PEMINDAHAN IBU KOTA

Jadi lokasi ibu kota baru, Kalimantan tak bebas dari gempa

Presiden Joko Widodo (kanan) menerima katalog gempa bumi dan tsunami dari Kepala  BMKG Dwikorita Karnawati  saat membuka  Rakornas BMKG 2019 di Istana Negara, Jakarta, Selasa (23/7/2019).  BMKG menilai, Kalimantan tetap pulau paling aman dari gempa.
Presiden Joko Widodo (kanan) menerima katalog gempa bumi dan tsunami dari Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat membuka Rakornas BMKG 2019 di Istana Negara, Jakarta, Selasa (23/7/2019). BMKG menilai, Kalimantan tetap pulau paling aman dari gempa. | Wahyu Putro A /Antara Foto

Pulau Kalimantan ternyata tak bebas dari gempa bumi. Pulau yang rencananya akan menjadi tempat ibu kota baru itu ternyata dilewati tiga sesar.

Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono, tiga sesar atau patahan itu adalah Sesar Maratua, Sesar Mangkalihat, dan Sesar Paternoster.

Sesar Maratua dan Sesar Mangkalihat berada di wilayah Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur. Keduanya masih sangat aktif. Menurut catatan BMKG aktivitas kegempaannya cukup tinggi dan membentuk klaster sebaran pusat gempa yang berarah barat-timur.

Menurut hasil kajian Pusat Studi Gempa Nasional pada 2017, Sesar Mangkalihat memiliki potensi gempa hingga magnitudo skala M: 7,0. Guncangan gempanya berskala VI-VII MMI. "Artinya gempa yang terjadi dapat menimbulkan kerusakan tingkat sedang hingga berat di Semenajung Mangkalihat dan sekitarnya," kata Daryono, seperti dikutip dari Tempo.co, Jumat (23/8/2019).

Sedangkan Sesar Paternoster yang membujur dari barat ke timur, melintasi wilayah Kabupaten Paser. BMKG mencatat sesar ini masih sering memicu gempa. Pada 26 Oktober 1957, sesar ini memunculkan gempa berkekuatan M: 6,1 . Gempa tektonik yang terbaru adalah Gempa Longkali, Paser, pada 19 Mei 2019 dengan kekuatan M: 4,1. "Guncangannya sempat menimbulkan kepanikan masyarakat," ujar Daryono.

Secara terpisah, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyatakan, walau terdapat struktur sesar dan memiliki catatan aktivitas gempa bumi, tetapi secara umum Pulau Kalimantan masih relatif lebih aman jika dibanding daerah lain di Indonesia, seperti Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Papua.

Menurut Dwikorita, ada beberapa sebab kenapa Kalimantan masih relatif aman. Pertama, wilayah Pulau Kalimantan memiliki jumlah struktur sesar aktif yang jauh lebih sedikit daripada pulau-pulau lain di Indonesia.

Kedua, wilayah Pulau Kalimantan lokasinya cukup jauh dari zona tumbukan lempeng (megathrust), sehingga imbas guncangan yang mengenai Kalimantan tidak sekuat dengan daerah yang lebih dekat. Ketiga, beberapa struktur sesar di Kalimantan kondisinya sudah berumur tersier sehingga segmentasinya banyak yang sudah tidak aktif lagi dalam memicu gempa.

Walau demikian, antisipasi bencana tetap perlu dilakukan, khususnya di wilayah pesisir Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Tata ruang daerah pesisir harus berbasis mitigasi bencana, "Ini penting guna mengantisipasi bencana tsunami," katanya Sabtu (24/8/2019) seperti dinukil dari situs BMKG.

Pemerintah bakal memindahkan ibu kota. Daerah yang potensial menjadi ibu kota baru adalah Kalimantan. BMKG bersama Kementerian dan Lembaga terkait sedang menyiapkan sistem monitoring dan langkah-langkah mitigasi gempa bumi dan tsunami untuk calon wilayah ibu kota tersebut.

Misalnya memperkuat sistem monitoring gempa bumi di seluruh wilayah Indonesia. Tahun ini, BMKG akan memasang sensor gempa sebanyak 194 unit. Tahun 2020, BMKG bakal memasang sensor gempa sebanyak 154 unit untuk merapatkan jaringan monitoring gempa nasional termasuk di Kalimantan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR