Rintik rindu Adrian Yunan

Dalam album Sinestesia, warna-warni yang dilihat oleh Adrian Yunan adalah kontribusi terakhirnya bersama Efek Rumah Kaca, band yang menjadi tempat ia berkespresi dan berkarya. Setelah itu, ia memilih turun panggung karena deraan retinitis pigmentosa, penyakit yang membuat penderitanya mengalami kebutaan. Selama dua hari pada awal Agustus 2019, fotografer Raudhatul Jumala mengabadikan keseharian pemain bas Efek Rumah Kaca yang kini menjadi suara bagi penyintas disabiltas netra.
Editor Foto :
Rintik rindu Adrian Yunan
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

RINDU | Setelah jarang bermain bersama Efek Rumah Kaca, Adrian, pemain bass dalam kelompok musik tersebut lebih sering bermain dengan putrinya, Rindu. Bagi Adrian, bocah berusia 5 tahun itu adalah dunia dan hari-harinya.


Rintik rindu Adrian Yunan
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

VONIS | Sejak mengalami kebutaan karena Retinitis Pigmentosa pada 2010, Adrian harus meraba-raba lagi setiap sudut rumah. Di kawasan Tangerang Selatan, ia tinggal bersama istri dan anaknya.


Rintik rindu Adrian Yunan
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

WARNA | Terjangkit virus Toksoplasma, Adrian mengalami penurunan perfoma retina. Dunia perlahan gelap, berbayang. Ia mesti mereka ulang persepsi atas warna-warni yang dilihatnya.


Rintik rindu Adrian Yunan
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

BUTA | Akhirnya, apa yang ditakutkannya tiba. Setelah melalui lika-liku pengobatan, pada 2010 silam, Adrian Yunan mengalami kebutaan total. Perubahan itu tentu amat sulit. Dari yang awalnya pernah menikmati indahnya dunia, kini ia benar-benar kehilangan visualisasi dalam drama hidupnya.


Rintik rindu Adrian Yunan
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

DUNIA | Ketika Efek Rumah Kaca konser di sejumlah daerah, Adrian justru sedang belajar mengkrabi dunia yang belum ia singgahi sebelumnya. Dunia tanpa warna. Dunia di mana suara lebih mendominasi setiap waktunya.


Rintik rindu Adrian Yunan
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

MAKNAI | Pada album Sinestesia, Adrian turut andil dalam menyematkan tajuk pada lagu-lagunya. Merah, Biru, Jingga, Hijau, Putih, dan Kuning. Itu adalah persepsinya dalam memaknai rasa melalui warna.


Rintik rindu Adrian Yunan
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

TRANSISI | Adrian melewati masa transisi yang tak mudah. Dunia yang dikenalnya kini berubah. Bayangan dan gelap adalah yang dilihatnya. Tanpa warna dan fragmen manusia dalam bentuk nyata. Sejak itulah ia punya cara pandang akan ruang dan kehidupan yang berbeda. Kehidupan penyandang disabiltas netra.


Rintik rindu Adrian Yunan
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

DEKAT | Beruntung ada Rintik Rindu di dekatnya. Bocah itu adalah asa hidup yang menyala. Adrian kini lebih banyak menyanyi dengan Rindu, dunianya. Rindu memang dekat dengan ayahnya, ia seperti tak bisa dipisahkan dari Adrian yang kerap mendekapnya.


Rintik rindu Adrian Yunan
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

PENYINTAS | Meski tak lagi sering berdiri di atas panggung bersama Efek Rumah Kaca, Adrian tetap berkarya. Ia merealisasikan imajinasinya melalui kata dan nada. Sintas adalah proyek pribadinya. Kebanyakan isi lagunya adalah cerita perubahan hidup seorang penyintas.


Rintik rindu Adrian Yunan
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

SUARA | Saat ini di panggung-panggung yang tak besar, ia kerap menyanyikan lagu-lagu dari album gubahannya. Meski begitu ia juga masih menyanyikan Sebelah Mata. Ada kerinduan untuk tampil bersama Efek Rumah kaca, tapi ia menyadari kondisinya. Dan kini melalui Sintas, ia menjadi suara bagi mereka penyandang disabilitas netra.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR