Teduhnya Boon Pring di Malang

Ilustrasi
Ilustrasi | Martin Charles Hatch /Shutterstock

Tak perlu jauh-jauh ke Tiongkok untuk berwisata alam di hutan bambu. Indonesia juga punya destinasi wisata tak kalah asri dan sejuk, yakni Sumber Andeman yang sekarang lebih dikenal dengan nama ekowisata Boon Pring Andeman. Lokasinya terletak di lereng Gunung Semeru, tepatnya di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.

Memang, saat ini Malang sedang gencar menggali potensi wisata di tiap daerahnya. Selain jadi lebih tertata dan mandiri, seluruh destinasi juga diharapkan bisa meningkatkan perekonomian penduduk setempat. Dan tentu saja, memperkenalkan kekayaan dalam negeri yang juga jadi aset wisata nasional.

Wisata air di Boon Pring

Secara menyeluruh, ekowisata Boon Pring memanfaatkan keberadaan embung atau telaga yang berasal dari lima sumber mata air. Yakni Sumber Towo, Seger, Maron, Krecek dan Sumber Gatel. Kelimanya punya keunikan tersendiri.

Sumber Gatel seperti namanya, membuat tubuh gatal ketika berendam di dalamnya, sedangkan untuk penawar gatal ada di Sumber Towo. Sumber air tertua yang dipercaya bisa mengobati berbagai penyakit. Sumber Seger beda lagi, airnya yang jernih dan segar membuatnya bisa langsung diminum. Sekaligus mengobati sakit linu dan rasa pegal.

Sementara Sumber Maron sering dijadikan penanda bahwa pergantian musim sedang terjadi. Sumber terakhir adalah Sumber Krecek, dinamakan demikian karena suara aliran airnya menimbulkan bunyi 'krecek-krecek', dengan volume kecil apapun musimnya.

Dengan adanya telaga luas berkedalaman tiga meter, pemanfaatan embung pun makin beragam. Di antaranya pengembangan budidaya perikanan, juga wisata air bagi masyarakat. Terutama wisata perahu. Mulai dari sepeda kayuh, kapal angsa, juga perahu wisata sudah ada. Anda bahkan bisa mengunjungi Pulau Sekar yang dinamakan dari bunga yang banyak tumbuh di pulau tersebut.

Untuk menjelajah embung menggunakan perahu, pelancong dikenakan restribusi sebesar Rp5 ribu per orang. Sementara menyewa kapal angsa 20 menit, dikenakan biaya Rp10 ribu per dua orang. Nantinya uang tersebut digunakan untuk operasional serta perawatan embung.

Hutan bambu yang sejuk

Bukan hanya wisata airnya yang unggul, Embung Boon Pring dinamakan demikian karena berada di area rerimbunan pohon bambu yang tumbuh di wilayah tersebut. Menurut M. Subur, Kepala Desa Sanankerto dilansir Antara, desa yang terkonsep dengan ekowisata ini dulunya hanyalah kebun bambu, selanjutnya ada kegiatan konservasi yang dilakukan masyarakat. Hasilnya pada tahun 1978 dibangun embung. Namun warga lebih mengenalnya dengan Boon Pring," tuturnya.

Saat ini telah ada 65 jenis tanaman bambu yang ditanam di hutan bambu, memanfaatkan lahan ekowisata seluas 36,8 hektare. "Tahun ini kita targetkan ada seratus jenis tanaman bambu. Puluhan ribu bibit sudah siap kami tanam," kata M. Subur pada detikTravel. Ia melanjutkan, "Sejak awal kami membawa konsep ekowisata, kelestarian alam serta melindungi sumber mata air. Pengunjung bisa belajar atau melihat segala jenis bambu di sini," terangnya.

Selain untuk wisata, hutan bambu juga sering dijadikan tempat penelitian. Sebabnya ada beberapa jenis bambu langka yang juga dibibitkan di Boon Pring.

Langkah nyata Boon Pring

Sejak dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) terhitung tahun 2016 silam, pengembangan wisata di Boon pring yang sebetulnya telah dimulai sejak tahun 2014 semakin membuahkan hasil. Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari embung desa misalnya, Pada 2016 mencapai Rp160 juta.

Dana desa tersebut sebagian telah dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur, yakni tembok penahan jalan dan pemberdayaan masyarakat. Rencananya pada tahun ini, kucuran dana desa sebesar Rp170 juta akan digunakan untuk pengembangan fasilitas wahana ekowisata seperti kolam renang, flying fox, dan sepeda perahu.

Lokasi Boon Pring relatif mudah dijangkau. Untuk mencapainya, Anda bisa berpatokan pada Masjid Jin Pondok Bihaaru Bahri yang sangat terkenal di Desa Sananrejo. Dari pasar Turen perjalanan yang ditempuh sekitar 8 km menggunakan kendaraan pribadi, atau 40 menit dari Kota Malang. Sementara jika naik kendaraan umum, Anda bisa naik mikrolet lalu turun di pangkalan ojek dekat masjid yang hanya berjarak 3 km dari lokasi.

A post shared by Gilang Gita (@gilanggita) on

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR