Senjakala ritel belum dimulai meski dua gerai Matahari tutup

Sejumlah warga memilih barang di Matahari Department Store, Pasaraya Indonesia, Manggarai, Jakarta, Sabtu (16/9/2017).
Sejumlah warga memilih barang di Matahari Department Store, Pasaraya Indonesia, Manggarai, Jakarta, Sabtu (16/9/2017). | Galih Pradipta /ANTARAFOTO

Saling rebut satu barang tertentu hingga antrean panjang yang memakan waktu bukan hambatan bagi mereka para pencari diskon sejati.

Tengok saja yang terjadi di Matahari Pasaraya Blok M, Sabtu (16/9/2017) malam. KOMPAS.com melaporkan, hanya dalam waktu singkat, sejumlah rak-rak baju dan sepatu di gerai itu ludes oleh ratusan pengunjung.

Antrean panjang pengunjung yang membawa sedikitnya 15 potong pakaian di beberapa titik kasir pun tak lepas dari pandangan.

Padahal, Sabtu itu adalah hari pertama Matahari memberikan promo diskon 50 persen hingga 75 persen bagi sejumlah produk yang umumnya adalah pakaian dan sepatu wanita. Promo ini sebenarnya masih akan berlangsung hingga penghujung hari di bulan September ini.

Bukan tanpa alasan Matahari menawarkan diskon besar-besaran. Matahari memang sengaja menghabiskan stok barang-barangnya yang dijual di gedung Pasaraya Blok M itu.

Akhir September ini, manajemen PT Matahari Department Store Tbk sepakat untuk menutup dua gerainya di Jakarta, salah satunya di Pasaraya Blok M, dan satunya lagi di Pasaraya Manggarai.

Sekretaris Korporat dan Direktur Bidang Legal Matahari, Miranti Hadisusilo mengakui penutupan dua gerai tersebut diakibatkan sepinya pengunjung sehingga kinerja penjualan tidak sesuai dengan target manajemen.

Pada 2015, Persero diketahui mengeluarkan biaya investasi sekitar Rp30 miliar sampai Rp40 miliar untuk dua gerai tersebut. "Biasanya setahun juga sudah kelihatan trennya naik, tapi ini sudah dua tahun masih belum sesuai target, enggak untung. Akhirnya kita cut loss," ujar Miranti dalam detikcom, Jumat (15/9/2017).

Beragam alasan melatarbelakangi mengapa dua gerai itu sepi, salah satunya konsumen yang lebih memilih pergi ke mal-mal besar lain yang menawarkan hiburan lebih beragam.

Kendati dua gerai ditutup, Miranti menegaskan bahwa kinerja Matahari tidak akan terpengaruh. Pasalnya, Matahari tetap akan melakukan ekspansi dengan membuka satu gerai di Pulau Jawa dan dua gerai lainnya di luar Jawa hingga akhir tahun 2017.

Dilihat dari laporan keuangan yang dipublikasikan peritel modern milik Lippo Group ini pada Juni 2017, jumlah gerai Matahari memang terlihat terus menanjak naik, setidaknya sejak 2010.

Hingga Juni 2017, ada empat gerai baru yang dibuka oleh Matahari. Total, sampai saat ini gerai Matahari yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia sudah mencapai 156 gerai.

Begitu juga dari kinerja keuangannya. Perseroan dengan kode emiten "LPPF" ini mencatatkan kenaikan laba bersih pada Semester I-2017 yakni sebesar Rp1.338 miliar, atau naik 15,6 persen dibanding periode yang sama pada 2016 yang sebesar Rp1.157 miliar.

Pendapatan bersih tercatat sebesar Rp5.737 miliar, 10,8 persen lebih tinggi dibanding Semester I-2016 yang mencapai Rp5.180 miliar. Penjualan kotor Perseroan di periode yang sama tercatat sebesar Rp10,1 triliun, naik 10,9 persen dibanding periode sebelumnya di angka Rp9,03 triliun.

Bisnis ritel harus berinovasi

Kabar tutupnya dua gerai Matahari langsung menjadi ramai. Banyak pihak yang lagi-lagi menghubungkan lesunya bisnis ritel dengan melemahnya daya beli dan beralihnya belanja konsumen ke serambi daring (online) ketimbang luring (offline).

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) punya pendapat lain. Sekretaris Umum Aprindo Jawa Barat, Henri Hendarta mengatakan, meski tren penjualan daring meningkat, namun jumlah pemainnya masih sekitar 10 persen dari total pemain luring. Sehingga, belum menjadi ancaman yang serius bagi bisnis luring.

"Masih banyak yang menganggap shopping merupakan rekreasi," ujar Henri dalam inilahkoran.com, Jumat (15/9/2017).

Meski memang, kondisi tersebut besar kemungkinan berbalik dalam lima tahun ke depan. Untuk saat ini, tren penjualan daring banyak menyerap produk-produk seperti mode, kuliner, dan peralatan elektronik. Ini pun yang menjelaskan mengapa banyak toko-toko elektronik di Glodok tutup.

Wakil Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, Sarman Simanjorang mengatakan, faktor lain yang membuat banyak gerai yang tutup adalah persaingan antarpusat perbelanjaan yang semakin ketat.

"Tumbuhnya pasar properti dengan pembangunan berbagai kawasan perumahan, perkantoran, dan apartemen selalu dibarengi dengan adanya pusat perbelanjaan, minimarket, dan toko-toko, sehingga para penghuninya tidak perlu keluar jauh untuk belanja," kata Sarman dalam Liputan6.com.

Tapi ke depannya Sarman mengingatkan para pemain ritel luring untuk senantiasa berinovasi dan mengikuti perkembangan teknologi. Sebab, pada akhirnya belanja daring lama kelamaan akan menjadi ancaman bagi pusat perbelanjaan.

Apalagi pemerintah semakin gencar mempromosikan penerapan transaksi nontunai. "Itu akan membuat masyarakat akan semakin nyaman dan terbiasa berbelanja via online," tukasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR