FILM INDONESIA

Sineas Indonesia membawa kabar gembira dari Locarno Film Festival 2019

Yosep Anggi Noen (kanan) dan Gunawan Maryanto mendapat Special Mention dalam ajang Locarno Film Festival 2019
Yosep Anggi Noen (kanan) dan Gunawan Maryanto mendapat Special Mention dalam ajang Locarno Film Festival 2019 | Locarno Film Festival

Ada dua kabar gembira datang dari Locarno Film Festival bertepatan dengan perayaan HUT Proklamasi ke-74 Republik Indonesia (17/8/2019).

Pertama keberhasilan film Hiruk-pikuk Si Al-Kisah (The Science of Fictions) arahan Yosep Anggi Noen mendapat special mention di kompetisi internasional (concorso internazionale), sesi paling bergengsi dalam festival tersebut.

Untuk sampai di Locarno, Swiss, film yang diproduseri Yosep bersama Yulia Evina Bhara, Edwin Nazir, dan Arya Sweta ini harus menempuh proses panjang.

Bergerilya dari satu festival ke festival lain di mancanegara demi menggalang dukungan dan pendanaan.

Bermula dari presentasi di Asian Project Market 2013 yang merupakan bagian Busan International Film Festival.

Atas keberhasilannya tersebut, Edwin, sutradara film Posesif dan Aruna & Lidahnya, melalui akun Twitter-nya menulis;

"Selamat bung @angginoen. Kabar gembira bagi kita semua. Pas 17-an pula. Selamat untuk seluruh kerabat kerja film The Science of Fictions. Selamat berkelana di dunia, ditunggu pemutarannya di Indonesia."

Secara pencapaian, keberhasilan Yosep dan timnya ini ibarat kado istimewa untuk Republik Indonesia yang merayakan ulang tahun ke-74.

Pasalnya film yang dibintangi, antara lain oleh Gunawan Maryanto, Yudi Ahmad Tajudin, Ecky Lamoh, Alex Suhendra, Asmara Abigail, Marissa Anita, dan Lukman Sardi itu harus bersaing dengan 17 film panjang lainnya dari seluruh dunia.

Selain Hiruk-pikuk Si Al-Kisah, turut pula mendapat perhatian khusus dari festival film yang telah memasuki edisi ke-72 itu adalah film Maternal karya Maura Delpero asal Italia.

Pada penyelenggaraan tahun lalu, penghargaan ini diberikan kepada sineas asal Inggris, Richard Billingham, untuk filmnya yang berjudul Ray & Liz.

Film Hiruk-pikuk Si Al-Kisah mengisahkan tentang Siman (Gunawan Maryanto) yang pada tahun 1960an melihat pengambilan gambar pendaratan manusia di bulan oleh kru asing di kawasan Parangtritis, Yogyakarta.

Karena tidak ingin ada saksi yang membongkar konspirasi pendaratan manusia pertama di bulan tersebut, Siman lalu ditangkap dan dipotong lidahnya.

Sejak saat itu hidup Siman bergerak lambat. Ia menjalani hidupnya seperti astronot yang sedang berada di ruang angkasa.

Tak ada yang memercayai kesaksian Siman bahwa peristiwa pendaratan manusia pertama di Bulan adalah rekayasa belaka. Tujuannya untuk melanggengkan kepentingan kelompok tertentu.

Bahkan penduduk desa menganggap Siman sudah tidak waras karena membangun bangunan mirip roket di belakang rumahnya.

Marta Balaga dalam laman Cineuropa menulis bahwa film ini merefleksikan kondisi masyarakat hampir di mana-mana. “Mengingatkan kita bahwa berita palsu (alias hoaks) sama sekali bukan kreasi kemarin,” tulisnya.

Dalam wawancaranya bersama James Prestridge dari Close-Up Culture (6/8), Yosep mengatakan bahwa lewat film ini ia hendak menunjukkan bagaimana konflik politik berdampak sangat besar pada seseorang.

Peristiwa pendaratan manusia pertama di Bulan terjadi pada zaman Perang Dingin yang melibatkan Amerika Serikat dan Uni Soviet. Salah satu bentuk persaingannya adalah perlombaan untuk jadi yang pertama menembus luar angkasa.

“Bagi orang awam, sejarah bersifat intim dan personal. Namun, keintiman itu kerap dimanfaatkan oleh para politisi untuk meraih keuntungan,” tutur sineas berusia 36 itu.

Yosep lalu menghubungkannya dengan sejarah kelam bangsa ini yang masih menjadi misteri hingga sekarang. Orang-orang hanyut dibuai dengan nasionalisme semu melalui propaganda pelajaran sejarah di sekolah.

OFFICIAL TRAILER The Science of Fictions (Hiruk-Pikuk Si Al-Kisah) /KawanKawan Media

Kabar gembira lain dari Locarno Film Festival datang dari Makbul Mubarak. Bakal proyek film panjang perdananya yang bertajuk Autobiography berhasil mendapatkan dukungan pendanaan sebesar CHF50.000 ( Rp726 juta) dalam program Open Doors Hub.

Film yang estimasi bujet produksinya mencapai Rp6,3 miliar itu menceritakan kehidupan Rakib, remaja yatim piatu berumur 18 tahun, yang menjadi pelayan di rumah milik seorang pensiunan jenderal bernama Purna.

Purna yang sedang mencalonkan diri dalam pemilihan walikota kemudian mengangkat Rakib menjadi anak.

Sebagai ucapan terima kasih dan balas jasa, Rakib bertekad melayani Purna seumur hidupnya. Seperti kesetiaan anjing terhadap majikannya.

Konflik batin baru dirasakan Rakib saat mengetahui bahwa yang dilayaninya ternyata seorang monster. Sumpah setia berubah menjadi rasa bersalah yang selalu menghantui.

Keinginannya untuk berhenti tidak mendapatkan persetujuan dari Purna. Pernah ia coba melarikan diri ke luar negeri dengan bantuan penyelundup, tetapi Purna mengetahuinya.

Rakib masygul memikirkan nasibnya. Sebab dalam kontemplasinya ia menyadari bahwa untuk bisa sejalan dengan monster, dia juga harus mengubah diri menjadi monster.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR