LION AIR JT610

Pencarian bodi Lion Air menemui titik terang

IKHTISAR

Tim SAR tengah menyusuri laut di kawasan Pantai Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, Rabu (31/10/2018), untuk mencari korban dan bodi pesawat Lion Air PK-LQP yang jatuh di dekat daerah itu pada Senin (29/10/2018).
Tim SAR tengah menyusuri laut di kawasan Pantai Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, Rabu (31/10/2018), untuk mencari korban dan bodi pesawat Lion Air PK-LQP yang jatuh di dekat daerah itu pada Senin (29/10/2018). EPA-EFE /Bagus Indahono
  1. Pencarian bodi Lion Air menemui titik terang

    Misi pencarian bodi pesawat dan korban, sekaligus penyebab jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP penerbangan JT610 dari Jakarta ke Pangkal Pinang mulai mendapat titik terang. Meski belum berhasil ditemukan, namun sinyal dari kotak hitam (black box) pesawat Boeing 737 Max 8 tersebut berhasil dideteksi.

    Hal ini diungkapkan oleh Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, pada Rabu (31/10/2018) di kantor KNKT, Jalan Merdeka Timur, Jakarta Pusat.

    Berbekal alat Ping Locator dan dibuktikan dengan robot penyelam atau Robotly Underwater Vehicle (ROV), kini tim penyelam mengetahui kisaran area di mana kotak hitam berada, yakni pada radius 3 kilometer dari titik jatuh pesawat di Tanjung Karawang, Jawa Barat, dan kedalaman sekitar 30 meter. Oleh sebab itu mereka menyatakan harapan penemuannya sudah dikatakan mencapai 70 persen.

    “Dengan bantuan alat lain maka kami akan mempersempit area pencarian hingga radius 1 kilometer. Ketika kami menemukan serpihan di area tersebut maka kami akan menggunakan Side Scan Sonar untuk mendeteksi benda dengan memencarkan gelombang ke bawah guna mencari benda metal,” kata Soerjanto kepada wartawan, termasuk Yoseph Edwin dari Beritagar.id.

    Ping bisa berasal dari beragam benda di lautan, namun KNKT yakin bahwa mereka telah menangkap sinyal ping yang benar. Keyakinan itu berasal dari sinyal khas yang didapatkan, yakni pada frekuensi 37,5 kHz.

    “Memang banyak binatang laut yang suaranya menyamai angka itu, tapi yang paling sangat membedakan adalah interval yang rutin, 0,9 detik jedanya,” ujar Soerjanto.

    Baterai pada kotak hitam, yang memberi tenaga pada pemancar sinyal, minimum bekerja selama 30 hari. Tetapi karena baterai relatif masih baru--PK-LQP belum genap tiga bulan digunakan--menurut Soerjanto, kemungkinan baterai bisa bertahan hingga 60 hari.

    Jika sudah ditemukan, lama waktu untuk membaca isi kotak hitam akan tergantung pada kondisinya. Soerjanto yakin unit tersebut sudah rusak. Oleh karena itu isi kotak akan dipindahkan dahulu ke unit yang berkondisi baik, baru diunduh datanya.

    "Setelah diunduh, data diverifikasi, lalu digunakan sebagai analisis. Rata-rata membutuhkan seminggu, dua minggu. Yang (butuh waktu) lama transkripnya," jelas Soerjanto.

    Pencarian korban pesawat Lion Air hari kedua /Beritagar ID
  2. Mencari tahu nasib orang tercinta di JICT 2

    Satu per satu, keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610 mendatangi Posko Terpadu Evakuasi Korban Pesawat Lion Air di dermaga Jakarta International Container Terminal 2 (JICT) Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (31/10/2018).

    Setidaknya, sejak siang hingga Rabu sore terdapat enam keluarga yang mencoba untuk mencari tahu kondisi keluarga mereka. Mayoritas dari mereka pulang dengan tangan hampa, tetap belum mendapatkan info.

    Namun, menurut laporan wartawan Beritagar.id Andya Dhyaksa, tidak demikian dengan Epi Syamsul Komar. Sepasang sepatu yang sudah tidak utuh berwarna hitam menjadi penanda bahwa sang anak, Muhammad Ravi Andrian, merupakan salah satu penumpang pesawat nahas yang jatuh di Laut Jawa, sebelah utara Kerawang, Jawa Barat, Senin (29/10).

    "Sepatunya dik. Sepatunya," ucap Epi sambil terisak kepada dua sanak saudara yang mendampinginya, di Dermaga JICT 2, Rabu (31/10).

    Menurut Epi sang anak datang ke Jakarta untuk menonton pertandingan timnas Indonesia yang bertanding melawan Jepang di laga perempat final Piala AFC U-19 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (28/10).

    "Dia naik pesawat Lion pagi karena harus kerja," ucap Epi. Ravi merupakan pekerja di PT. Timah.

    Sama seperti Epi, Abdul Rahman juga mendapati benda milik anaknya, Riyan Andriyani, di Posko Terpadu di dermaga JICT 2.

    "Tadi saya melihat tasnya. Itu tas anak saya," katanya.

    Beda dari Epi, Abdul terlihat lebih tegar. Ia pun berharap jasad sang anak dapat ditemukan, bagaimana pun kondisinya.

    "Saya ikhlas. Saya hanya berharap jasadnya ditemukan. Tidak apa bila kondisinya sudah tidak utuh lagi, " kata Abdul.

    Beda kondisi dialami keluarga AKBP Mito. Ia adalah polisi yang bertugas di Polda Bangka Belitung sebagai Kabag Pelayanan Biro Sarana dan Prasarana. AKBP Mito merupakan salah satu korban.

    Setelah berulang mengamati, keluarga tak mendapati salah satu benda milik korban. Dian, istri korban, dan anaknya, Dito, hanya mutar-mutar melihat barang yang telah diangkut oleh tim evakuasi.

    "Belum ada yang ketemu (barang-barang Mito)," ucap Dito kepada wartawan, Rabu (31/10) siang.

    Meski kemungkinannya tipis, tapi Dito berharap sang ayah dapat pulang ke rumah dan selamat.

    "Harapannya bisa ketemu dan bisa kembali berkumpul dengan keluarga," katanya.

    Epi Syamsul Komar (duduk, tengah) menangis setelah melihat sepasang sepatu hitam yang ia yakini milik anaknya, Ravi Andrian, di Posko Terpadu Evakuasi Korban Lion Air, JICT 2 Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (31/10/2018). Ravi adalah salah satu penumpang Lion Air JT610 Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh di Tanjung Karawang pada Senin (29/10/2018).
    Epi Syamsul Komar (duduk, tengah) menangis setelah melihat sepasang sepatu hitam yang ia yakini milik anaknya, Ravi Andrian, di Posko Terpadu Evakuasi Korban Lion Air, JICT 2 Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (31/10/2018). Ravi adalah salah satu penumpang Lion Air JT610 Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh di Tanjung Karawang pada Senin (29/10/2018). | Andya Dhyaksa /Beritagar.id
  3. Hingga hari ke-3 terkumpul total 53 kantong jenazah

    Hingga Rabu (31/10/2018) petang, total lima kantong jenazah diantarkan oleh tim evakuasi jatuhnya pesawat Lion Air JT610 ke dermaga Jakarta International Container Terminal 2 (JICT), Tanjung Priok, Jakarta Utara. Demikian dikabarkan wartawan Beritagar.id Andya Dhyaksa.

    Satu kantong jenazah telah diserahkan ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, pada pagi hari. Empat lainnya, yang dibawa oleh dua kapal, yaitu RIB KPLP dan KPLP P348 milik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, tiba pada sore hari.

    Dengan tambahan lima kantong jenazah tersebut, artinya hingga hari ketiga musibah terjadi, sudah ada total 53 kantong jenazah yang berhasil dikumpulkan tim pencarian.

    "Tadi pagi, ada satu kantong jenazah yang sudah dibawa ke RS. Polri Kramat Jati (Jakarta Timur). Pada hari pertama, ada 24 kantong dan hari kedua 24 kantong," ucap salah seorang anggota Basarnas, Lintang, kepada Beritagar.id.

    Namun, 53 kantong tersebut tidak serta merta mewakili 53 korban. Jumlah korban masih belum diketahui, meski diduga seluruh 189 orang yang berada di dalam pesawat tersebut menjadi korban.

    "Kami tidak bisa bilang itu jasad tubuh. Oleh karena itu, kami selalu bilang kantong jenazah," ucap Lintang.

    Memang, dalam Data Pergerakan Unsur Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas, dituliskan "kantong jenazah bagian tubuh".

    Semua pihak yang berwenang terus melakukan pencaharian. Seperti kapal RIB KPLP dan KPLP P348 langsung jalan kembali begitu menurunkan dua kantong jenazah tadi.

    Hingga saat ini, tim gabungan evakuasi jatuhnya Lion Air masih belum menemukan bagian utama pesawat dari maskapai berlogo singa berkelir oranye tersebut.

    Pada pagi tadi, Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto, mengatakan titik terang keberadaan badan pesawat. Namun, hingga sore ini, belum terdengar keberadaannya.

  4. Sonar deteksi objek besar di perairan Pantai Tanjung Pakis

    Sonar yang digunakan tim Badan Nasional Pencarian dan Penyelamatan (BNPP/Basarnas) mendeteksi adanya objek besar di perairan dekat Pantai Tanjung Pakis, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

    Pantai tersebut merupakan bagian dari Tanjung Karawang, titik jatuhnya Pesawat Boeing 737 Max 8 jurusan Jakarta-Pangkal Pinang milik maskapai Lion Air.

    Ada dugaan bahwa objek tersebut adalah badan pesawat (fuselage) beregristrasi PK-LQP itu, tetapi Direktur Kesiapsiagaan Basarnas, Didi Hamzar, menyatakan mereka tak mau berspekulasi.

    “Hasil deteksi sonar, ada terdeteksi objek yang diperkirakan di titik perairan Tanjung Pakis. Sampai saat ini masih dilakukan penyelaman,” kata Didi dalam konferensi pers di Kantor Basarnas, Jakarta, Rabu (31/10/2018).

    “Objeknya apa? Belum diketahui. Kami tim pencarian tidak boleh berandai-andai.”

    Didi mengatakan tim penyelam yang beranggotakan 100 orang akan menyelami lima titik di sekitar Tanjung Pakis untuk menemukan objek terdeteksi itu.

    Proses pencarian, jelas Didi kepada Dian Afrilia dari Beritagar.id, saat ini diperluas lagi dari 10 mil laut menjadi radius 15 mil laut dari titik jatuhnya pesawat.

    Selain 30 kapal laut dari Basarnas dan berbagai instansi lainnya, ada 6 helikopter yang terlibat pencarian hari ini.

    Didi menyatakan ada dua daerah prioritas pencarian. Daerah prioritas 1 untuk pencarian bawah air yang dilakukan menggunakan KRI Rigel, KN SAR, Kapal Baruna Jaya, Kapal Dominos, dan penyelaman.

    Sementara daerah prioritas 2 untuk pencarian permukaan air dilakukan 30 kapal.

    Hingga Rabu (31/10) pukul 12.00 WIB, Didi menyatakan total 49 kantong jenazah telah dikirimkan ke RS Polri Kramat Jati.

  5. Direktur Teknik Lion Air dibebastugaskan, ramp check diperketat

    Kementerian Perhubungan telah meminta Lion Air untuk membebastugaskan direktur teknik maskapai tersebut terkait jatuhnya pesawat Boeing 737 Max 8 dengan registrasi PK-LQP. Pesawat yang tengah menjalani rute Jakarta-Pangkal Pinang dengan kode JT610 pada Senin (29/10/2018) pagi itu jatuh di laut dekat Tanjung Karawang, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

    "Hari ini kita akan membebastugaskan Direktur Teknik Lion. Kita bebastugaskan supaya diganti dengan orang yang lain, juga perangkat-perangkat teknik yang waktu itu merekomendasi penerbangan itu," ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dikutip Liputan6.com, Rabu (31/10).

    Budi menegaskan bahwa Kemenhub, sebagai otoritas penerbangan di Indonesia, berwenang membekukan tugas direksi maskapai.

    Presiden Direktur Lion Air, Edward Sirait, dalam detikFinance menyatakan akan memenuhi permintaan Kemenhub.

    "Jadi Pak Menteri (Menteri Perhubungan Budi Karya) minta, kami akan laksanakan apapun arahan dan keputusan dari pemerintah dalam hal ini Kemenhub," kata Edward.

    "Kita proses hari ini, kita akan laksanakan. Direktur Teknik tugasnya merawat pesawat. Dia yang bertanggung jawab mengenai perawatan pesawat."

    Intensifkan ramp check

    Budi juga mengatakan Kemenhub akan mengintensifkan ramp check terhadap pesawat-pesawat milik maskapai di Indonesia, khususnya Lion Air.

    Ramp check adalah pemeriksaan kelaikan terbang pesawat untuk menjamin keselamatan penerbangan. Selain pesawat, pemeriksaan juga dilakukan pada kru yang bertugas: pilot, perencana penerbangan (FOO), dan awak kabin.

    Pengecekan dilaksanakan oleh gabungan inspektur dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (KPPU) serta Kantor Otoritas Bandar Udara seluruh Indonesia.

  6. Lion Air B38M PK-LQP sempat kurangi kecepatan dan gagal menanjak

    Pesawat Lion Air B38M PK-LQP yang jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat, (29/10), sempat menempuh rute Denpasar-Jakarta malam sebelumnya. Ini adalah perjalanan ketiga di rute yang sama sejak pesawat ini datang 15 Agustus 2018 lalu. Sebelumnya, burung besi ini mengudara di rute tersebut pada 9 September 2018 dini hari, 11 September 2018, 17 Oktober 2018, dan terakhir pada 28 Oktober 2018.

    Yang menarik dari catatan penerbangan rute yang terekam Flightradar24, sang pilot sempat mengurangi kecepatan pada posisi menanjak dan sebelum kondisi stabil. Hal ini tak pernah dilakukan di tiga penerbangan sebelumnya.

    Pengurangan kecepatan terjadi pada menit ke 04:48 usai lepas landas, dari yang semula 324 knots atau sekitar 600 km/jam menjadi 247 knots atau sekitar 457,4 km/jam.

    Kemudian, ia butuh waktu dua detik untuk kembali mengondisikan pesawat agar stabil pada kecepatan 451 knots dan ketinggian 27.675 kaki.

    Pagi harinya, pesawat ini mengangkasa dari Jakarta-Pangkal Pinang pukul 06.20 WIB. Pada menit ke-11, sinyal yang dipancarkan pesawat putus di ketinggian 3.650 kaki dan kecepatan 345 knots.

    Di rute tersebut, PK-LQP pernah menuntaskan perjalanan sebanyak dua kali yakni pada 30 Agustus 2018 dan 17 September 2018.

    Pada menit yang sama, kedua penerbangan sebelumnya sudah mencapai ketinggian sekitar 17.000 kaki, atau hampir tiga kali lipat dari ketinggian penerbangan saat tragedi tersebut.

    Ketika sang pilot tak meningkatkan ketinggian pesawat sebelum jatuh, ia sempat meminta kembali ke bandara, seperti diungkapkan Kepala Otoritas Bandara Wilayah 1 Kelas Utama Bagus Sunjoyo. “Tidak ada statement kesalahan mesin. Permintaan itu disetujui ATC (Air Traffic Controller) dan kemungkinan langsung berbalik kembali ke Jakarta,” tuturnya.

    Namun, pesawat gagal kembali dan jatuh di koordinat S 5°49.052’ E 107°06.628’.

  7. Polri belum berhasil identifikasi jenazah korban JT610

    Kapusdokes Mabes Polri, Arthur Tampi, mengatakan pihaknya belum bisa mengidentifikasi identitas dari 24 kantong jenazah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610 rute Jakarta-Pangkal Pinang.

    Menurut Arthur, dari 24 kantong jenazah yang tiba hingga Selasa (30/10/2018) siang, terdapat sebanyak 84 potongan tubuh yang kemudian dilakukan identifikasi post-mortem.

    “Kita melalukan forensik oleh dokter-dokter spesialis, kita sudah mengambil data antemortem 185 data dari total tersebut sudah ada 147 sudah kita ambil data DNA-nya,” ujar Arthur, dalam konferensi pers di RS Polri Kramat Jati, Selasa (30/10).

    Dalam proses identifikasi tersebut Arthur menyatakan tingkat kesulitan didasari kondisi korban itu sendiri. Korban yang dibawa ke RS Polri dalam keadaan bagian-bagian tubuh yang sudah terpisah, katanya, memiliki tingkat kesulitan identifikasi lebih berat.

    Pada Selasa (30/10) pukul 18.00 WIB, jumlah kantong jenazah yang tiba di RS Polri Kramat Jati sudah bertambah menjadi total 34 kantong jenazah.

  8. Total 34 kantong jenazah sudah diserahkan ke RS Polri

    Kepala Badan Nasional Pencarian dan Penyelamatan (BNPP/Basarnas) Marsekal Madya Muhammad Syaugi menyatakan hingga Selasa (30/10/2018) pukul 17.00 WIB, total sudah 34 kantong jenazah korban jatuhnya Lion Air JT610 yang diserahkan ke RS Polri Kramat Jati.

    "Sementara, kantong puing-puing serpihan ada sekitar 40-an," kata Syaugi saat ditemui Ivan dari Beritagar.id di Posko Basarnas di JICT 2 Tanjung Priok, Jakarta Utara.

    Jumlah kantong jenazah belum tentu ekuivalen dengan jumlah korban yang telah ditemukan. Pasalnya, sebagian besar jenazah yang ditemukan berupa potongan-potongan tubuh mereka.

    "Untuk kepastiannya total jenazahnya, tunggu tim identifikasi dari rumah sakit. Biasanya membutuhkan waktu 4-5 hari," ujar Syaugi.

    Saat ini, lanjutnya, tim Basarnas masih memprioritaskan upaya evakuasi korban. Ada 30 penyelam Basarnas ditambah 20 penyelam TNI AL dan Marinir yang tengah bekerja.

    "Pencarian korban akan berlangsung selama 7 hari sesuai SOP, tapi akan diperpanjang hingga 3 hari jika masih diperlukan," kata Syaugi.

    Untuk melihat situasi di bawah air dan membantu gerak penyelam, Basarnas menggunakan Multi Beam Echo Sounder. Alat tersebut juga digunakan saat mencari korban tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba beberapa waktu lalu.

    Jokowi tinjau Posko di JICT 2

    Sementara itu, Presiden Joko "Jokowi" Widodo datang meninjau Posko Basarnas di JICT 2 Tanjung Priok pada Selasa (30/10) sekitar pukul 16.10 WIB. Selain Kepala Basarnas, tampak Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Panglima Koarmada I Laksamana Muda Yudo Margono menyambut kedatangan Jokowi.

    Presiden segera meninjau puing-puing pesawat yang telah ditemukan, kemudian berbincang dan menyalami anggota Basarnas yang ada di lokasi. Jokowi lalu mendatangi tenda posko evakuasi dan mendengarkan informasi terkait kegiatan tersebut.

    Sekitar 25 menit kemudian, Jokowi pergi meninggalkan lokasi tanpa memberi keterangan apapun kepada media. Budi menyatakan Jokowi datang untuk memberi semangat kepada tim dan melihat apa yang sudah dan sedang mereka kerjakan.

  9. Keluarga korban diarahkan ke RS Polri

    Pihak berwenang mulai mengerahkan keluarga para korban insiden pesawat Lion Air JT610 ke RS Polri di Kramat Jati, Jakarta Timur.

    Pengarahan ini dilakukan lantaran seluruh korban yang jika ditemukan dan berhasil dievakuasi dari perairan Tanjung Karawang, Karawang, Jawa Barat, akan dibawa ke RS Polri.

    Karena pemindahan itu, pusat krisis di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, pun relatif tenang pada Selasa (30/10/2018).

    Dilaporkan jurnalis magang Beritagar.id, Rima Trisnayanti, situasi di halaman gedung Maintenance Division PT Angkasa Pura II itu relatif lengang.

    Di sana, pihak berwenang menyediakan segala informasi melalui kertas tertempel di dinding. Selain nomor telepon darurat yang bisa dihubungi, terdapat pula daftar penumpang (manifest) Lion Air nahas tersebut.


    Staf ahli Lion Air dan Jasa Raharja berada di sana. Mereka tampak tenang dan bisa menjawab pertanyaan media dengan baik.

    Tak banyak keluarga korban yang datang. Hanya segelintir datang untuk mencocokkan nama anggota keluarga dengan manifest. Jika terkonfirmasi, keluarga langsung diarahkan ke RS Polri. Sejauh ini masih ada 10 nama dari daftar penumpang yang belum mendapat konfirmasi dari keluarga.

    Sementara itu, suasana tenang pecah pada sekitar pukul 15.15 WIB. Seorang ibu paruh baya datang dengan menangis histeris.

    Ibu Hj. Mariana, demikian namanya, meratapi nasib anak laki semata wayangnya, Muhammad Nasir, yang menumpang Lion Air JT610.

    
"Anak saya Muhammad Nasir, Pak. Anak laki-laki saya satu-satunya," teriaknya histeris di depan petugas berwenang. 


    Disampingnya, perempuan yang lebih muda terlihat menenangkan dan memeluk Hj Meliana. Meski raut mukanya sama pilunya. Seorang laki-laki pun datang sebagai "juru bicara". Lelaki yang nampak lebih tenang ini mewakili keluarga dan memberi keterangan kepada awak media.

    "Kami dari Aceh," katanya dengan logat melayu kental. Tak lama kemudian, Hj Mariana dan keluarga beranjak ke RS Polri.

  10. KNKT mulai investigasi jatuhnya Lion Air JT610

    Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengumumkan telah memulai proses penyelidikan terhadap jatuhnya pesawat Lion Air JT610 di laut Tanjung Karawang, Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018).

    Wakil Ketua KNKT, Haryo Satmiko, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (30/10), menyatakan penyelidikan diawali dengan pembentukan Pusat Komando (Command Center). Mereka juga telah menggerakkan beberapa tim investigator.

    “Hingga hari kedua ini, 30 Oktober, tim KNKT masih berusaha mengumpulkan seluruh data terkait kejadian tersebut,” kata Haryo.

    Ia memaparkan, pada Senin (29/10) malam, tim KNKT telah merapat ke Kapal Baruna Jaya I, milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), untuk bergerak ke lokasi. Mereka tiba di lokasi jatuhnya pesawat dengan nomor registrasi PK-LQP itu pada Selasa (30/10) pagi pukul 06.00 WIB.

    “Sesampainya di sana tim KNKT langsung berkoordinasi dengan SAR Mission Coordinator (SMC) Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP/Basarnas), TNI dan Pertamina untuk memulai proses pencarian main wreckage (badan utama pesawat),” jelas Haryo.

    Mereka membawa Rigid Inflatable Boat (RIB) dengan membawa peralatan multi-beam sonar dan ping locator untuk menyisir lokasi yang diperkirakan merupakan titik jatuhnya pesawat.

    Selain itu, KNKT juga mengirim tim investigator ke Posko Basarnas di Jakarta International Container Terminal II (JICT II) Tanjung Priok untuk berkoordinasi dengan BNPP dan PT. Indonesia Port Company (IPC) dalam memilah barang temuan dari lokasi kecelakaan yang telah diturunkan di terminal tersebut.

    “Pemilahan ini penting untuk menentukan proses investigasi KNKT lebih lanjut,” kata Haryo.

    Ia juga menyatakan hingga hari ini beberapa badan penyelidik kecelakaan dari luar negeri telah menawarkan bantuan mereka, termasuk Argentina JIAAC (Junta de Investigation de Accidentes de Aviation Civil), National Transportation Safety Board (NTSB) dari Amerika Serikat, Transport Safety Investigation Bureau (TSIB) dari Singapura, dan Air Accident Investigation Bureau (AAIB) dari Malaysia.

    “Kabar terbaru, Arab Saudi juga telah menawarkan bantuan,” tambah Ony Suryowibowo, investigator KNKT.

    Semua tawaran bantuan tersebut masih dalam proses pendataan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) agar pergerakan mereka bisa lebih mudah.

    “Setelah semua didata, barulah sumber daya manusianya dipakai,” kata Ony.

    Kendati demikian, saat ini sudah ada bantuan asing berupa perlengkapan yang telah digunakan. Misalnya seperti hydrophone dari Singapura. Hydrophone adalah mikrofon air yang berguna untuk mencari suara di dalam laut.

    Bantuan yang masih dalam proses adalah dari NTSB Amerika Serikat. Rencananya, menurut Ony, mereka akan membawa teknisi dari pabrik Boeing yang akan tiba di Tanah Air pada Rabu (31/10). Pesawat yang jatuh adalah Boeing 737 Max 8.

    “Tim AS datang dengan anggota 10 orang. Sedangkan Singapura menyusul dengan anggota sebanyak 3 orang,” jelas Ony.

    KNKT, jelasnya kepada Tasya Simatupang dari Beritagar.id, diberi waktu satu tahun untuk menyelesaikan penyelidikan. Tetapi mereka harus memberikan preliminary report (laporan pendahuluan) dalam satu bulan.

    Preliminary report itu seperti kondisi pilot, bentuk serpihan, pilot berlisensi atau tidak, dan sebagainya,” ujar Ony.

    “Sementara dalam 1 tahun kami harus melaporkan kenapa kecelakaan ini bisa terjadi. Itu juga kalau tidak dilakukan pengetesan yang memerlukan keterlibatan negara lain.”

  11. Butuh 4 hari untuk identifikasi satu profil DNA korban

    Masalah terbesar dalam identifikasi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610 (29/10/2018) adalah tak utuhnya bagian tubuh korban yang ditemukan. Untuk itu identifikasi melalui profil DNA menjadi hal yang wajib dilakukan.

    Kapusdokes Mabes Polri, Arthur Tampi, mengatakan pihaknya membutuhkan waktu hingga empat hari untuk mengidentifikasi satu profil DNA. Proses tersebut bisa lebih cepat apabila keluarga korban bisa memberikan data forensik primer secara lengkap.

    “Kita mengharapkan keluarga datang kalau dia ibu dan bapaknya, anaknya harus datang atau orang tua. Kalau yang korban ibunya, maka anaknya atau orang tua yang datang ke sini,” ujar Arthur kepada wartawan, termasuk Elisa Valenta dari Beritagar.id, di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (30/10).

    Sementara itu, Wakapolri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto menyatakan hingga Selasa (30/10) siang, tim DVI (Disaster Victim Identification) Polri sudah menerima 24 kantong jenazah di RS Polri.

    Dalam 24 kantong jenazah tersebut, menurut Ari, tidak berarti berisi jenazah secara utuh. Satu kantong bisa berisi beberapa jenazah, sebab kondisi korban ditemukan dalam keadaan sudah hancur, tercerai-berai, dan tulang-tulang sudah lepas.

    RS Polri telah mengerahkan 15 dokter forensik untuk kegiatan identifikasi post-mortem (pasca-kematian).

    "Dokter Odontologi yang nanti akan melaksanakan kegiatan forensik dan gigi, kemudian ada juga ahli DNA yang siap di sini. Tadi malam sudah bekerja dan pagi ini baru saja melihat kegiatan post-mortem di lokasi dan ada kegiatan antemortem," kata Wakapolri.

    Selain di Jakarta, kegiatan pengambilan data antemortem (data diri korban sebelum meninggal dunia) juga dilakukan oleh kepolisian Bangka Belitung kepada keluarga korban yang tinggal di sana.

  12. Dua kantong jenazah ditemukan, Basarnas perluas radius pencarian

    Hingga Selasa (30/10/2018) pukul 12.00 WIB, Badan Nasional Pencarian dan Penyelamatan (BNPP/Basarnas) melaporkan telah ditemukan dua kantong jenazah korban jatuhnya Lion Air JT610 di laut Tanjung Karawang, Jawa Barat.

    Dengan demikian, sudah 26 kantong jenazah yang berhasil ditemukan sejak pencarian mulai dilakukan pada Senin (29/10).

    “Tapi ini belum dapat ditentukan jumlah jenazahnya ada berapa (dalam dua kantong itu),” kata Didi Hamzar, Direktur Kesiapsiagaan Basarnas, dalam konferensi pers di Kantor Basarnas, Jakarta.

    Hari ini, dilaporkan wartawan Beritagar.id Dian Afrillia, operasi SAR yang dilakukan melibatkan 35 unit kapal, termasuk milik Bea Cukai, telah dilakukan secara maksimal dengan melakukan penyisiran. Ada 35 unit kapal yang membantu proses pencarian, termasuk dari Bea Cukai, KRI, dan KNP.

    “Penyelaman masih dilakukan, juga dilakukan pencarian udara. Kurang lebih ada 50 penyelam dari Basarnas,” ujar Didi.

    Area pencarian, jelas Didi kepada wartawan termasuk Dian Afrillia dari Beritagar.id, diperluas dua kali lipat, dari radius 5 mil laut menjadi 10 mil laut dari titik yang diduga sebagai lokasi jatuhnya pesawat.

    Hampir seluruh serpihan pesawat Boeing 737 Max 8 yang mengambang telah dikumpulkan, sehingga pencarian sekarang terpusat pada badan besar pesawat.

    Semua informasi, menurut Didi, terus dikumpulkan, termasuk dari nelayan. Basarnas juga telah mendirikan posko di Tanjung Karawang.

    Untuk mencegah beredarnya informasi yang simpang siur, Didi menegaskan agar informasi dari Basarnas dijadikan sebagai rujukan utama. “Bukan karena niat untuk menutup-nutupi informasi,” jelas Didi.

  13. Kemenhub akan periksa seluruh Boeing 737 Max 8 di Indonesia

    Kementerian Perhubungan telah menginstruksikan dilakukannya pemeriksaan khusus terhadap seluruh Boeing 737 Max-8 yang beroperasi di Indonesia, terkait jatuhnya pesawat sejenis milik maskapai Lion Air di Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018).

    Instruksi tersebut termaktub dalam surat berkop Direktorat Jenderal Perhubungan Udara nomor 1063/DKPPU/STD/X/2018 bertanggal 29 Oktober 2018.

    Surat tersebut ditujukan kepada Direktur Utama PT Garuda Indonesia dan PT Lion Mentari Airlines dan ditandatangani oleh Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Ditjen Hubud Kemenhub, Capt. Avirianto.

    Pemeriksaan yang dilakukan mencakup:

    a. Indikasi repetitive problem;

    b. Pelaksanaan troubleshooting;

    c. Kesesuaian antara prosedur dan implementasi pelaksanaan aspek kelaikudaraan;

    d. Kelengkapan peralatan (equipment) untuk melakukan troubleshooting pada pesawat udara Boeing 737 Max 8.

    Tidak ada perintah larangan terbang bagi pesawat jenis itu.

    Lion Group telah memesan 219 unit Boeing 737 Max 8. Unit perdana mereka terima pada 22 Mei 2017 dan digunakan oleh anak perusahaan Malindo Air.

    Lion menjadi maskapai pertama di dunia yang mengoperasikan pesawat tersebut.

    Boeing 737 Max 8 yang jatuh di Tanjung Karawang, adalah satu dari lima unit awal yang diterima Lion Air. Pesawat dengan registrasi PK-LQP itu diterima pada 13 Agustus 2018 dan langsung beroperasi pada bulan yang sama.

    Sementara maskapai pelat merah, Garuda Indonesia, dikabarkan Kompas.com, memesan 50 unit. Boeing 737 Max 8 perdana Garuda diterima pada 26 Desember 2017 dan mulai beroperasi pada 1 Januari 2018.

    Saat ini ada empat seri Boeing 737 Max yang dijual produsen asal Amerika Serikat itu. Mengutip The Wall Street Journal, lebih dari 4.500 unit sudah dipesan dan sekitar 200 unit sudah dikirim kepada pembeli. Analis memperkirakan pesawat ini berkontribusi 40 persen pada total keuntungan Boeing.

    Kecelakaan pesawat yang digunakan Lion Air, dikabarkan CNBC, membuat saham Boeing pada penutupan bursa Senin (29/10) sempat turun hingga 6,6 persen—terendah sejak Februari 2016.

  14. Penyelaman dimulai kembali, fokusnya pencarian korban

    Pada Selasa (30/10/2018) pagi, penyelaman di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT610, telah dimulai kembali.

    Fokus utama tim penyelam Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP/Basarnas) adalah mencari korban--penumpang dan kru--pesawat rute Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh pada Senin (29/10) pagi tersebut.

    TNI AL juga telah mengerahkan kapal-kapal yang dilengkapi sonar untuk mencari badan pesawat yang belum juga ditemukan.

    Detikcom mengabarkan bahwa beberapa penyelam profesional telah menawarkan diri kepada Basarnas untuk terjun membantu.

    Pada Senin (29/10), Presiden Joko Widodo, dikutip Tempo.co, juga telah memerintahkan Basarnas, TNI, dan Polri untuk melakukan pencarian korban kecelakaan ini selama 24 jam penuh setiap harinya.

    Sejauh ini, tim penyelamat telah menemukan puing-puing pesawat Boeing 737 Max 8 tersebut, potongan tubuh manusia yang diduga penumpang pesawat nahas itu, dan beberapa barang bawaan mereka.

    Hingga Senin (29/10) malam, Lion Air menyatakan sudah menerima konfirmasi dari Basarnas bahwa 24 kantong jenazah telah dibawa ke RS Polri di Kramat Jati, Jakarta Timur. (h/t Liputan6.com)

    Kepolisian RI mengimbau keluarga korban untuk segera datang ke rumah sakit tersebut guna pengambilan data antemortem (data diri korban sebelum meninggal dunia).

    “Data medis, properti, ijazah yang ada sidik jari, foto terakhir, dan ciri khas korban harap untuk diserahkan kepada anggota DVI (Disaster Victim Identification),” jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Argo Yuwono dalam Tribunnews.com.

    Kepala Rumah Sakit Polri, Kombes Pol Musyafak, mengatakan keluarga dari jenazah yang telah teridentifikasi akan dihubungi langsung oleh pihaknya.

    "Karena sudah ada kontak di data. Kalau sudah teridentifikasi akan kami informasikan," ucap Musyafak dalam CNN Indonesia.

    Oleh karena itu ia meminta agar keluarga korban tidak menunggu di sekitar ruangan DVI. Lion Air telah menyediakan tempat menunggu bagi mereka dan RS Polri juga menyediakan ruangan untuk keluarga di Gedung Promoter Lantai 1. Di sana, keluarga juga dapat memantau perkembangan proses identifikasi dari monitor yang dipasang.

    Untuk penjelasan lebih lanjut, keluarga korban bisa menghubungi Crisis Center Lion Air melalui nomor telepon (021)-80820002.

  15. Penyelaman dilanjutkan besok, TNI AL siapkan kapal canggih

    Kepala Basarnas Jakarta, Hendra Sudirman, mengumumkan penyelaman untuk mencari korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610, Senin (29/10/2018), disetop sementara pada pukul 17.20 WIB dan akan dilanjutkan Selasa (30/10) mulai pukul 10.00 WIB.

    “Penyelaman disetop pada pukul 17.20 karena kurangnya visibilitas. Selain itu ada juga gangguan dari arus. Kalau cuaca di lokasi masih bagus,” kata Hendra di Posko Basarnas JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

    Namun ia menegaskan hanya penyelaman yang dihentikan. Proses pencarian menggunakan kapal laut masih berlangsung.

    Pada pukul 18.05, dikabarkan wartawan Beritagar.id Indra Rosalia, KRI Sikuda merapat ke dermaga JICT 2. Tim itu membawa empat kantong bagian tubuh jenazah dan sejumlah puing pesawat.

    Tiga buah ambulans segera membawa kantong tersebut ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

    Panglima Armabar, Laksamana Madya Yudo Margono menyatakan, TNI AL menyiagakan enam kapal di lokasi pencarian di daerah Tanjung Karawang, Jawa Barat. Mereka dibantu oleh delapan kapal kecil.

    Kapal lainnya, kata Panglima Armabar, sudah kembali ke pangkalan TNI AL di Tanjung Priok karena kekurangan logistik.

    Kapal yang masih berada di lokasi pencarian, jelas Yudo, termasuk KRI Rigel-933 yang punya kemampuan sonar bagus. Di kapal tersebut telah siap 25 penyelam TNI AL.

    “Besok kalau bangkai (badan) pesawat belum ditemukan, TNI AL akan mengerahkan KRI I Gusti Ngurah Rai yang punya sonar jauh lebih bagus,” tegas Panglima Armabar.

  16. Basarnas belum temukan badan pesawat dan kotak hitam

    Direktur Operasi Badan Pencarian dan Penyelamatan Nasional (BPPN/Basarnas), Brigjen Bambang Suryo, Senin (29/10/2018), menyatakan badan pesawat Lion Air JT610 belum ditemukan.

    Kotak hitam (black box) yang bisa membantu memecahkan peristiwa jatuhnya pesawat dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang pada Senin (29/10) pagi itu juga belum ditemukan.

    “Hasil pencarian saat ini baru menemukan beberapa potong tubuh korban yang dimasukkan ke dalam 6 kantong mayat. Kemungkinan bagian tubuh korban terpecah karena kerasnya hantaman badan pesawat ke air, sehingga membuat tubuh korban membentur badan pesawat,” tutur Bambang dalam konferensi pers di kantor Basarnas, Jakarta (29/10).

    Ia memperkirakan tidak ada yang selamat dari kecelakaan tersebut dan tubuh mereka masih terjebak di dalam badan pesawat.

    “Prediksi saya, sudah tidak ada yang selamat. Karena korban yang ditemukan saja beberapa potongan tubuh, apalagi ini sudah berapa jam,” jelas Bambang.

    Wartawan Beritagar.id Tasya Simatupang melaporkan, beberapa serpihan, termasuk bagian ekor yang terdapat logo Lion Air telah ditemukan tim Basarnas. Temuan hanya berupa patahan saja, tidak ada tanda-tanda terbakar atau ledakan pada serpihan tersebut.

    Bambang menyatakan semua serpihan yang ditemukan akan langsung diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang berwenang melakukan investigasi.

    Para penyelam Basarnas dan TNI, lanjutnya, terus melakukan upaya pencarian di dalam laut. Pada pukul 15.00 WIB mereka mendapat bantuan berupa ROV (Remotely Operated Underwater Vehicle) alias kapal selam kecil yang dioperasikan jarak jauh untuk memantau kondisi dalam laut.

    “Pencarian akan diteruskan selama 24 jam. Belum dapat diprediksi sampai kapan pencarian selama 24 jam dilakukan. Namun, jika hingga hari ke-7 (sesuai SOP) masih dibutuhkan, rencananya pencarian akan dilanjutkan,” jelas Bambang.

  17. 6 Kantong jenazah dibawa ke RS Polri

    Kantong jenazah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610 dibawa keluar kapal menuju Posko Basarnas di JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara (29/10/2018).
    Kantong jenazah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610 dibawa keluar kapal menuju Posko Basarnas di JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara (29/10/2018). | Indra Rosaria /Beritagar.id

    Hingga Senin (29/10/2018) pukul 17.30, Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (BPPN/Basarnas) mengabarkan telah membawa enam kantong jenazah korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610 dibawa ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

    Empat kantong dibawa oleh kapal laut MP. AC. ke Posko Basaranas di JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, sementara dua lagi menyusul dibawa kapal KN. P348. Dari posko tersebut, kantong jenazah dibawa ke RS Polri menggunakan ambulans.

    Meski ada enam kantong jenazah, belum bisa dipastikan jumlah korban JT610 yang telah ditemukan.

    Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Basarnas, Suhri Sinaga, menjelaskan bahwa yang ada dalam kantong tersebut adalah potongan-potongan tubuh.

    “Kantong itu belum berisi full jenazah. Masih potongan. Yang bisa menentukan jumlah korban adalah tim forensik Disaster Victim Investigation Polri,” kata Suhri kepada wartawan Beritagar.id Indra Rosalia di Posko Basarnas JICT 2.

    Selain potongan tubuh, tim Basarnas juga menemukan beragam barang yang diduga milik para korban.

    Suhri menjelaskan arus laut dalam laut yang relatif deras menjadi kendala utama dalam proses pencarian para korban jatuhnya pesawat tersebut.

    Saat ini pencarian dilakukan dalam area seluas 458,48 mil laut persegi, atau sekitar 1.500 km persegi.

    “Area pencarian itu setiap harinya akan berubah,” kata Suhri.

    Peta area pencarian pesawat Lion Air JT610 di utara Tanjung Karawang, Jawa Barat (29/10/2018).
    Peta area pencarian pesawat Lion Air JT610 di utara Tanjung Karawang, Jawa Barat (29/10/2018). | Indra Rosalia /Beritagar.id
  18. Lion Air JT610 belum tempuh separuh perjalanan

    Penerbangan Lion Air JT610 rute Jakarta-Pangkalpinang pada 29 Oktober 2018
    Penerbangan Lion Air JT610 rute Jakarta-Pangkalpinang pada 29 Oktober 2018 | Lokadata /Beritagar.id

    Pesawat Lion Air JT610 dengan rute penerbangan Jakarta-Pangkalpinang seharusnya menempuh perjalanan sepanjang 442 km dengan rata-rata lama penerbangan 51 menit, menurut catatan Flightradar24. Namun, baru 10 menit terbang, pesawat PK-LQP ini sudah hilang.

    Peta di atas menunjukkan pesawat belum menuntaskan separuh perjalanannya tetapi sudah hilang kontak. Dalam rekaman terakhir, pesawat berada di ketinggian terakhir 1.112,5 meter dengan kecepatan 638,94 km/jam. Lokasi hilangnya pesawat ini tercatat berada di sekitar Tanjung Kerawang, Jawa Barat atau di koordinat S 5°49.052’ E 107°06.628’.

  19. Kronologi kecelakaan JT610 versi KNKT

    Wakil Ketua Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Haryo Satmiko merilis kronologi waktu kecelakaan pesawat Boeing 737 MAX 8 yang dioperasikan Lion Air, Senin (29/10/2018).

    6.20 WIB

    Pesawat berangkat dari Bandara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang. Pesawat dijadwalkan tiba di Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, pada pukul 07.20 WIB

    6.22 WIB

    Pilot mengontak ATC untuk menyampaikan permasalahan flight control pada ketinggian 1.700 kaki dan meminta naik pada ketinggian 5.000 kaki. ATC—di Cengkareng—mengizinkan pesawat naik ke 5.000 kaki.

    6.32 WIB

    ATC kehilangan kontak dengan pesawat bernomor registrasi PK-LQP

    8.00 WIB

    KNKT menerima informasi dari Lion Air terkait kabar kehilangan kontak. KNKT kemudian berkoordinasi dengan Basarnas, AirNav Indonesia, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, BPPT, Pelindo II, BMKG, Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok, dan lainnya.

    9.40 WIB

    Tim investigator KNKT menuju Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara, berkoordinasi dengan BPPT untuk pemakaian Kapal Baruna Jaya IV dalam pencarian jatuh pesawat yang dimaksud. Baruna Jaya IV diketahui memiliki peralatan Multi-Beam Sonar.

    13.30 WIB

    KNKT mengirimkan occurrence notification kepada International Civil of Aviation Organization (ICAO), Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, National Transportation Safety Board (NTSB) AS, dan Aircraft Accident Investigation Bureau (AAIB) India.

    14.00 WIB

    Tim investigator KNKT menuju Pelabuhan Tanjung Priok untuk berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut untuk pemakaian KM Enggano untuk membawa pinger location milik KNKT untuk mencari lokasi pesawat.

    Dalam investigasi ini KNKT juga menerima tawaran kerja sama dan bantuan dari pihak Singapura TSIB (Transport Safety Investigation Bureau) dan Malaysia AAIB (Air Accident Investigation Bureau).

  20. Australia larang pegawai pemerintah naik Lion Air

    Pemerintah Australia bereaksi cepat terhadap jatuhnya pesawat Lion Air JT610 di laut Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018).

    Mereka melarang pegawai dan tenaga kontrak pemerintahan untuk naik maskapai tersebut. Demikian diumumkan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia melalui situs Smartraveller.gov.au.

    “Keputusan ini akan ditinjau ulang ketika temuan hasil investigasi sudah jelas,” tulis mereka.

  21. CEO Lion Air klaim pesawat layak terbang

    CEO Lion Air, Edward Sirait, mengklaim bahwa pesawat Boeing 737 Max 8 yang jatuh di laut Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018) sudah laik terbang.

    Edward, dalam konferensi pers di Bandara Soekarno-Hatta, membenarkan kabar bahwa pesawat bernomor registrasi PK-LQP sempat mengalami kendala teknis setelah terbang dari Denpasar ke Jakarta, Minggu (28/10).

    “Tapi (masalah itu) sudah diselesaikan dan dapat izin terbang sore kemarin,” kata Edward kepada wartawan, termasuk Ronna Nirmala dari Beritagar.id.

    Ia tak menjelaskan kendala teknis apa yang dialami oleh pesawat yang baru diterima Lion Air dari Boeing pada 13 Agustus 2018 dan menjalani tugas perdananya untuk maskapai itu pada 15 Agustus.

    “Selama beroperasi pesawat dapat izin terbang 9-10 jam per hari,” kata Edward.

    Pilot Capt. Bhavye Suneja dipastikannya sudah berpengalaman dengan 6.000 jam terbang, sementara co-pilot Harvino memiliki 5.100 jam terbang.

    Edward menyatakan mereka masih mencari tahu penyebab kecelakaan. “Kami juga bingung karena ini adalah pesawat baru,” katanya.

    Bagus Sunjoyo, Kepala Otoritas Bandara Wilayah 1 Kelas Utama, membenarkan bahwa pesawat dalam kondisi laik terbang. Begitupun dengan penerbang dan awak kabinnya.

    “Lisensi mereka masih berlaku,” jelasnya.

    Bagus memaparkan kronologi peristiwa. Menurutnya, Lion Air JT610 itu lepas landas pada pukul 06.20 WIB. Pilot sempat meminta kembali ke bandara (return to base) tetapi hilang kontak pada pukul 06.31.

    “Tidak ada statement kesalahan mesin. Permintaan itu disetujui ATC (Air Traffic Controller) dan kemungkinan langsung berbalik kembali ke Jakarta,” tuturnya.

    Penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang segera dilakukan, menurut Bagus, akan bisa mengetahui peristiwa yang sesungguhnya.

    Ia juga menyatakan otoritas bandara masih menunggu informasi lebih rinci dari Lion Air selain manifes penumpang yang telah diberikan.

    Lion Air dan Otoritas Bandara mengumumkan bahwa Crisis Center dipindahkan ke Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

  22. Jokowi perintahkan pencarian penumpang Lion Air JT610 secepatnya

    Presiden Joko Widodo memerintahkan pencarian dan pertolongan korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 tujuan Pangkal Pinang, Riau Kepulauan, dilakukan secepatnya.

    "Saya merasakan kerisauan yang mendalam dari seluruh keluarga korban. Namun, kita berharap para keluarga korban bisa tenang menunggu tim SAR yang sekarang ini sedang bekerja keras di lokasi kejadian," kata Jokowi di sela Our Ocean Conference 2018, di Nusa Dua, Bali, melalui Antaranews.

    Jokowi mengatakan telah memerintahkan Badan SAR Nasional yang dipimpin Marsekal Madya TNI M Syaugi, dan dibantu TNI serta Kepolisian Indonesia untuk menggelar operasi pencarian dan pertolongan kepada korban.

    Jokowi juga meminta Komisi Nasional Keselamatan Transportasi untuk menyelidiki peristiwa itu dan mendapatkan hasil secepatnya.

    “Kita lakukan upaya yang terbaik untuk menemukan dan menyelamatkan korban dan saya terus berdoa dan berharap korban bisa segera ditemukan," kata Jokowi. "Sekali lagi, kita masih fokus pada pencarian dan penyelamatan korban. Mohon doa dan dukungan semua," ujar Jokowi.

  23. Detik-detik penerbangan Lion Air JT610 sebelum hilang kontak

    Tim Lokadata Beritagar.id mengolah data penerbangan Lion Air JT610 selama 13 menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, menuju Bandara Deputi Amir, Pangkalpinang, Bangka. Menurut catatan Filghtradar24, sebelum hilang kontak dengan menara Air Traffic Controller (ATC) pada 06:31:45 WIB, pesawat berada di ketinggian 1.112,5 meter dan kecepatan 638,94 km/jam.

  24. Basarnas turunkan 30 penyelam untuk mencari bodi JT610

    Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP/Basarnas) menurunkan tim yang terdiri dari 150 orang untuk mencari korban pesawat Lion Air JT610 yang jatuh di laut Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018).

    Wartawan Beritagar.id, Tasya Simatupang, melaporkan bahwa dalam tim tersebut terdapat 30 penyelam yang saat ini tengah menyusuri laut guna mencari korban. TNI-Polri juga membantu proses pencarian dengan mengirimkan 150 orang ke lokasi jatuhnya pesawat.

    “Kami juga telah membentuk posko di JICT (Jakarta International Container Terminal) 2 Tanjung Priok. Nanti (anggota tim) akan ditambah lagi untuk mempercepat (pencarian),” kata Mayjen TNI Nugroho Budi Wiryanto, Deputi Bidang Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, dalam jumpa pers di markas Basarnas, Jakarta (29/10).

    Nugroho memaparkan, beberapa bagian pesawat dan barang-barang milik penumpang yang mengambang di permukaan laut sudah ditemukan, tetapi bodi utama dan kotak hitam (black box) belum diketahui keberadaannya.

    Tubuh pesawat diperkirakannya berada di kedalaman 30-35 meter, sehingga masih bisa diselami.

    “Cuaca cukup bagus untuk penyelaman. Hanya mendung-mendung sedikit. Arusnya yang agak kencang,” kata Nugroho.

    Korban yang ditemukan, menurutnya, akan dievakuasi ke posko JICT dan kemudian dibawa ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

    Kegiatan pencarian, menurutnya, akan berlangsung selama 7 (tujuh) hari sesuai dengan standard operating procedure (SOP) yang berlaku di Basarnas.

  25. Boeing menyatakan ikut berduka

    Boeing melansir kabar perkabungan atas kecelakaan yang menimpa pesawat Lion Air JT610 rute Cengkareng-Pangkal Pinang.

    Dalam rilis resmi, pabrikan pesawat asal Amerika Serikat itu menyatakan "teramat menyesal atas kandasnya JT610," dan "mengulurkan simpati tulus kepada keluarga dan orang-orang tercinta yang ditinggalkan".

    Selain itu, Boeing pun menegaskan kesediaannya untuk memberikan bantuan teknis dalam penyelidikan atas kecelakaan yang terjadi pada pagi 29 Oktober tersebut.

    Sikap sedemikian muncul karena pesawat yang jatuh adalah seri 737 Max 8 produksi Boeing.

    Secara global, Lion Air pemesan ketiga terbesar tipe MAX setelah Southwest Airlines dan Flydubai dengan 201 unit pesanan.

  26. Keluarga penumpang JT610 datangi Terminal 1 Bandara Soetta

    Beberapa keluarga dari penumpang Lion Air JT610 yang jatuh di laut dekat Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018), mulai datang ke Posko Terpadu Lion Air di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Banten.
    Beberapa keluarga dari penumpang Lion Air JT610 yang jatuh di laut dekat Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018), mulai datang ke Posko Terpadu Lion Air di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Banten. | Ronna Nirmala /Beritagar.id

    Satu per satu anggota keluarga penumpang pesawat Lion Air JT610 yang jatuh di utara Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018), pukul 10.30 WIB, mulai mendatangi Posko Terpadu di Terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

    Para keluarga penumpang kemudian dibawa masuk ke ruang VIP Terminal 1 Bandara Soetta. Petugas kepolisian dan tentara tampak sudah menjaga lokasi tersebut.

    Wartawan Beritagar.id, Ronna Nirmala, melaporkan, tim Disaster Victim Identification (DVI) Markas Besar Kepolisian RI juga sudah berada di bandara untuk mengumpukan identitas dan data organ (termasuk DNA) anggota keluarga tersebut.

    Sementara itu, operasional penerbangan Lion Air lainnya berjalan normal. Pantauan di Terminal 1 Soetta terlihat aktivitas penerbangan dan pendaratan tetap berlangsung seperti biasa.

    Meski ada satu dua penerbangan yang ditunda, tetapi pihak Lion Air memastikan keterlambatan karena masalah teknis bukan akibat insiden pesawat jatuh.

  27. Cuaca cerah saat pesawat jatuh

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BKMG) menilai tak ada masalah cuaca sebelum pesawat Lion Air JT610 jatuh di wilayah perairan Karawang, Jawa Barat.

    Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyatakan, pada saat pesawat take off di ketinggian antara 10 ribu hingga 24 ribu kaki, angin berembus dari barat laut dengan kecepatan 5 knott.

    "Jadi ini relatif lemah, tidak ada masalah dan dilaporkan tidak ada kondisi cuaca signifikan (membahayakan penerbangan)," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Senin (29/10/2018) seperti dikutip dari detikcom.

    Dia memastikan cuaca saat kejadian jatuhnya Lion Air JT 610 layak terbang dan tidak ada awan kumolonimbus (Cb) saat kejadian. "Awan Cb itu awan yang biasanya menimbulkan turbulensi," kata Dwikorita.

  28. Kru pesawat PK-LQP JT610 sempat minta kembali ke bandara

    Contoh data ketinggian dan kecepatan pesawat Lion Air beregistrasi PK-LPQ dalam penerbangan JT610 pada 28 Oktober 2018
    Contoh data ketinggian dan kecepatan pesawat Lion Air beregistrasi PK-LPQ dalam penerbangan JT610 pada 28 Oktober 2018 | Tangkapan layar /Flightradar24
    Data ketinggian dan kecepatan pesawat Lion Air beregistrasi PK-LQP dalam penerbangan JT610 pada 29 Oktober 2018 yang jatuh di Tanjung Karawang, pantai utara Jawa.
    Data ketinggian dan kecepatan pesawat Lion Air beregistrasi PK-LQP dalam penerbangan JT610 pada 29 Oktober 2018 yang jatuh di Tanjung Karawang, pantai utara Jawa. | Tangkapan layar /Flightradar24

    Kementerian Perhubungan (Kemenhub), dalam Liputan6.com, mengakui jika kru pesawat Lion Air JT610 PK-LQP rute Jakarta-Pangkal Pinang, sempat meminta kembali ke bandara Soekarno Hatta Banten (return to base) sebelum akhirnya hilang dari radar.

    Pesawat berangkat pada pukul 06.10 WIB dari Bandar Udara Soekarno Hatta Banten, dan dijadwalkan tiba di Pangkal Pinang pada Pukul 07.10 WIB. Namun, pesawat dilaporkan hilang kontak pada 29 Oktober 2018, sekitar pukul 06.33 WIB. Pesawat Lion Air itu dilaporkan terakhir tertangkap radar pada koordinat 05 46.15 S - 107 07.16 E.

    Anomali bisa dilihat pada rekaman data yang berhasil ditangkap Flightradar24 terhadap PK-LQP, yang baru mencapai ketinggian sekitar 6 ribu kaki (sekitar 1.828 meter) dan kecepatan 300 knots (sekitar 555 km/jam) pada menit kesepuluh setelah lepas landas.

    Rekaman data penerbangan di jalur yang sama pada pesawat PK-LPQ yang sukses mendarat di Pangkal Pinang pada 28 Oktober 2018, pada menit kesepuluh pesawat sudah berada di ketinggian 30 ribu kaki, pada kecepatan sekitar 400 knots.

    Menurut Manajer Humas AirNav Indonesia, Yohanes Harry Sirait, kepada detikcom, Senin (29/10/2018), untuk ukuran 13 menit penerbangan, seharusnya pesawat sudah terbang pada ketinggian sekitar 15 ribu hingga 20 ribu kaki. "Sudah naik seharusnya," kata dia.

  29. Pesawat kecelakaan setelah 13 menit mengudara

    Menurut keterangan Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro, penerbangan Lion Air JT 610 dengan rute penerbangan Cengkareng menuju Pangkal Pinang mengalami kecelakaan setelah lepas landas dari Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta pukul 06.20 WIB menuju Pangkal Pinang.

    Setelah 13 menit mengudara pesawat jatuh di koordinat 05 derajat 90' 361" S - 107 derajat 06' 618" E (sekitar Karawang).

    Pesawat dengan registrasi PK-LQP jenis Boeing 737 MAX 8. Pesawat ini buatan 2018, baru dioperasikan Lion Air 15 Agustus 2018. Pesawat dinyatakan laik operasi.

    Pesawat dikomandoi Capt. Bhavye Suneja dengan copilot Harvino. Kapten pilot sudah memiliki jam terbang lebih dari 6.000 jam terbang dan copilot telah mempunyai jam terbang lebih dari 5.000 jam terbang

    Turut serta enam awak kabin atas nama Shintia Melina, Citra Noivita Anggelia, Alviani Hidayatul Solikha, Damayanti Simarmata, Mery Yulianda, dan Deny Maula.

    Pesawat mengangkut 178 penumpang dewasa, satu penumpang anak-anak, dan dua penumpang bayi. Termasuk dalam penerbangan tiga pramugari sedang pelatihan dan satu teknisi.

  30. Crisis Center Jatuhnya Lion Air JT610

    Crisis Center Penanganan Jatuhnya Pesawat Lion Air JT610, Jakarta-Pangkal Pinang

    • Crisis center +622180820000
    • Infomasi penumpang +622180820002.
    • Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro +628788033 3170
  31. 20 Pegawai Kemenkeu diduga jadi korban

    Sebanyak 20 pegawai Kementerian Keuangan diduga menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610 rute Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh di perairan di utara Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018).

    Kasubdit Humas DJP, Ani Natalia, mengatakan dari total pegawai Kemenkeu tersebut terdapat 12 orang pegawai yang berasal dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pangkal Pinang dan KPP Pratama Bangka.

    "Ada 12 nama pegawai DJP yang diinfokan ada di pesawat Lion Air JT610 adalah pegawai KPP Pratama Pangkal Pinang dan KPP Pratama Bangka," ujar Ani kepada Elisa Valenta dari Beritagar.id, Senin (29/10/2018).

    Selain dari DJP, pegawai Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) dan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN).

    "Kami masih menunggu info. Kita doakan semoga semua penumpang dan awal kapal selamat," tandas dia

    Ani juga mengonfirmasi daftar nama pegawai Kemenkeu yang diduga menjadi penumpang pesawat. Nama-nama pegawai tersebut antara lain:

    Pegawai DJKN:

    1. Reni ariyanti - Kepala KPKNL Pangkal Pinang (DJKN)

    2. Dwinanto - Kepala Seksi (DJKN)

    3. M. Jufri - Kepala Seksi (DJKN)

    Pegawai DJPB:

    1. Abdul khaer, Kasi PPA 2 b

    2. Eko Sutanto, Kasi PSAPP

    3. M. Fadillah, Kasi ASPLK

    4. Joyo Nuroso, Kasubag Umum KPPN Pangkal Pinang

    5. Ahmad Endang Rochmana, Kasubag keuangan kanwil

    Pegawai DJP

    KPP Pratama Bangka:

    1. Pratomo Wira Dewanto

    2. Hesti Nuraini

    3. Maria Ulfa

    4. Rivandi Pranata

    5. Junior Priadi

    KPP Pratama Pangkal Pinang:

    1. Achmad Sukron Hadi

    2. Tri Haska Hafidi

    Kasi:

    1. Firmansyah Akbar (Kasi Penagihan)

    2. Rr. Savitri Wulurastuti (Kasi Wk. I)

    3. Ari Budiastuti (Kasi Eksten)

    4. IGA Ngurah Metta Kurnia (Kasuki)

    Account Representative:

    1. Nicko Yogha Marent Utama

  32. Boeing 737 Max 8, pesawat Rp1,78 triliun

    Pesawat Boeing 737 Max 8 milik maskapai Lion Air adalah pesawat yang terbilang baru. Lion Air menerima armada ini pada 4 Juli 2017.

    Public Relations Manager Lion Air Group, Andy M Saladin mengklaim, pihaknya adalah yang pertama menggunakan Boeing 737 Max 8 di Indonesia.

    Pesawat yang dibanderol sekitar Rp1,78 triliun ini dikatakan bisa menghemat bahan bakar sampai 20 persen, jika dibandingkan generasi 737 saat ini.

    "Regenerasi navigasi pesawat ini lebih canggih dan update. Sehingga dari sisi cost baik maintenance maupun biaya penumpang jadi lebih kecil karena jarak tempuh yang lebih panjang fuel 20 persen lebih irit" ujar Kapten Bambang Gunawan dinukil Liputan6.com.

    Keunggulan lain yang dimiliki pesaat ini adalah desain sayapnya yang baru, berjuluk Smicitar Winglet. Winglet berfungsi untuk memecah turbulensi udara di ujung sayap.

    Menurut spesifikasi teknis di situs Boeing, 737 MAX 8 dapat memuat maksimal 210 kursi. Panjang pesawat 39,52 meter, lebarnya 35,9 meter.

  33. 254 kecelakaan pesawat sejak 2010

    Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mencatat total tragedi penerbangan di Indonesia sejak 2012 hingga 2017 yakni 254 kejadian, yang terdiri dari 93 kecelakaan dan 161 insiden serius. Dalam kurun waktu lima tahun belakangan, sebanyak 325 orang meninggal dunia dan 83 orang luka-luka.

    Seluruh peristiwa tersebut meliputi: abnormal runway contact; airprox; pesawat berasap atau terbakar; tergelincir atau kecelakaan pada saat pendaratan; membutuhkan bantuan medis; menabrak daratan, penghalang atau air; bentrokan dengan landasan pacu; mesin gagal berfungsi atau rusak; dan penyebab lain yang tak diketahui.

    Sementara itu, Aviation Safety Network mencatat jumlah kecelakaan pesawat yang fatal seperti menyebabkan korban jiwa dan mesin pesawat rusak atau hilang sejak 1946 hingga 28 Oktober 2018 yakni 123 peristiwa dengan jumlah korban 2.751 jiwa.

    Kecelakaan terparah terjadi pada 28 Desember 2014 saat pesawat Indonesia Air Asia PK-AXC dengan kode penerbangan QZ8501 membawa penumpang dari Surabaya ke Singapura. Dilaporkan 156 penumpang dan 6 kru meninggal.

  34. Lokasi jatuh pesawat di blok Pertamina

    Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) anak usaha Pertamina, memastikan Pesawat Lion Air, jatuh di dekat fasilitas mereka di lepas pantai utara Bekasi, Jawa Barat.

    Menurut VP Relations Pertamina Hulu Energi Ifki Sukarya kepada Kompas.com, Senin (29/10/2018) pagi, pesawat itu jatuh di lapangan Mike blok ONWJ tapi tak mengenai sarana dan prasarana Pertamina. "Tapi masih jauh dari fasilitas anjungan kami," ujarnya.

    Ifki menjelaskan, informasi soal pesawat jatuh mereka terima pukul 06.33 WIB. Berdasar laporan petugas di lapangan mereka melibat ada puing pesawat, seperti kursi penumpang yang sudah terlepas. Personel Satpol Air dan Pertamina Hulu Energi ini bergerak menuju lokasi.

  35. Lion Air JT610 jatuh di dekat Tanjung Karawang

    Kecelakaan penerbangan kembali terjadi di Indonesia. Pesawat maskapai Lion Air dengan nomor penerbangan JT610 jatuh di Tanjung Karawang, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018).

    Pesawat rute Jakarta menuju Pangkal Pinang, Bangka Belitung, tersebut tinggal landas pada pukul 06.10 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta dan dijadwalkan tiba di Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, pada pukul 07.20. Ia sempat dikabarkan hilang kontak dan kemudian diketahui jatuh di laut, tak berapa lama setelah tinggal landas.

    Menurut seorang petugas Dinas Perhubungan di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta kepada wartawan Beritagar.id Ronna Nirmala, pesawat jenis Boeing 737 Max 8 tersebut membawa 178 penumpang dewasa, 1 anak, 2 bayi, 2 pilot, dan 8 kru.

    Penyebab kecelakaan belum diketahui.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR