PILPRES 2019

Berembusnya wacana rekonsiliasi Jokowi-Prabowo

Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto berjabat tangan saat mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019).
Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto berjabat tangan saat mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019). | Bagus Indahono /EPA-EFE

Menjelang berakhirnya sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) di Mahkamah Konstitusi (MK), wacana yang meminta agar dua pihak yang berperkara, Joko Widodo dan Prabowo Subianto, untuk berekonsiliasi menguat. Rekonsiliasi dipandang perlu untuk mendinginkan suasana dan mengakhiri perselisihan antara pendukung dua calon presiden tersebut.

"Sekarang ini kan situasinya sedang panas. Dua orang itu perlu bertemu agar pendukungnya enggak terus-menerus menyalahkan yang lain. Ya untuk meredakan kondisi politik saat ini juga," kata Arif, seorang mahasiswa di Jakarta, kepada Antaranews (24/6/2019).

Dua warga lainnya, Lulu dan Kevin, juga berharap agar pendukung kedua kubu tidak ribut lagi dan mau menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Pertemuan antara presiden petahana Joko "Jokowi" Widodo dengan Prabowo diharapkan bisa menjadi simbol perdamaian, sehingga masyarakat bisa rukun kembali.

Direktur Pusat Studi Konstitusi (Pusako), Feri Amsari, dikutip Kompas.com, juga menyarankan agar rekonsiliasi dilakukan segera usai keputusan MK dibacakan. Ia berharap kedua pihak menerima keputusan MK dan tidak berlanjut dengan pemidanaan para saksi.

Harapan terjadinya pertemuan antara Jokowi dengan Prabowo juga disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Ia bahkan menyarankan agar pertemuan terjadi sebelum MK mengeluarkan keputusan mereka, yang dijadwalkan pada Jumat (28/6) nanti.

"Ya harapan kita sih sebelum sidang MK (selesai), itu lebih bagus lagi, sehingga suasana jadi sejuk. Kita semua masyarakat Indonesia sudah bosan dengan kondisi yang seperti ini," kata mantan Panglima TNI tersebut.

Moeldoko, yang juga wakil ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan no. 01 Jokowi-Ma'ruf Amin, mengklaim pihaknya berupaya terus melakukan pendekatan kepada Prabowo, calon presiden no. 02.

Dikutip Media Indonesia (21/6), Moeldoko menyatakan komunikasi antara kedua kubu sudah mulai terbuka dan diharapkan Jokowi-Prabowo bisa bertemu dalam waktu dekat.

Pertemuan antara dua tokoh politik tersebut, menurut Arsul Sani, yang juga wakil ketua TKN, penting untuk menyatukan kembali masyarakat yang terbelah-belah akibat pemilihan presiden. Namun ia menolak jika istilah rekonsiliasi berarti memang terjadi permusuhan antara kedua pihak.

Jokowi dan Prabowo, kata Arsul, sebelumnya memang tidak bermusuhan, malah berhubungan amat baik. "Istilah rekonsiliasi ini lebih untuk menunjukkan bahwa keterbelahan anak-anak bangsa ini akibat pilpres harus diakhiri dan semua elemen bersatu menatap masa depan Indonesia yang lebih baik," tegasnya.

Ia melanjutkan, tim sukses kedua kubu terus berkomunikasi dan mengupayakan agar pertemuan itu segera terwujud. Mereka tengah mencari waktu yang pas karena kesibukan kedua tokoh tersebut.

Saat ini Presiden Joko Widodo tengah sibuk dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean di Bangkok, sementara Prabowo tengah berada di luar negeri.

Sementara itu, kubu Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno berpandangan masih terlalu prematur untuk membicarakan soal kemungkinan pertemuan antara Prabowo dengan Jokowi.

Saat ini, seperti dikatakan juru bicara BPN Dahnil Aznar Simanjuntak dan Ketua DPP Gerindra Habiburokhman, pihak mereka masih fokus pada persidangan di MK.

"Pak Prabowo sampai sebelum pergi ke Jerman kemarin mengatakan belum berpikir untuk menemui Pak Jokowi," kata Dahnil dalam Tribunnews.

"(Rekonsiliasi) Masih terlalu prematur untuk dibahas, yang penting kedua belah pihak sepakat dahulu untuk bertarung secara fair di MK," tandas Habiburokhman.

Kalaupun ingin melakukan rekonsiliasi, ia memastikan Prabowo bakal lebih dulu meminta pendapat para kader karena hal tersebut termasuk bakal menjadi sebuah keputusan strategis besar.

Hal lain terkait situasi politik saat ini yang menarik perhatian masyarakat adalah video yang diunggah Wakil Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN), Faldo Maldini, ke layanan berbagi video, YouTube. Video tersebut diberinya judul "Prabowo (Mungkin) Gabung Jokowi".

Dalam video tersebut Faldo menjelaskan soal kemungkinan masuknya wakil Gerindra dalam kabinet Jokowi, jika sang petahana dinyatakan sebagai pemenang Pilpres 2019.

"Itu realistis. Itu pilihan bagi parpol. Berada dalam lingkaran kekuasaan tentu lebih baik," ujarnya dalam video berdurasi 18 menit, 43 detik tersebut.

Rumor mengenai pemberian "jatah" untuk Gerindra memang tengah ramai dibicarakan beberapa hari belakangan ini. Tirto.id, misalnya, mengabarkan adanya tawaran posisi dua menteri, satu kursi Wakil Ketua MPR, dan dua jabatan di Dewan Pertimbangan Presiden untuk kubu Prabowo-Sandiaga. Tapi kabar itu belum terkonfirmasi.

Kabar tersebut kemungkinan dipicu oleh kenyataan bahwa beberapa partai pendukung Jokowi-Ma'ruf tidak berhasil meloloskan politisi mereka ke parlemen. Mereka tak memenuhi parliementary threshold sebesar 4 persen yang ditetapkan, seperti PKPI, PSI, Hanura, dan Perindo.

Pada awal bulan ini, Wakil Sekjen Gerindra, Andre Rosiade, memang menyatakan adanya tawaran posisi menteri kepada mereka. Namun Gerindra, menurutnya, tidak terpikir untuk menerima tawaran tersebut karena masih fokus pada sidang MK dan yakin menang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR