Pentas seni wayang golek memeriahkan rangkaian acara Opat Belasan atau Mapag Purnama (menyambut purnama) di Kasepuhan Ciptagelar, Kampung Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (13/10/2019) malam.
Pentas seni wayang golek memeriahkan rangkaian acara Opat Belasan atau Mapag Purnama (menyambut purnama) di Kasepuhan Ciptagelar, Kampung Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (13/10/2019) malam. Rommy Roosyana / Beritagar.id
KAMPUNG ADAT

Mapag Purnama di Kasepuhan Ciptagelar

Menjelang bulan purnama, seluruh warga Kasepuhan Ciptagelar menggelar prosesi doa bersama dan pentas kesenian khas.

Api berwarna merah dan kepulan asap dari hawu (tungku) yang di atasnya berjejer lima seeng (dandang) mengiringi aktivitas lebih dari 50 perempuan di Pawon (dapur) Imah Gede (Rumah Besar) Kasepuhan Ciptagelar, di Kampung Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (13/10/2019) pagi.

Para perempuan berpakaian kebaya dipadu samping (kain bercorak) itu terbagi dalam beberapa kumpulan dengan aktivitas berbeda, ada kumpulan yang memarut kelapa, membungkus papais --penganan berbahan tepung beras berisi pisang-- membuat kue apem beraneka warna, hingga memasak nasi di atas hawu.

Di sebuah sudut, Emak Alit (Istri Abah Ugi Sugriana Rakasiwi-Pimpinan Adat) nampak turut sibuk menuangkan tepung beras dari boboko (tempat untuk mencuci beras atau wadah nasi) ke nyiru (nampan besar berbahan anyaman bambu). Tepung tersebut merupakan bahan utama untuk membuat papais.

Dalam bahasa Sunda, Emak Alit menyebut, pembuatan papais yang begitu banyak tersebut untuk salametan (syukuran). Penganan khas itu menjadi menu utama salametan Mapag Purnama (menyambut purnama) yang akan digelar menjelang tengah malam.

"Sakantenan cobian, meungpeung haneut keneh (Sekalian cicipi, mumpung masih hangat)," ujar Emak Alit sambil menyodorkan beberapa piring papais dan kue apem warna-warni kepada para tamu yang menyambangi Pawon Imah Gede.

Imah Gede adalah bangunan utama di Ciptagelar, bangunan tersebut terbagi dua bagian: bagian dapur dan bagian untuk menerima tamu. Imah Gede memiliki ruang tamu sebesar lapangan badminton, tiga buah kamar untuk tamu, dan dua kamar mandi yang berada terpisah dari bangunan.

Beberapa perempuan mengolah tepung beras untuk dibuat papais yang dijadikan menu utama acara Opat Belasan atau Mapag Purnama (menyambut purnama) di Kasepuhan Ciptagelar, Kampung Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (13/10/2019) siang.
Beberapa perempuan mengolah tepung beras untuk dibuat papais yang dijadikan menu utama acara Opat Belasan atau Mapag Purnama (menyambut purnama) di Kasepuhan Ciptagelar, Kampung Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (13/10/2019) siang. | Rommy Roosyana /Beritagar.id

Syukuran dan hiburan

Untuk menyambut bulan purnama penuh yang jatuh pada pergantian tanggal 13-14 Oktober 2019, seluruh warga Kasepuhan Ciptagelar sibuk dengan beragam persiapan. Di Imah Gede, sejumlah perempuan dibantu beberapa orang lelaki bahu-membahu memasak. Di luar Imah Gede, para lelaki sibuk meyiapkan panggung untuk hiburan.

Lasimnya, upacara ini dimaksudkan untuk menyambut bulan purnama agar hati manusia selalu terang bagaikan terangnya bulan purnama dan khusus untuk menghormati para khodam (roh-roh) yang menitis dalam benda-benda pusaka.

Yoyo Yogasmana, juru bicara Kasepuhan Ciptagelar, menjelaskan bahwa setiap malam bulan purnama (tanggal 14 penanggalan Sunda) di Kasepuhan Ciptagelar kerap digelar acara salametan (syukuran) dan hiburan. Acara hiburan, dimeriahkan pertunjukan seni khas Kasepuhan Ciptagelar seperti: Angling Dogdog Lojor, Topeng Kolot, Wayang Golek Rurukan, Jipeng, dan Degung Gonjringan.

"Semuanya digelar bersamaan di lima panggung sebelum salametan. Dalam acara salametan, semua yang hadir diajak berdoa dan bersyukur kepada Sang Pencipta. Menu utama (salametan) papais," sebut Yoyo kepada Beritagar.id, Minggu (13/10).

Menjelang malam, sekitar pukul 19.30 WIB, panggung-panggung untuk hiburan terlihat terang-benderang dengan lampu sorot. Di panggung yang terletak di depan Imah Gede bahkan telah berjejer wayang golek yang akan dipentaskan oleh dalang Dede Wijaya Putra.

Pertunjukan Jipeng digelar dalam rangkaian acara Mapag Purnama di Kasepuhan Ciptagelar, Kampung Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (13/10/2019) malam.
Pertunjukan Jipeng digelar dalam rangkaian acara Mapag Purnama di Kasepuhan Ciptagelar, Kampung Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (13/10/2019) malam. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Memasuki pukul 21.10 WIB, di panggung yang berada di seberang kanan Imah Gede, terdengar suara terompet melengking-lengking. Pertunjukan Jipeng telah dimulai. Jipeng sendiri berasal dari kata Tanji dan Topeng. Seni Jipeng ini mirip dengan Tanjidor Betawi, namun disela-sela permainan musik Tanji disertakan tarian dan drama yang biasa disebut topeng.

Di seberang panggung pertunjukan Jipeng, lima penyanyi belia melantunkan lagu-lagu dangdut, diiringi musik organ tunggal dipadu alat musik kendang (gendang).

Tak hanya itu, di sisi kiri belakang Imah Gede juga terdengar suara kendang dan suara biola yang melengking. Panggung kecil di sebelah kiri belakang dapur itu mempertunjukan Degung Gonjringan. Seorang gadis berparas cantik terlihat menari jaipong diiringi musik gamelan dan hentakan-hentakan kendang.

Tepat di belakang Pawon (dapur) Imah Gede, dipertunjukan Angling Dogdog Lojor. Seorang penyanyi perempuan bernyanyi lagu-lagu Sunda, diiringi alat musik angklung dipadu tabuhan dogdog yang dibuat dari bambu berdiameter besar dengan panjang sekitar 1 meter lebih.

Ketika jarum jam menunjukan pukul 22.05 WIB, pertunjukan wayang golek dimulai. Sejam berlalu, para tamu kasepuhan dipersilakan memasuki Imah Gede untuk mengikuti prosesi salametan. Di tengah karpet hijau yang terhampar, telah berjejer piring yang diisi papais, pisang, dan kue apem warna-warni.

Setelah Abah Ugi duduk di tempatnya, Penghulu (Pemimpin Doa) tanpa dikomando memulai doa. Semua yang hadir di sana serempak mengucapkan "Aamiin" saat Sang Penghulu menutup doa.

Baris Olot (Sesepuh) di Kasepuhan Ciptagelar menyantap penganan seusai doa bersama menyambut bulan purnama  di Kasepuhan Ciptagelar, Kampung Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (13/10/2019) tengah malam.
Baris Olot (Sesepuh) di Kasepuhan Ciptagelar menyantap penganan seusai doa bersama menyambut bulan purnama di Kasepuhan Ciptagelar, Kampung Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (13/10/2019) tengah malam. | Rommy Roosyana /Beritagar.id

Tentang Kasepuhan Ciptagelar

Komunitas Adat Kasepuhan Ciptagelar, merupakan bagian dari Kesatuan Adat Banten Kidul. Mereka telah hidup berkoloni sejak tahun 1368. Kasepuhan Ciptagelar terletak Hutan Halimun (bahasa Sunda: berarti kabut), tepatnya di Kampung Cikarancang, Dusun Sukamulya, Desa Sirnaresmi.

Perkampungan Kasepuhan Ciptagelar berada pada ketinggian antara 800–1.200 meter di atas permukaan laut, dengan kontur berbukit-bukit. Secara administrasi, Ciptagelar masuk ke Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Ciptagelar merupakan satu dari beberapa kasepuhan di Halimun.

Kasepuhan tersebut, saat ini dipimpin Abah Ugi Sugriana Rakasiwi --sebutan "Abah" adalah istilah yang disematkan pada sesepuh atau ketua adat. Ia menggantikan ayahnya, Abah Anom, yang meninggal pada 2007.

Sesuai dengan aturan tradisi mereka, jabatan ketua adat diwariskan berdasarkan keturunan. Abah Ugi begitu dihormati dan dicintai warganya. Tak ada warga yang bicara dengannya dalam posisi kepala tegak.

Bahkan warga, termasuk para tamu, diarahkan untuk berjalan dengan posisi duduk sebelum bersalaman dan berbincang dengan Abah Ugi yang duduk di singgasananya.

Abah Ugi duduk bersila di singgasananya saat menerima sejumlah tamu yang berkunjung ke Imah Gede, di Kasepuhan Ciptagelar, Kampung Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (13/10/2019) siang.
Abah Ugi duduk bersila di singgasananya saat menerima sejumlah tamu yang berkunjung ke Imah Gede, di Kasepuhan Ciptagelar, Kampung Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (13/10/2019) siang. | Rommy Roosyana /Beritagar.id

Cara bersalaman dengan Abah juga berbeda dengan warga biasa. Salamannya harus dua kali, mempertemukan telapak dan punggung tangan.

Menemui Abah juga tak boleh sembarangan. Ada syarat cukup unik. Tamu harus mempersiapkan cendera mata, amplop berisi uang, dan rokok merek tertentu, yang ketika bertamu ke Imah Gede ditaruh di sebuah bokor besar yang disediakan.

"Ini hanya sebagai tanda penghormatan kepada Abah. Tidak ditentukan berapa besaran (uang) amplop. Rokok juga kalau tidak ada yang biasa (diberikan), bisa dengan (merek) yang lain," jelas Yoyo.

Untuk bisa memasuki Imah Gede, apalagi bertemu Abah, setiap perempuan wajib memakai samping dan lelaki wajib memakai iket (ikat kepala).

Di Gunung Halimun, tak hanya terdapat Kasepuhan Ciptagelar. Ada juga kasepuhan lain, di antaranya Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Cisitu, Kasepuhan Cicarucub, Kasepuhan Citorek, dan Kasepuhan Cibedug.

Kondisi Halimun yang berbukit-bukit membuat lokasi Ciptagelar sulit ditembus, terutama saat musim hujan. Akses ke kasepuhan itu berupa jalan tanah berbatu. Jika terpaksa memakai kendaraan pribadi, mesti punya persyaratan khusus: bodi mobil cukup tinggi, juga mesin dalam kondisi prima. Pasalnya, pengendara akan menghadapi tanjakan dengan kemiringan hingga 80 derajat.

Umumnya, mobil-mobil pribadi hanya sampai di kantor Desa Sirnaresmi yang sekaligus merupakan tempat parkir menuju Ciptagelar. Selebihnya menggunakan ojek atau mobil carteran (jenis jip).

Namun, kini pengunjung bisa melewati kawasan Gunung Bongkok, yang jalannya relatif bersahabat. Kendati tanjakannya sama-sama curam, jalur ini bisa dilintasi semua jenis mobil.

Jarak Kasepuhan Ciptagelar dari ibu kota Provinsi Jawa Barat sejauh 198 kilometer. Sedangkan dari ibu kota Kabupaten Sukabumi 46 kilometer, dan 21 kilometer dari ibu kota Kecamatan Cisolok.

Arti kasepuhan

Istilah kasepuhan berasal dari kata sepuh dengan awalan /ka/ dan akhiran /an/. Dalam bahasa Sunda, kata sepuh berarti kolot atau tua dalam bahasa Indonesia.

Berdasar pengertian etimologi itu, kasepuhan didefinisikan sebagai model sistem kepemimpinan suatu masyarakat yang berasaskan adat kebiasaan para sepuh atau kolot.

Masyarakat Ciptagelar sebenarnya tidak terbatas di Halimun saja. Mereka tersebar terutama di Banten, Bogor, dan Sukabumi. Jumlah penganut komunitas adat --atau yang dikenal dengan sebutan incu putu-- Kasepuhan Ciptagelar mencapai 30 ribu jiwa.

Meski tersebar, incu putu tetap menganggap "pusat pemerintahan adat" mereka di Kasepuhan Ciptagelar, yang dihuni sesepuh girang (pemimpin adat) dan baris kolot (para pembantu sesepuh girang).

Sebetulnya, Ciptagelar merupakan nama baru untuk Kampung Ciptarasa, yang sebelumnya mereka huni. Jarak Ciptagelar dan Ciptarasa tidak jauh, sekitar 14 kilometer. Tapi sejak 2001, Kampung Ciptarasa yang berasal dari Desa Sirnarasa melakukan hijrah ke Desa Sirnaresmi.

Di desa ini, tepatnya di Dusun Sukamulya, Abah Anom atau Bapa Encup Sucipta sebagai puncak pimpinan adat memberi nama Ciptagelar pada kampung adat baru itu. Nama itu bermakna terbuka dan pasrah.

Perpindahan ini, menurut Abah Ugi, merupakan perintah leluhur yang disebut wangsit (petunjuk). Ayahnya, Abah Anom, menerima wangsit setelah melalui proses ritual yang hasilnya wajib dilaksanakan.

Masyarakat Ciptagelar percaya seorang pemimpin bisa mendapat wangsit dari leluhur jika sudah waktunya bagi mereka berpindah lokasi. Karena itu, warga kasepuhan tidak boleh membuat rumah dari bahan permanen.

Seluruh rumah yang dibangun di sana tampak seragam. Rata-rata merupakan rumah panggung, terbuat dari kayu, dilapisi bilik bambu, dan beratapkan pelepah aren yang dikeringkan. Warga dilarang menggunakan genteng sebagai atap rumah mereka.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR