BISNIS RITEL

Penutupan 6 gerai Giant lantaran perubahan pola belanja konsumen

Konsumen berbelanja di Supermarket Giant Ekspres, Mampang Prapatan, Jakarta, Minggu (23/6/2019). Giant berencana menutup enam gerai di wilayah Jabodetabek yang akan dilakukan pada 28 Juli 2019.
Konsumen berbelanja di Supermarket Giant Ekspres, Mampang Prapatan, Jakarta, Minggu (23/6/2019). Giant berencana menutup enam gerai di wilayah Jabodetabek yang akan dilakukan pada 28 Juli 2019. | Dhemas Reviyanto /Antara Foto

Penutupan enam gerai Giant milik PT Hero Supermarket Tbk (HERO) diakui Direktur HERO Hadrianus Wahyu Trikusumo. Penyebabnya, peningkatan persaingan karena perubahan pola belanja konsumen.

Mereka memberi diskon 5-50 persen pada semua produk di enam gerai yang akan ditutup hingga 28 Juni. Gerai-gerai itupun disesaki pembeli pada beberapa hari terakhir.

Keenam gerai yang akan ditutup itu adalah Giant Express Pondok Timur; Giant Express Cinere Mall; Giant Express Mampang; Giant Extra Jatimakmur; Giant Extra Mitra 10 Cibubur; dan Giant Extra Wisma Asri. Adapun sepanjang 2018, HERO telah menutup 26 gerai.

"Ritel makanan di Indonesia mengalami peningkatan persaingan dalam beberapa tahun terakhir karena perubahan pola belanja konsumen," ungkap Hadrianus, Selasa (25/6/2019).

Kendati demikian, Hadrianus yakin bahwa sampai saat ini merek Giant masih menjadi brand yang kuat. Namun lantaran alasan tadi, HERO perlu melakukan adaptasi agar bisa bersaing secara efektif dengan menerapkan program multi-year transformation.

Strateginya, kata dia, HERO perlu mengubah dan menyegarkan kembali penawaran untuk pelanggannya.

Hingga 31 Mei 2019, HERO memiliki 125 gerai Giant. Artinya pada 28 Juli 2019 jika tidak ada penambahan gerai lainnya, total gerai Giant berkurang menjadi 119 gerai.

Penutupan gerai tentu, sambungnya, juga memberikan dampak bagi karyawan yang bekerja di enam gerai tersebut. Terkait hal itu, kata Hadrianus, HERO telah berkomunikasi dengan semua karyawan yang terlibat.

Terkait rencana ekspansi HERO, Hadrianus belum bisa mengungkapkan berapa gerai Hero maupun Giant yang akan dibuka di tahun ini. Yang pasti, tambahnya, ritel dengan konsep supermarket dan hypermarket tahun ini dinilai menghadapi tantangan berupa persaingan yang ketat.

Pelanggan yang mengubah cara berbelanja juga jadi sorotan manajemen HERO. Untuk itu, program multi-years transformation yang menjadi fokus HERO.

Di antaranya adalah melibatkan penataan ulang ruang usaha, meningkatkan kualitas, skala dan kesegaran di seluruh toko, dan menyesuiakan general merchandise untuk memberikan nilai lebih ke pelanggan.

Pada tahun 2018, pendapatan HERO turun tipis dari Rp13,03 triliun pada tahun 2017 menjadi Rp12,97 triliun. Bahkan kerugian perusahaan meningkat drastis dari Rp191,41 miliar pada 2017 menjadi Rp1,25 triliun pada 2018.

Sementara itu, hingga kuartal I 2019 pendapatan HERO naik tipis dari Rp3,04 triliun pada kuartal I 2018 menjadi Rp3,06 triliun. Sementara rugi tahun berjalan turun dari Rp4,13 miliar menjadi Rp3,52 miliar. Adapun selain Giant, HERO memiliki Guardian dan Ikea.

Karyawan kena imbas

Sejumlah karyawan Giant yang diwawancarai oleh media, termasuk JawaPos.com dan Katadata, membenarkan rencana penutupan toko tempat mereka bekerja. Semua karyawan telah dikabari manajemen melalui surat elektronik.

Seorang karyawan menyatakan bahwa bisnis Giant memang meredup dalam beberapa tahun terakhir. Sejak 2018, sebutnya, sudah ada 12 gerai yang ditutup.

"Paling frontal bulan ini. Tiba-tiba 6 toko. Kabarnya sih tahun ini target 24 toko yang ditutup. Dari 15.000 (seluruh karyawan secara nasional) katanya mau disisain 1.500 orang," beber karyawan yang meminta namanya tak disiarkan.

Beberapa karyawan lain menyatakan hingga kini belum jelas apakah mereka akan dipensiunkan, diberi pesangon, atau dialihkan ke perusahaan lain di PT HERO.

Namun, menurut mereka, ada kabar bahwa karyawan akan diberi dua opsi, yaitu mengajukan pensiun dini atau mengikuti tes untuk pindah ke gerai lain milik perseroan.

Serikat pekerja, kata mereka, akan segera melakukan pertemuan guna membahas masa depan para karyawan tersebut.

Hingga 30 September 2018, HERO memilliki 448 gerai. Masing-masing terdiri dari 59 Giant Ekstra, 96 Giant Ekspres, 31 Hero Supermarket, 3 Giant Mart, 258 Guardian Health & Beauty, dan satu toko IKEA.

HERO bukan ritel pertama yang menutup sejumlah gerainya. Pada pertengahan 2017, ada 7-Eleven dan Ramayana. Lalu diikuti dengan penutupan dua gerai Lotus pada Oktober 2018.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR