PENJUALAN MOBIL

Wuling dan DFSK unjuk gigi di pasar Indonesia

Wuling Confero S saat diperkenalkan pada GIIAS 2017 di ICE BSD, Tangerang (10/8/2017). MPV produk Tiongkok ini berhasil menarik perhatian konsumen Indonesia.
Wuling Confero S saat diperkenalkan pada GIIAS 2017 di ICE BSD, Tangerang (10/8/2017). MPV produk Tiongkok ini berhasil menarik perhatian konsumen Indonesia. | Adi Weda /EPA

Dalam dua tahun terakhir ini ada yang berbeda di jalanan Indonesia. Mobil produksi jenama Tiongkok semakin jamak terlihat. Utamanya model multi-purpose vehicle (MPV), jenis mobil yang paling populer di negeri ini sejak hadirnya Toyota Kijang.

Produsen mobil dari Negeri Panda memang pernah mencoba masuk. Pada awal 2000 mungkin ada yang pernah mendengar nama Geely dan Cherry. Namun mereka gagal menarik perhatian, lalu menghilang. Konsumen Indonesia masih meragukan kualitas produk otomotif Tiongkok dan dua merek itu gagal menghapus keraguan itu.

Kemudian datang Wuling. Jenama ini adalah produksi PT SAIC-General Motors-Wuling (SGMW) Indonesia. Adanya nama raksasa otomotif Amerika Serikat, General Motors (GM), sepertinya membantu Wuling untuk mendapat kepercayaan konsumen, terutama dari segi kualitas produk dan keamanan.

Produk perdana, Confero S, diluncurkan pada pertengahan 2017, disusul Cortez. Keduanya mencoba masuk pasar jenis MPV di Indonesia dan bisa dibilang berhasil mengejutkan para pemain lama, seperti Toyota, Daihatsu, Mitsubishi.

Setelah menjual 5.050 mobil pada enam bulan awal keberadaannya di Indonesia, pada 2018 penjualan Wuling melesat hingga 17.002 unit.

Keberhasilan Wuling mengambil potongan kue penjualan di Indonesia, membuat perusahaan otomotif Tiongkok lainnya, Sokon Group tertarik ikut mencoba. Berkongsi dengan PT Kaisar Motor Indonesia, mereka mendirikan PT Sokonindo Automobile dan menggunakan merek DFSK.

SUV DFSK Glory 850 jadi produk pertama yang dirilis pada Juli 2018. Hingga akhir 2018, 1.222 unit Glory 850 berhasil dilepas dari 20 diler yang mereka punya. Sebuah awal yang terbilang lumayan.

Data penjualan yang dirilis Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) pada lima bulan awal 2019 juga menunjukkan masa depan dua merek Tiongkok itu di Nusantara terbilang cerah.

Angka total penjualan Wuling periode Januari-Mei 2019 bahkan sudah berada di peringkat ke-7, melewati Nissan, Datsun, dan Mazda. SUV yang baru diperkenalkan, Almaz, ternyata mendapat sambutan positif dari konsumen Indonesia dan mendongkrak penjualan.

Brand Manager Wuling Motors Indonesia (WMI), Dian Asmahani (12/7), menyatakan dari 7.459 unit produknya yang terjual periode Januari-Mei 2019, Almaz menyumbang sekitar 40 persen, disusul Confero (30 persen), lalu Cortez dan mobil niaga Formo.

Pada tahun 2019 ini, menurut Dian, target WMI adalah menjual lebih banyak dari tahun lalu. Artinya lebih dari 17.002 unit. Untuk mencapai itu, WMI akan terus menambah jumlah diler menjadi 120 buah di beberapa wilayah, terutama Sumatra.

"Untuk merek yang baru 2 tahun ada di Indonesia, itu tidak mudah. Tapi memang karena itu jadi komitmen, kami ingin memberi layanan terbaik kepada konsumen," kata Dian.

DFSK malah lebih berani. Mereka memasang target penjualan 12.000 unit untuk 2019. Naik 1.000 persen dibandingkan penjualan pada 2018.

"Target itu wajar," kata Co-CEO PT Sokonindo Indonesia, Alexander Barus, dalam konferensi pers pada Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis (18/7).

"Diler kami sekarang sudah bertambah menjadi 60 di seluruh Indonesia. Selain itu, varian mobil yang kami tawarkan sudah lebih banyak, dari hanya satu (Glory 580) pada awal menjadi tiga," jelas Alex, sapaan sang Co-CEO.

Tiga varian SUV yang saat ini dijual DFSK adalah Glory 580, 560, dan mobil niaga Super Cab. Pada GIIAS 2019, DFSK memperkenalkan varian SUV Glory i-Auto, mobil dengan kecerdasan buatan (AI). DFSK memang fokus pada SUV untuk kendaraan penumpang karena, menurut Alex, jenis mobil itu yang terus diminati masyarakat Indonesia.

DFSK juga berupaya untuk melibatkan calon konsumen dalam produk mereka. Untuk Glory i-Auto, misalnya, mereka tengah melakukan survei berapa harga yang pantas bagi produk tersebut sebelum mulai dijual pada Oktober 2019.

Jika melihat data penjualan Gaikindo Januari-Mei 2019, keputusan dua jenama Tiongkok itu untuk fokus pada MPV dan SUV memang tidak salah. Dua jenis kendaraan itu masih jadi yang paling laris di Indonesia, terutama yang bertransmisi otomatis.

Catatan redaksi: Visual pada infografik pertama diganti dengan penambahan persentase penjualan mobil niaga untuk memperjelas informasi yang disampaikan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR