Bayasut mengungkapkan, tercemarnya Teluk Jakarta dari berbagai macam limbah yang mengandung logam berat berbahaya merupakan tanggung jawab bersama semua lapisan masyarakat di DKI Jakarta.

"Kami mengapresiasi langkah Manajemen PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk yang telah menginisiasi Restorasi Kerang Hijau dan harapannya kegiatan ini dapat menginspirasi perusahaan lainnya untuk lebih peduli kepada masalah lingkungan di DKI Jakarta," ungkapnya.

Sebelum ditebar ke laut, para peserta terlebih dahulu diajak untuk membuat media penyimpanan kulit kerang hijau yang terbuat dari kawat ram berukuran 50 cmx30 cmx10 cm lalu diisi dengan kulit kerang seberat 20-30 kg.

Kulit kerang yang sudah dimasukkan ke dalam kawat ram kemudian ditenggelamkan ke perairan Teluk Jakarta di kedalaman 2-3 meter. Kulit kerang yang tersimpan dalam kawat ram akan menjadi media tumbuh biota laut termasuk kerang hijau.

Tumbuhnya habitat kerang hijau hasil restorasi diharapkan membuat partikel yang melayang di air laut terserap. Air laut juga akan menjadi lebih jernih, sehingga ekosistem bawah laut akan terjaga.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR