Kebangkitan batik Lasem, pusaka pesisir utara Jawa

Sebagai produk akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa, batik di kota Lasem, Jawa Tengah, menjadi warisan ternama. Sudah sejak pertengahan abad 19, batik Lasem menjadi komoditas bisnis yang menguntungkan, membuat kota di pesisir utara Jawa itu disebut sebagai kota batik terbesar di Hindia Belanda. Sempat terseok, kini bisnis itu kembali jaya.
Editor Foto :
Kebangkitan batik Lasem, pusaka pesisir utara Jawa
Sigit Pamungkas

JEJAK BUDAYA | Kontak budaya antara masyarakat Jawa, dengan orang-orang yang datang dari Arab danTiongkok dan Eropa meninggalkan jejak budaya, batik di pesisir adalah salah satunya.


Kebangkitan batik Lasem, pusaka pesisir utara Jawa
Sigit Pamungkas

MEMBATIK | Di Lasem, Jawa Tengah, yang berada di pesisir pantai utara Jawa, batik sudah menjadi sumber penghasilan masyarakat lokal. Perkembangan batik di kawasan itu konon dimulai sejak masa Na Li Ni atau Putri Campa istri Bi Nang Un, seorang anggota ekspedisi Laksamana Cheng Ho (1405-1433) yang memperkenalkan teknik membatik di masa itu.


Kebangkitan batik Lasem, pusaka pesisir utara Jawa
Sigit Pamungkas

PEMBATIK | Disebutkan seorang pembatik bisa mendapatkan bahan untuk 50 hingga 500 kain dan ditimbang lebih dahulu. Setelah kain ditutupi dengan lilin maka kain akan dikembalikan ke rumah pengusaha batik untuk diwarnai.


Kebangkitan batik Lasem, pusaka pesisir utara Jawa
Sigit Pamungkas

MENGUNTUNGKAN | Masa keemasan perusahaan batik yang dibangun oleh orang-orang Tionghoa Lasem dimulai sekitar 1860-an. Perusahaan batik saat itu merupakan usaha yang paling menguntungkan setelah perdagangan candu.


Kebangkitan batik Lasem, pusaka pesisir utara Jawa
Sigit Pamungkas

PEKERJA | Disebutkan juga bahwa jumlah pembatik di Lasem ‘hanya’ berjumlah 4.300 orang , para pembatik itu terus-menerus terlibat dalam pekerjaan membatik, dan mayoritas pembatik saat itu adalah perempuan.


Kebangkitan batik Lasem, pusaka pesisir utara Jawa
Sigit Pamungkas

KAIN PUTIH | Untuk mendapatkan katun putih, pebisnis batik saat itu mendapatkan dari para pengusaha kain katun asal Eropa, dan lilin atau didapatkan dari Atapupu, sebuah daerah di Pulau Timor.


Kebangkitan batik Lasem, pusaka pesisir utara Jawa
Sigit Pamungkas

ANCAMAN | Batik Lasem pada masa lalu juga menghadapi ancaman batik yang tidak dibuat dengan cara mencanting. Mirip dengan kondisi sekarang, saat itu seperti tehnik ‘malam dingin’, sablon, bahkan kain printing motif batik juga merajalela. Hal itu dinyatakan oleh laporan Kolonial Verslagtahun 1892 yang dikutip dari Van Deventer di mana para pengusaha batik tulis Lasem menghadapi ancaman dari ‘batik imitasi’, batik yang dibuat dengan cap dan produksinya massal.


Kebangkitan batik Lasem, pusaka pesisir utara Jawa
Sigit Pamungkas

PELESTARI | Rudi Siswanto dari rumah batik tulis Kidang Mas adalah generasi pembatik yang meneruskan usaha orang tuanya sebagai pengusaha batik. Sempat berkarir di Jakarta sebagai pegawai kantoran dengan prestasi yang cukup cemerlang di sebuah bank swasta terkenal ia kembali Lasem tempat lahirnya untuk mempertahankan keberadaan batik tulis di tengah serangan kain ‘printing’ motif Lasem atau batik imitasi yang juga diproduksi masal karena konsumennya kini begitu banyak.


Kebangkitan batik Lasem, pusaka pesisir utara Jawa
Sigit Pamungkas

KEBANGKITAN | Ekawatiningsih adalah pemilik rumah batik Lumintu. Sempat mati suri, usaha batik yang dibangun kakeknya di Lasem sempat mati suri. Usahanya kemudian bangkit ketika seorang desainer asal Jakarta menjadi pelanggan tetap yang selalu menggunakan kain batik darinya. Awalnya Eka membuat batik dengan warna-warna modern, namun saat ini ia mulai banyak bereksperimen dengan batik tiga negeri klasik atas saran dari pembatik-pembatik yang bekerja dengannya. Sejak itulah usahanya kembali eksis .


Kebangkitan batik Lasem, pusaka pesisir utara Jawa
Sigit Pamungkas

SOROTAN | Di balik kebangkitannya, bermacam kendala pengembangan batik tulis Lasem menjadi sorotan para peneliti, pengamat budaya, ahli batik, dan akademisi. Beberapa kendala yang menjadi perhatian adalah mengenai makna motif yang belum terdokumentasi dengan baik, permasalahan produksi dari segi modal, tenaga kerja, pemasaran, pemanfaatan batik untuk ekonomi kreatif hingga masalah yang paling mendasar yaitu regenerasi seniman batik.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR