Barus, lintasan dunia yang terlupakan

Barus pada masa lampau adalah kota perlintasan para pedagang dunia yang letaknya berada di pesisir barat Sumatra. Sempat populer hingga ke Jazirah Arab, kejayaan Barus saat ini tak menyisakan apa-apa, bahkan telah menjadi wilayah yang nyaris terlupakan.

Editor Foto :
 Barus, lintasan dunia yang terlupakan
Zulkifli

GERBANG | Barus terletak di pantai barat Kabupaten Tapanuli Tengah. Daerah ini berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Dalam catatan sejarah, pesisir barat Pulau Sumatra ini adalah jalur perdagangan dunia dan gerbang masuknya agama-agama.


 Barus, lintasan dunia yang terlupakan
Zulkifli

MAKAM KUNO | Banyaknya makam-makam kuno para ulama besar penyebar agama Islam di Barus menjadi salah satu sebab para arkeolog menunjuk Barus sebagai tempat mula peradaban Islam. Salah satunya adalah makam Syekh Mahmud di Bukit Papan Tinggi yang batu nisannya berasal dari abad ke-7 Masehi.


 Barus, lintasan dunia yang terlupakan
Zulkifli

TITIK NOL | Presiden Joko Widodo pada Maret 2017 mencanangkan Barus sebagai Titik Nol Peradaban Islam Nusantara. Peresmian itu ditandai dengan sebuah tugu bola dunia yang didirikan di bibir pantai. Namun, banyak ahli yang masih memperdebatkan posisi Barus sebagai awal peradaban Islam di Indonesia.


 Barus, lintasan dunia yang terlupakan
Zulkifli

NISAN ISLAM | Di kompleks pemakaman Mahligai yang berada di Desa Aek Dakka, Syekh Rukunuddin dimakamkan. Pada batu nisan ulama besar tersebut tertulis tahun 672 M. Angka itu lebih tua 410 tahun dari nisan Islam tertua di Pulau Jawa yang ditemukan pada tahun 1920 di Leran, Gresik.


 Barus, lintasan dunia yang terlupakan
Zulkifli

MUASAL | | Di Barus, bunga kamper tumbuh subur. Tumbuhan ini pula yang menjadi muasal para pedagang-pedagang dunia tiba di kota perlintasan yang menjadi gerbang Islam ke Nusantara.


 Barus, lintasan dunia yang terlupakan
Zulkifli

BUNGA BARUS | Kota Barus kuno juga tidak bisa dipisahkan dari era Dinasti Ramses II. Pada zaman itu, Firaun terbesar dalam sejarah Mesir kuno itu mengekspor kamper dari Barus. Di Mesir, kamper dijadikan bahan pembalseman dan pengharum untuk mumi-mumi. Komoditas inilah yang sekarang dikenal dengan nama Kapur Barus. Ironisnya, pohon kamper saat ini nyaris punah.


 Barus, lintasan dunia yang terlupakan
Zulkifli

DESA SIORDANG | Kejayaan kamper mulai menurun sejak abad ke-16 Masehi. Desa Siordang adalah satu desa yang masih menyisakan pohon kamper. Di desa itu pohon kamper tumbuh di antara kebun-kebun sawit. Jumlahnya pun tak sampai seratusan. Para peneliti dari dalam dan luar negeri beberapa waktu lalu telah menjadikan desa ini sebagai lokasi riset pembudidayaan pohon kamper.


 Barus, lintasan dunia yang terlupakan
Zulkifli

LADANG PENELITIAN | Di Barus para arkeolog dunia kerap datang untuk melakukan penelitian. Lubang-lubang bekas penggalian menjadi penanda Lobu Tua sebagai ladang penelitian pada arkeolog. Dari lubang-lubang itu keramik, tembikar, manik-manik, hingga mata uang emas ditemukan. Penemuan tersebut membuktikan bahwa Barus telah berinteraksi dengan bangsa-bangsa dunia sejak ribuan tahun lalu.


 Barus, lintasan dunia yang terlupakan
Zulkifli

PERJANJIAN DAGANG | Petilasan kejayaan Barus kuno juga ditemukan Lobu Tua. Desa yang berada di Kecamatan Andam Dewi ini menyimpan benda-benda purbakala. Salah satunya adalah Prasasti Lobu Tua yang berbahasa Tamil. Prasasti berangka 1088 Masehi ini berisi perjanjian perdagangan dalam serikat dagang Bangsa Tamil di Barus.


 Barus, lintasan dunia yang terlupakan
Zulkifli

KEJAYAAN HILANG | Saat ini, riwayat Barus sebagai kota perlintasan para pedagang dunia nyaris tak kelihatan. Selain makam-makam kuno, lubang galian di Lobu Tua dan Tugu Kilometer Nol Peradaban Islam Nusantara, tak ada lagi yang menautkan Barus dengan masa kejayaannya.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR