Nasib petani garam Eretan

Di Eretan, Indramayu, Jawa Barat, tambak garam sempat menjadi ladang penghidupan bagi masyarakat di sana. Namun kondisi itu kini telah berubah. Selain lahan pertanian garam yang dihantam abrasi, harga garam yang semakin rendah menjadi penyebab banyak petani garam beralih profesi.

Editor Foto :
Nasib petani garam Eretan
Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

ABRASI | Tanah yang berada di Pantai Eretan, Indramayu, Jawa Barat perlahan kini hilang. Pelan tapi pasti, abrasi terus menggerus puluhan hektare tanah yang mulanya menjadi lahan untuk bertani garam. Menanti waktu, lahan-lahan itu pun akan tenggelam.


Nasib petani garam Eretan
Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

PINDAH | Selain banyaknya lahan yang hilang akibat abrasi, harga garam yang tak menentu membuat petani garam saat ini banyak beralih profesi, kebanyakan merekamemilih untuk menjadi nelayan atau buruh bangunan karena penghasilan yang lumayan.


Nasib petani garam Eretan
Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

TANAH YANG HILANG | Darkiman duduk di tepi pantai, sambil berkisah masa kejayaan bisnis garam, ia memandangi laut lepas di hadapannya. Dahulu di tempat itu tiga bidang tanah miliknya ada, namun kini itu telah hilang. Kenangan akan kejayaan garam yang pernah ia rasakan bersama keluarganya telah tenggelam di bawah gulungan ombak laut utara Jawa.


Nasib petani garam Eretan
Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

KRISIS MONETER | Alih profesi petani garam telah berlangsung sejak 1998. Saat itu nilai tukar Dollar Amerika yang tinggi membuat harga udang amat tinggi.Akibatnya beramai-ramai petani memilih membiakkan bibit udang karena harganya yang aduhai.


Nasib petani garam Eretan
Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

GAGAL PANEN | Deraan cobaan kerap menghantap para petani garam. 2016 merupakan tahun terberat bagi para petani garam di Eretan. Saat itu mereka tak panen karena cuaca yang buruk. Banyak petani garam terpaksa bekerja serabutan demi bertahan hidup, dan sialnya mereka harus tetap membayar sewa tanah yang mereka garap.


Nasib petani garam Eretan
Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

RESIKO | Musim saat ini tak menentu dan sulit ditebak. Akibatnya proses pengkristalan garam menjadi jauh lebih lama dan acap kali gagal ketika hujan datang. Resiko itu belum ditambah harga garam di pasar yang turun.


Nasib petani garam Eretan
Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

BURUH | Bagi banyak ibu rumah tangga di kawasan Eretan, tambak tetaplah mendatangkan rezeki. Meski harga garam sudah tak sebaik dulu, bibit udang kini menjadi yang mendatangkan rezeki.


Nasib petani garam Eretan
Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

BIBIT UDANG DAN GARAM | Jika ada pembeli bibit udang, para petani garam mereka akan menjadi buruh hitung bibit udang. Penghasilannya memang tak terlalu besar tapi cukup untuk membuat dapur mereka mengepul. Tampak pada foto, proses pengkristalan garam (kiri) dan bibit udang yang difoto menggunakan lensa makro (kanan).


Nasib petani garam Eretan
Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

TAK PASTI | Saat ini harga Garam di sektor petani anjlok mencapai Rp 400 hingga Rp 500 per kilogram, artinya apa yang didapat petani garam amatlah kecil. Karena itu para petani garam meminta pemerintah harus menetapkan HPP paling rendah idealnya Rp1.500/kg dan memasukkan garam dalam komoditi bahan pokok dan barang penting lainnya yang diatur dalam perpres.


Nasib petani garam Eretan
Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

IMPOR | Tahun ini pemerintah memutuskan mengimpor 2,7 juta ton garam untuk kebutuhan industri. Impor sebanyak itu dilakukan pemerintah untuk mencukupi kebutuhan garam nasional yang mencapai 3,8 juta ton. Impor tersebut cenderung meningkat dibanding tahun sebelumnya. Akibatnya, para petani garam benar-benar merugi karena anjloknya harga garam yang diluar kendali.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR