Eko Yulianto, ahli tsunami purba dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), saat berpose untuk Beritagar.id di kantor LIPI, Jakarta Selatan, Selasa (20/08/2019)
Eko Yulianto, ahli tsunami purba dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), saat berpose untuk Beritagar.id di kantor LIPI, Jakarta Selatan, Selasa (20/08/2019) Bismo Agung / Beritagar.id
FIGUR

Eko Yulianto, tsunami purba, dan pendidikan membebaskan

Eko Yulianto membawa legenda Nyi Roro Kidul ke tataran sains. Khalayak luas kini dapat memandang mitos dengan perspektif alternatif.

Begitu tua bumi. Dan begitu kerasan tubuh purbanya menyimpan pelbagai hal ihwal. Jika ingin membagi rahasia, sedikit saja ia berbicara. Lewat guguran lava. Atau kedut sesar. Cuma segelintir orang mengerti isyarat subtil itu, dan sudi mencerapnya.

Eko Yulianto, 48, merupakan di antara penyimaknya yang teguh. Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu boleh dikata--maaf kalau dianggap berlebihan--juru retas sandi bumi. Sebabnya sahih. Dia ahli membaca jejak tsunami di pesisir.

Tak mudah untuk bisa begitu. Fase sarjana dan magisternya dihabiskan di jurusan Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB). Belum lagi hari-hari ketika menjalani program doktoral di Universitas Hokkaido, Jepang. Periode penuh perseteruan dengan pembimbingnya yang keras kepala, Profesor Kazuomi Hirakawa, seorang pakar stratigrafi kuarter.

(Stratigrafi penting untuk menaksir sejarah bumi. Kuarter merujuk zaman termuda dalam skala waktu geologi).

"Di sana saya benar-benar clash dengan (Hirakawa)," ujarnya mengenang perbenturan dengan sang guru besar, "kalau enggak strategis, mungkin enggak lulus".

Pengalaman bersama Hirakawa, disertai penguasaan dalam Eko akan palinologi--ilmu yang mempelajari polen dan spora--kelak menuntunnya dalam penyusuran jejak tsunami purba.

Dengan palinologi, Eko enteng saja menekuri "fosil serbuk sari" yang dia temukan di lapangan. Melaluinya, dia jadi tahu apakah endapan yang digali dari pesisir merupakan bekas tsunami atau badai belaka.

Ilmunya itu langsung terpakai di Indonesia setelah dia lulus dari Jepang.

Pada 26 Desember 2004, gempa dengan magnitudo 9,1-9,3 yang berpusat di lepas pantai barat laut Sumatra memicu tsunami setinggi hingga 30 meter. Gempa dan gelombang air menelan bangunan dan mencabut nyawa.

Pelbagai negara yang berhadapan dengan Samudra Hindia merasakan kejutan alam itu. Setidaknya 225 ribu orang meninggal. Terbanyak di Banda Aceh.

Eko datang ke Aceh pada Maret 2005. Dia bersama sebuah tim internasional untuk survei tsunami (ITST). Hanya dua anggotanya berasal dari Indonesia. Dia dan Widjo Kongko dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Dengan menumpang kapal sewaan, mereka berlayar menyusuri garis pantai dari Sabang menuju Meulaboh.

"Pertama kali datang itu yang disebut dengan survei pascatsunami. Meski fokusnya tsunami 2004, tapi mengupayakan juga pencarian data tentang tsunami-tsunami yang pernah terjadi sebelumnya," katanya kepada Beritagar.id di kantor LIPI, Jakarta Selatan, Selasa (20/08/2019).

Sialnya, perjalanan itu terganjal sebentar. Saat tim mencapai Lhok Leupung, segrup pasukan marinir menangkap mereka. Tim ITST disangka tengah berupaya menyelundupkan senjata kepada para anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Sesungguhnya, kalau bukan karena ombak besar, peristiwa itu tak perlu terjadi. Karena gelombang tinggi, mereka terpaksa meloncat dari kapal dan berenang ke tepian. Ketika menginjak pantai, sejumlah prajurit sudah menunggu.

"Jadi, kami ditodong pakai senjata. Ada satu anggota tim kami yang sedang melakukan pengukuran, sudah diincar (untuk ditembak) oleh seorang prajurit. Kami berteriak, 'Pak, itu kawan kami!" ujarnya.

Paleotsunami atawa tsunami purba

Bukan sekali itu saja Eko ke Aceh. Hingga 2009, dia sudah bolak-balik ke wilayah yang pernah dijadikan daerah operasi militer (DOM). Namun, layaknya daerah lain di Indonesia, sulit melakukan penelitian tsunami di sana.

"Waktu riset di Hokkaido itu sih mudah. Kita lihat tebing pantai, kita akan mendapatkan berlapis-lapis tsunami yang pernah terjadi di masa lalu. Di sini agak sulit karena tantangan alamnya juga berbeda sama sekali. Pelapukan, erosi, aktivitas biota (adalah sejumlah hal yang) sangat menghancurkan sisa-sisa tsunami yang pernah terjadi di masa lalu," katanya.

Eko Yulianto saat berpose untuk Beritagar.id di kantor LIPI, Jakarta Selatan, Selasa (20/08/2019)
Eko Yulianto saat berpose untuk Beritagar.id di kantor LIPI, Jakarta Selatan, Selasa (20/08/2019) | Bismo Agung /Beritagar.id

Hal negatif lain bukan hanya itu. Tapi pula berkenaan dengan cara masyarakat di kawasan rawan sapuan tsunami menempatkan diri. Dia mencontohkan Aceh dan Pangandaran. Kekecewaan menguasainya ketika pesisir di dua daerah itu sekarang telah terisi bangunan.

"Bayangan saya, Aceh idealnya seperti Izmit. Tapi, yang terjadi, semua telah kembali ke pantai. Rumah-rumah yang semula bawahnya kosong, banyak yang sudah ditutup tembok untuk tambahan ruang. Itu tsunami kecil saja korban akan banyak," ujarnya.

Izmit merupakan kota industri di tepi pantai Turki yang mengalami gempa merusak pada 1999. Setelah insiden tersebut, otoritas kota memindahkan perkampungan dan fasilitas industri dari pantai ke sebuah bukit. Kawasan pesisir diubah menjadi taman-taman dengan bukit-bukit penyelamatan buatan.

"Padahal, di kawasan Aceh Besar, misalnya, saya menggali kurang dari 60 cm. Di (lapisan) paling atas (terdapat) pasir tsunami 2004. Kemudian, di bawahnya ada empat lapis tsunami yang lain. Artinya frekuensi tsunami di situ cukup sering meski tak sebesar 2004," katanya.

Gempa di lepas pantai Sumatra itu pula yang memantik Eko untuk mengerjakan riset tentang tsunami purba di selatan Jawa. Sebab, dari kejadian alam itu lahir sebuah hipotesis baru: bahwa gempa raksasa--yakni bermagnitudo 9 atau lebih--dapat terjadi di semua zona subduksi.

Padahal, sebelumnya, diyakini gempa berkekuatan sedemikian hanya dapat dihasilkan oleh lempeng tektonik muda yang kecepatan saling tumbuk antarlempengnya tinggi. Tabiat kawasan gempa Aceh tak begitu.

Kejadian tersebut akhirnya menjadi pengingat bahwa zona subduksi selatan Jawa yang panjangnya sekitar 1000 km berpeluang menghasilkan gempa dan tsunami sejenis.

"Kasus paling akhir bagi saya adalah Bandara Kulonprogo. Saya sudah presentasi di depan pimpro bandara sampai sebelum bandara dibangun. Saya tidak mengkhawatirkan bandaranya. Tapi persoalannya ketika bandara itu hadir, maka jalur selatan Jawa hidup. Dan banyak manusia akan beraktivitas di sana. Sehingga risikonya menjadi sangat besar," ujarnya.

Dia mengutip problem di Bandara Sendai, Miyagi, salah satu lokasi yang terdampak gempa Jepang pada 2011 yang magnitudonya berkisar 9,0-9,1, sebagai pembanding. Bandara itu berlokasi lebih dari 1 km dari pantai. Di depan bandara, terbentang tembok setinggi lima meter. Di belakang bandara ada kanal selebar 15 meter, yang ditamengi hutan pinus.

"Tembok itu roboh. Hutan pantai hancur. Air sampai ke bandara dan membawa semua pesawat yang tak sempat diselamatkan," katanya.

Pangandaran menjadi lokus awal di selatan Jawa yang disambanginya untuk menyigi air raya. Dia tiba sebulan sebelum kawasan itu terpukul tsunami pada 2006.

Dua sampel dicomot dari tebing sebuah sungai. Profesor Hirakawa kemudian membawanya ke Jepang untuk dikenai uji penanggalan karbon. Hasil analisis menunjukkan bahwa usia sampel tersebut sama dengan usia spesimen yang diperoleh dari Lebak, Banten, hingga Lumajang, Jawa Timur. Yakni sekitar 400 tahun.

"Kalau kita sudah dapat hasil umur yang di Banyuwangi dan Bali, dan kalau hasilnya sama, kemungkinan (tsunami raksasa di Jawa itu) dipicu oleh gempa berskala 9," ujarnya.

Mitos Nyi Roro Kidul

Sebuah elemen dalam penelitian Eko akan tsunami purba di selatan Jawa beralas mitos dari kultur lokalnya. Mitos yang telah dia kenal sejak bocah saat masih sering menonton pertunjukan drama tradisional. Kisah yang tokoh utamanya beroleh tempat penting dalam kosmologi Jawa. Cerita tentang Nyi Roro Kidul, sang penguasa pantai selatan Jawa.

Eko Yulianto saat berpose untuk Beritagar.id di kantor LIPI, Jakarta Selatan, Selasa (20/08/2019)
Eko Yulianto saat berpose untuk Beritagar.id di kantor LIPI, Jakarta Selatan, Selasa (20/08/2019) | Bismo Agung /Beritagar.id

"Empat ratus tahun lalu itu kira-kira berdirinya kerajaan Mataram Islam. Kerajaan yang didirikan oleh Panembahan Senopati, yang punya kaitan erat dengan cerita Ratu Kidul," katanya.

Eko membaca ulang naskah kuno penting Jawa, Babad Tanah Jawi, dan menengok katalog Arthur Wichmann yang memuat kejadian gempa dan tsunami di Indonesia rentang 1538-1877. Pada yang terakhir, dia menemukan bahwa dalam periode 1584-1586, terdapat dua gempa besar "yang guncangannya terasa di seluruh Jawa, serta tiga letusan gunung berapi: Ringgit, Kelud, dan Merbabu".

Dalam pembacaan Eko, kemunculan Ratu Kidul beririsan dengan peristiwa-peristiwa alam yang terjadi berbarengan dengan kehendak Sutawijaya, anak angkat Sultan Hadiwijaya, Pajang, untuk berkuasa.

Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati--pendiri Mataram Islam--merasa perlu untuk, kata Eko, "mendapat legitimasi sosial dan budaya sebagai raja baru" karena dia bukan titisan bangsawan.

Detail deskripsi tsunami tercetak pada Serat Sri Nata, sebuah naskah yang dianggap sebagai Babad Tanah Jawi versi pesisiran. Eko baru membaca serat tersebut kira-kira tiga tahun lalu.

"Itu membawa saya untuk mencari hubungan antara legenda Ratu Kidul dengan kejadian tsunami raksasa di selatan Jawa dengan kepentingan politik Panembahan Senopati yang bukan bagian dari trah darah biru Kerajaan Pajang," ujarnya.

Berikut potongan tembang itu: "Air naik ke angkasa/Bahkan seperti bercampur dengan ikan airnya/.../Ratu Kidul perlahan berkata:/Selama ini aku belum pernah menyaksikan/samudra menjadi pesisir/Bahkan panasnya air bagaikan api/.../Semua ikan mati/Mungkin hari kiamat ini".

Harapan akan masyarakat rasional

Ketika menghubungkan folklore Ratu Kidul dengan kejadian kegempaan, sebuah pertanyaan menghampiri Eko: kenapa memakai mitos dalam sains?

Namun, ditantang seperti itu, dia membalas cepat: apa beda mitos dari sains?

"Perbedaannya simpel sekali," katanya. "Sains adalah mitos yang senantiasa diverifikasi kebenarannya. Ketika proses verifikasi itu berhenti, maka sains seketika berubah menjadi mitos. Karena selalu ada ruang mitos di dalam sains. Yakni interpretasi. Itu selalu spekulasi. Hanya bisa ditindaklanjuti dengan proses verifikasi".

Eko butuh proses panjang untuk dapat mengulurkan jawaban sebegitu. Dari orang tuanya--ayahnya polisi, dan ibunya guru sekolah dasar--ia hanya beroleh kebiasaan membaca. Bukan budaya "questioning", alias mempertanyakan seluk-beluk.

Ketika kuliah dan aktif terlibat dalam kegiatan berbasis keagamaan, dia pun belum terbiasa dengan laku skeptis. Bahkan, dia mengaku, bisa saja dulu dia menjadi teroris hanya karena "buku-buku dalam khazanah keislaman yang dibaca" tidak dibarengi dengan "pemikiran kritis".

"Pendidikan kita mengikat manusia ke dalam patron-patron," ujarnya seraya menapak tilas perjalanannya. "Itu mengenaskan. Karena itu menjauhkan manusia dari tujuan pendidikan yang membebaskan. Bahkan yang sudah doktor atau profesor pun masih terjebak pada patron itu," katanya sembari menggaungkan pemikiran seorang pedagog Brasil, Paulo Freire, mengenai pendidikan sebagai alat pembebasan.

Masyarakat rasional takkan terwujud tanpa kultur questioning. Dan di Indonesia, kultur itu sungguh penting diadaptasi. Sebab, penduduknya mendiami alam yang sewaktu-waktu melepaskan lindu atau letusan.

Jika sudah mampu untuk memandang kejadian alam sebagai bukan bencana, kata Eko memisalkan, "manusia akan awas pada dirinya sendiri sehingga tidak tinggal dalam jarak 10 meter dari garis pantai".

Bagi Eko, sikap rasional dirinya terasah berkat kegaliban bekerja melalui kaca pembesar. Di bawah mikroskop, dia melihat yang tak bisa diamati orang lain dalam kondisi biasa.

"Sesuatu yang bagi saya, amazing," katanya. "Hal yang hanya berarti ketika kita sungguh-sungguh mengamati dan memikirkannya. Dan kesempatan saya mengamati itu adalah sebuah latihan untuk menemukan kebaruan: yakni menghentikan kerja pikiran, dan melihat apa yang sedang di hadapan kita. Data kita".

Pandangan Eko barusan terinspirasi oleh Jiddu Krishnamurti, seorang penulis India yang menekankan pentingnya persepsi dan pencerapan.

"Pada dasarnya manusia tidak sanggup melihat secara total karena 'pandangannya' tertutup tirai. Misalnya, saya sekarang bertemu dengan anda. Nanti pada pertemuan berikutnya, jangan-jangan yang saya lihat bukan anda pada saat itu, tapi (memori tentang anda)," ujarnya. "Dan itu yang membuat komunikasi tidak terjadi".

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR