HARI PAHLAWAN

Pahlawan nasional di antara shio Kuda dan bintang Kanser

Sejumlah warga mementaskan teatrikal pertempuran dalam drama kolosal Surabaya Membara di Jalan Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/11) menyambut Hari Pahlawan 10 November 2017.
Sejumlah warga mementaskan teatrikal pertempuran dalam drama kolosal Surabaya Membara di Jalan Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/11) menyambut Hari Pahlawan 10 November 2017. | Moch Asim /Antara Foto

Hari Pahlawan 10 November 2017. Beragam kegiatan masyarakat digelar untuk mengenang jasa pahlawan. Upacara, pemberian gelar pahlawan hingga memperdengarkan lagu Hymne Pahlawan di stasiun dan kereta rel listrik.

Di Istana Negara, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tokoh dari Nusa Tenggara Barat (NTB), Laksamana Malahayati tokoh dari Provinsi Aceh, Sultan Mahmud Riayat Syah dari Kepulauan Riau, dan Lafran Pane dari DI Yogyakarta.

Mereka dianggap pernah memimpin dan berjuang dengan mengangkat senjata atau perjuangan politik untuk merebut, mempertahankan, mengisi kemerdekaan, dan mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

"Tentu saja, sebesar apa pun penghargaan yang diberikan pemerintah, tidak akan pernah sebanding dengan kontribusi yang telah mereka berikan bagi bangsa ini. Tapi setidaknya, kita yang menikmati hasil perjuangan para pahlawan tetap mengingat mereka sepenuh hati," tulis Presiden Jokowi melalui laman Facebook-nya.

Dengan anugerah pahlawan baru itu, Indonesia memiliki 173 Pahlawan Nasional, terdiri dari 160 laki-laki dan 13 perempuan.

Selama tiga tahun menjabat, Presiden Joko Widodo telah memberikan anugerah 14 pahlawan nasional.

Pada 2014, pahlawan nasional diberikan kepada Letjen (Purn) Djamin Ginting (Sumatera Utara), Sukarni Karto Kartodiwirjo (Jawa Timur), Kyai Haji Abdul Wahab Hasbullah (Jawa Timur), dan HR Mohammad Mangoendprojo (Jawa Tengah).

Jokowi memberikan lima gelar pahlawan nasional pada 2015. Mereka adalah Bernard Wilhem Lapian (Sulawesi Utara), Mas Isman (Jawa Timur), Moehammad Jasin (Jawa Timur), I Gusti Ngurah Made Agung (Bali), Ki Bagus Hadikusumo (Yogyakarta).

Pahlawan nasional pada 2016 hanya bertambah satu orang, yaitu Kiai Haji Raden As'ad Syamsul Arifin dari Jawa Timur.

Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono --selama 10 tahun menjabat-- terdapat 41 pahlawan nasional baru.

Berdasarkan data yang diolah Lokadata Beritagar.id, Presiden Soeharto paling banyak memberikan gelar pahlawan nasional. Selama 32 tahun berkuasa, Soeharto telah menganugerahkan 56 pahlawan nasional.

Presiden Indonesia dan jumlah pahlawan nasional yang ditetapkannya.
Presiden Indonesia dan jumlah pahlawan nasional yang ditetapkannya. | Lokadata.beritagar.id /Pahlawan Center

Pahlawan nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

Presiden memberikan gelar pahlawan nasional kepada ahli waris atau pengusul pada peringatan Hari Pahlawan.

Gelar kepahlawanan diatur melalui Undang-Undang Nomor 20 tahun 2009 tentang gelar, tanda jasa, dan tanda kehormatan. Pelaksanaan Undang-Undang dijabarkan melalui Peraturan Pemerintah nomor 35 tahun 2010.

Hasil penelusuran Lokadata.beritagar.id, pahlawan nasional masih didominasi oleh sosok yang lahir di Pulau Jawa. Pahlawan nasional terbanyak disumbangkan dari orang yang dilahirkan di Jawa Tengah, 35 orang.

Jumlah pahlawan kian terkonsentrasi di pulau Jawa kalau memasukkan aktivitasnya, seperti Fatmawati. Pembuat bendera nasional pertama dan istri Presiden Soekarno itu menjadi satu-satunya pahlawan nasional kelahiran Bengkulu meski aktivitas yang menjadikannya pahlawan nasional lebih banyak di Jakarta.

Dari sisi waktu lahir, pahlawan nasional Indonesia ternyata banyak yang lahir pada 21 Juni- 22 Juli. Pahlawan nasional kita banyak yang memiliki zodiak Kanser (Cancer), 18 orang. Catatannya, dari 173 pahlawan nasional, hanya ada 140 orang yang data tanggal dan bulannya tersedia.

Jumlah pahlawan nasional berbintang Kanser itu sesuai dengan tren orang Indonesia yang banyak melahirkan pada 21 Juni - 22 Juli periode 1950-1989. Hampir 15 persen dari populasi lahir pada Juli dalam empat dekade itu.

Pola waktu lahir masyarakat Indonesia pada periode itu tampak dari data kelahiran dalam sensus Badan Pusat Statistik. Dalam empat dekade tersebut, masyarakat Indonesia paling banyak lahir pada bulan Juli.

Pola waktu lahir penduduk Indonesia mengalami pergeseran memasuki era 1990-an. Selama tiga dekade, 1990-2015, hasil sensus BPS menyebut, sebagian lahir pada Maret-April-Mei. Dalam ramalan astrologi dikitari oleh bintang Taurus, Gemini, dan Kanser.

Pahlawan nasional berdasarkan shio dan zodiak
Pahlawan nasional berdasarkan shio dan zodiak | Lokadata.beritagar.id /Pahlawan Center

Pada dekade 2000-2009 sempat mengalami pergeseran. Mayoritas kelahiran terjadi pada April dan Mei, dengan jumlah kelahiran mencapai 9,4 persen dari total populasi. Namun pada lima tahun terakhir, 2010-2015, kelahiran lebih banyak terjadi pada April, sebanyak 10 persen.

Beberapa pahlawan nasional yang memiliki bintang Kanser antara lain Abdul Halim, Abdoel Moeis, Abdul Rachman Saleh, Adam Malik Batubara, Agustinus Adisucipto, Moestopo, dan Muhammad Natsir.

Pahlawan nasional juga banyak yang memiliki shio Kuda, unsur ke tujuh setelah shio Ular sesuai dengan mitologi China yang dikenal dengan 12 shio. Secara garis besar shio Kuda digambarkan mempunyai fisik yang prima, kepintaran serta dianggap memiliki unsur keberuntungan.

Pahlawan nasional yang memiliki shio Kuda di antaranya Siswondo Parman, Abdul Harris Nasution, Andi Abdullah Bau Massepe, Arie Frederik Lasut, Oemar Said Tjokroaminoto, Hasanuddin, Radin Inten II, Iswahyudi, Cut Nyak Meutia, dan Mohammad Husni Thamrin.

Beberapa nama terkemuka, misalnya Soekarno memiliki bintang Gemini dan shio Kerbau. Adapun Mochammad Hatta bintang Leo dengan shio Macan.

Tentu saja, shio dan ramalan bintang tak menjadikan ukuran yang mengantarkan para tokoh itu menjadi pahlawan nasional.

"Mereka berkorban untuk kelahiran Indonesia dan merawatnya dengan peluh dan air mata. Pengorbanan dan jasa para pejuang bangsa tak mungkin untuk dilupakan," kata Presiden Jokowi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR