Beratnya rindu para pencari suaka

Bertahun-tahun para pengungsi yang datang dari sejumlah negara konflik tinggal di Indonesia tanpa harapan. Berharap memperoleh negeri harapan mereka justru terdampar tanpa nasib yang jelas. Ada kerinduan dalam hati mereka akan tanah air yang ditinggalkan, dan fotografer kantor berita Antara, Rivan Awal Lingga memotret mereka dengan pendekatan potret.

Editor Foto :
Beratnya rindu para pencari suaka
Rivan Awal Lingga /Antara Foto

CINCIN | Suami istri Muhammad Abdullah Alwadiye (33) dan Ekkhlas Abbas (30) contohnya. Pasangan asal Sudan yang sudah tiga bulan tinggal di Indonesia itu memiliki benda kesayangan berupa cincin pernikahan yang dibawa dari negara asalnya. Cincin itu jadi satu-satunya barang berharga yang tersisa dan menjadi obat rindu jika teringat rumahnya di Sudan. Muhammad dan Ekkhlas saat ini tengah menunggu kelahiran sang buah hati.


Beratnya rindu para pencari suaka
Rivan Awal Lingga /Antara Foto

SEPATU | Sementara itu, di sudut lorong gedung, ada seorang wanita asal Irak yang sudah tinggal di Indonesia selama empat tahun bernama Rasha (31). Kecewa kepada negara yang mengalami konflik dan keluarga menjadi salah satu landasan Rasha meninggalkan Irak. Untuk mengisi aktivitas sehari-hari, perempuan ini selalu menggunakan sepatu kets berwarna putih. Menurut dia, sepatu itu sebagai penawar rindu dan menemani kesendiriannya di Indonesia.


Beratnya rindu para pencari suaka
Rivan Awal Lingga /Antara Foto

UKULELE | Sedangkan di dalam tenda, terdapat dua orang anak berkebangsaan Sudan yang sangat suka bermain ukulele. Alunan musik dari gitar senar empat itu dapat meredam rasa trauma pada anak-anak pencari suaka yang berada di tempat penampungan tersebut. Lagu-lagu dari Sudan dimainkannya sebagai pengiring melodi rindu kampung halaman.


Beratnya rindu para pencari suaka
Rivan Awal Lingga /Antara Foto

ROTI | Di lantai dua, salah satu kamar terisi satu keluarga asal Afghanistan bernama Abdul Zabi (29) dan Nazifa (22). Mereka sudah satu tahun berada di Indonesia. Roti khas Aghanistan yang selalu dikirim kerabatnya menjadi teman sehari-hari untuk mengobati kerinduan pada negara yang mengalami konflik tersebut.


Beratnya rindu para pencari suaka
Rivan Awal Lingga /Antara Foto

BOLA | Muhammad Eshaq (17) datang dari Sudan. Ia sudah tinggal di Indonesia selama tujuh bulan. Berbekal sepatu sepak bola, dia mencari uang dengan cara bermain dengan warga sekitar. Semakin banyak dia mencetak gol, semakin banyak rupiah yang dia dapatkan. Bagi dia, bermain bola menjadi penghibur untuk melupakan sejenak kepenatan hidup.



Beratnya rindu para pencari suaka
Rivan Awal Lingga /Antara Foto

GIGI | Berbeda dengan para pencari suaka dari Sudan, Irak, dan Afghanistan. Syakir (24) datang dari Somalia. Sudah enam tahun ia berada di Indonesia. Tampa sangat ceria ia hidup seolah tanpa beban hidup sebagai manusia tanpa negara. Dengan gaya perlente dia selalu tersenyum memamerkan salah satu giginya yang berbalut perak. Dia pun hanya tersenyum lebar ketika ditanya tentang gigi itu. Tapi dari senyumannya terbaca, ada sebuah kenangan indah dari gigi perak itu.



FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR