Perjuangan cinta Fidelis yang berujung 8 bulan kurungan

Foto ilustrasi. Petugas Badan Narkotika Nasional provinsi Aceh menuangkan minyak tanah pada barang bukti tindak kejahatan narkotik jenis ganja sebelum dimusnahkan saat peringatan Hari Narkotika Internasional di Banda Aceh, Kamis (13/7/2017).
Foto ilustrasi. Petugas Badan Narkotika Nasional provinsi Aceh menuangkan minyak tanah pada barang bukti tindak kejahatan narkotik jenis ganja sebelum dimusnahkan saat peringatan Hari Narkotika Internasional di Banda Aceh, Kamis (13/7/2017). | Apelsa /ANTARAFOTO

Fidelis Arie Suderwato (36) tak kuasa menahan tangisnya.

Dengan langkah berat, ia beranjak dari posisinya menuju meja penasehat hukum untuk meminta waktu berpikir kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sanggau, Kalimantan Barat, atas vonis yang baru saja dijatuhkan kepadanya.

"Jujur saya kecewa. Toh ini tidak bisa mengembalikan nyawa istri saya. Itu saja," ungkap Fidelis tanpa memberi keterangan lebih panjang usai persidangan, Rabu (2/8/2017).

Kekecewaan Fidelis memang beralasan. Majelis Hakim yang diketuai Achmad Irfir Rohman dengan anggota John Sea Desa dan Maulana Abdulah memutuskan memvonis Fidelis delapan bulan kurungan penjara serta denda Rp1 Miliar atau kurungan satu bulan.

Majelis Hakim memutuskan Fidelis bersalah karena kedapatan memiliki 39 batang ganja (cannabis sativa).

Vonis tersebut lebih berat dibandingkan dengan tuntutan yang diberikan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Saat sidang tuntutan, Fidelis awalnya menerima tuntutan kurungan lima bulan penjara.

Asumsinya, jika Majelis Hakim menerima tuntutan tersebut, begitu persidangan selesai maka ayah dua anak ini akan bebas pada 19 Agustus 2017 lantaran masa tahanannya yang sudah berjalan nyaris setara dengan waktu hukuman.

Apalagi, menurut pengakuan Kepala Kejaksaan Negeri Sanggau, Danang Suryo Wibowo yang dilansir dalam KBR.id, dakwaan yang diberikan JPU telah melalui proses panjang dan dikonsultasikan hingga ke Kejaksaan Agung.

Fakta rekonstruksi yang diteliti oleh JPU juga menemukan bahwa penanaman ganja yang dilakukan Fidelis berdasar atas alasan kemanusiaan, bukan untuk disalahgunakan.

Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), menyayangkan putusan hakim. Pengadil dalam perkara Fidelis dinilai tidak masuk secara menyeluruh untuk melihat fakta dalam persidangan. Sebelum putusan, ICJR sempat mengirimkan pendapat hukum kepada PN Sanggau, yang isinya menyatakan Fidelis layak dibebaskan meski telah melanggar hukum.

Dalam pandangan ICJR, Fidelis semestinya dapat masuk dalam kategori keadaan darurat sebagaimana diatur dalam Pasal 48 KUHP. Kondisi Fidelis yang tidak memiliki pilihan selain menolong istrinya dengan pengobatan ganja yang tidak disediakan oleh Negara harusnya menjadi pertimbangan kunci oleh Hakim.

"Fidelis adalah contoh nyata kebijakan perang (antinarkoba) yang rentan salah sasaran, Pemerintah selalu membawa slogan antinarkotika tanpa berani masuk ke ranah imiah untuk menjamin kepentingan publik yang lebih luas," kata Anggara Suwahju, peneliti senior ICJR, dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi (2/8/2017).

Fidelis menjadi terdakwa setelah ditahan pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 19 Februari 2017. BNN menemukan 39 batang ganja yang ditanam di halaman rumah Fidelis.

Ganja tersebut sengaja ditanam oleh Fidelis untuk mengobati sang istri yang menderita penyakit langka Syringomyeila (kista pada sumsum tulang belakang).

Pria yang tadinya berprofesi sebagai pegawai negeri sipil itu mendapatkan informasi dari internet bahwa penyakit yang diderita sang istri bisa disembuhkan dengan menggunakan ekstrak ganja.

Konon, upaya Fidelis itu membuahkan hasil. Kesehatan sang istri perlahan membaik, setelah sejumlah jalan pengobatan buntu. Karenanya, Fidelis nekat mengambil risiko.

Hingga akhirnya risiko tersebut harus dibayar ketika petugas BNN menangkap dan memutuskan untuk mengurungnya. Penahanan Fidelis otomatis membuat pengobatan sang istri berhenti pula.

Pada hari ke-33 penahanannya, sang istri menghembuskan napas terakhir.

Kasus Fidelis kemudian menjadi ramai, karena menimbulkan pro kontra ihwal pemanfaatan ganja untuk keperluan medis.

"Amat disayangkan bahwa sebuah peristiwa yang semata-mata wujud usaha seorang manusia mempertahankan keluarganya harus diproses hukum sejauh ini," ujar Yohan Misero, Analis Kebijakan Narkotika Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Masyarakat dalam CNN Indonesia.

Yohan turut menilai bahwa penangkapan yang dilakukan BNN terhadap Fidelis cenderung kaku karena tidak mengindahkan alasan penggunaan ganja tersebut.

Tapi tidak bagi BNN. Tanpa bermaksud mengintervensi pengadilan, BNN menilai Fidelis memang layak terkena sanksi, apalagi perbuatannya memenuhi unsur Pasal 111 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang larangan menanam dan memelihara ganja.

Bahkan, BNN menyatakan tidak bisa membuat pengecualian apabila ada "Fidelis" lainnya nanti. Penanaman ganja tanpa hak akan tetap diproses hukum, ujar Kepala Bagian Humas BNN Kombes Sulistiyandriatmoko pada KOMPAS.com.

"Kalau hidup di Indonesia, ya patuhi hukum peraturan yang ada," tegasnya.

Catatan redaksi: Artikel ini telah ditambahkan dengan keterangan tertulis ICJR menanggapi putusan terhadap Fidelis. (2/8/2017)
BACA JUGA