FILM INDONESIA

Buku Generasi 90an hadir dalam bentuk film

M. Irfan Ramly (tengah) saat menghadiri Festival Mesin Waktu di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat (17/8/2019)
M. Irfan Ramly (tengah) saat menghadiri Festival Mesin Waktu di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat (17/8/2019) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Setelah mengantongi izin mengekranisasi Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, Visinema Pictures kembali membawa buku karya Marchella FP lainnya yang berjudul Generasi 90an dalam medium film.

Tajuk versi film dari buku yang diterbitkan POP Publishers pada 2012 itu menjadi Generasi 90an: Melankolia.

Sosok M. Irfan Ramly dipercayakan sebagai sutradara sekaligus penulis naskah. Sokongan lain datang dari Ruben Adrian selaku produser eksekutif.

Hal tersebut terungkap saat Visinema menggelar talkshow terkait proyek film terbaru mereka ini di Festival Mesin Waktu yang berlangsung di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat (17/8/2019).

“Setelah sekian tahun menunggu dan mengalami cetak ulang beberapa kali, akhirnya buku pertama saya akan difilmkan. Senang banget sekaligus penasaran seperti apa hasilnya nanti,” tutur Marchella.

Perjalanan proyek adaptasi buku Generasi 90an berawal dari ketertarikan Visinema mengalihwahanakan Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini yang aslinya terbit lima tahun setelah Generasi 90an.

“Ada beberapa pihak lain juga yang ingin memfilmkan buku ini, tapi setelah ngobrol-ngobrol dan berdiskusi, saya merasa satu frekuensi dengan Visinema,” ungkap Chella.

Menyutradarai film berbasis buku yang sudah memiliki banyak penggemar, terlebih ini merupakan kali pertamanya menyutradarai film panjang, jelas menghadirkan beban tersendiri bagi Ipang, sapaan akrab Irfan.

“Ini beban yang besar banget. Terlebih kepada penggemar dan anak generasi 90an. Pendekatan yang saya lakukan adalah menjadikan Generasi 90an sebagai salah satu nyawa dalam film ini,” ungkap Ipang.

Pria yang pernah meraih Piala Citra sebagai penulis skenario terbaik ini menggaransi bahwa tren yang berlaku selama era 90an akan menjadi bagian dalam cerita.

“Kalau menonton filmnya nanti, teman-teman akan melihat barang-barang yang ada dalam versi buku Generasi 90an akan hidup. Artinya bukan sekadar tempelan, tapi bagian utama cerita. Ini yang menjadi tantangan berat buat kami,” sambung Ipang.

Beberapa benda ikonis pada era 90an, yang juga termaktub dalam buku setebal 144 halaman itu, antara lain kaset pita dengan pensil sebagai pendamping setia, mainan view master, Tamagotchi, inline skate, dan boneka kertas bongkar pasang.

“Benda atau barang-barang yang sempat tren pada era 90an meninggalkan kesan mendalam. Hingga sekarang peminatnya masih ada karena romantisasi terhadap era itu sangat luar biasa,” kata Ipang.

Kata melankolia dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti suasana hati yang ditandai dengan kesedihan dan depresi.

Apakah nuansa filmnya akan cenderung demikian? Ipang belum ingin membocorkannya.

Dalam gelar wicara yang berlangsung kemarin, hanya sempat ditayangkan sekilas sosok Ari Irham dan Aghniny Haque.

Seberapa besar porsi mereka dalam film, juga nama tokoh yang diperankan, masih bersifat rahasia. Penutup dari tayangan itu adalah munculnya angka 2020 sebagai rencana perilisan film.

Artinya terjadi pergeseran waktu tayang. Sebab awalnya film yang sempat mengusung judul Sephia ini dijadwalkan rilis pada November 2019.

Perkara geser menggeser jadwal perilisan adalah hal biasa dalam industri perfilman. Tak hanya terjadi di Indonesia, studio dan rumah produksi film di Hollywood, Amerika Serikat, juga melakukannya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR