Bertahan di jalannya meski akan segera mati

Dalam bebarapa tahun terakhir, sejumlah media cetak nasional gulung tikar. Selain berita-berita gratis yang terserak di internet, mahalnya bahan baku dan menurunnya pendapatan iklan dianggap sebagai penyebab runtuhnya bisnis surat kabar. Kondisi ini juga berdampak pada pengecer di jalan. Meski ada yang bertahan, mereka sadar jika bisnis yang selama ini dijalani pasti akan segera mati.

Editor Foto :
Bertahan di jalannya meski akan segera mati
Edy Susanto

LOPER KORAN | Redupnya bisnis media cetak ternyata berdampak pada mata rantai industri itu. Kawasan Kwitang, Jakarta yang dulu ramai disesaki tumpukan koran dan majalah, saat ini sudah tak lagi ramai seperti dulu.


Bertahan di jalannya meski akan segera mati
Edy Susanto

PENJAJA KORAN | Begitu juga dengan para penjaja koran yang dahulu kerap meraih untung bagus. Redupnya bisnis media cetak, akibat tergusur oleh media online membuat agen-agen koran dan majalah, juga penjaja pergi meninggalkan profesi itu.


Bertahan di jalannya meski akan segera mati
Edy Susanto

PENINGGALAN SUAMI | Menjadi loper sejak 1980, Ibu Saiful, demikian ia mau dipanggil, mengawali usahanya di Lapangan Banteng, Jakarta. Mulanya bisnis ini dijalankan sang suami. Saat ini, setelah sang suamidipanggil ilahi, perempuan berusia 50 tahun itu tetap melakoni usahanya sebagai loper koran di Kwitang setiap pagi dini hari.


Bertahan di jalannya meski akan segera mati
Edy Susanto

BISNIS BERJALAN | Diding sudah dari tahun 1983 berprofesi sebagai loper. Usianya yang semakin tua membuat ia tak sanggup melakoni perannya sebagai loper koran lagi. Agar bisnis yang telah ia bangun tetap berjalan, pria berusia 67 tahun itu menyerahkan perannya sebagai loper koran kepada sang adik.


Bertahan di jalannya meski akan segera mati
Edy Susanto

NIKMATI KEJAYAAN | Subur, 52 tahun, sudah sejak 1978 berjualan koran. Ia sempat menikmati kejayaan koran di era 2000-an. Sebanyak 400 pelanggan pernah ia dapatkan, dan kini ia hanya memiliki 100 pelanggan saja.


Bertahan di jalannya meski akan segera mati
Edy Susanto

SULIT BERJUALAN | Imbas terburuk dalam bisnis media cetak paling dirasakan oleh para penjual koran. Dari mulai agen, pelapak, dan pengecer di jalan, semua merasakan bagaimana sulitnya berjualan surat kabar.


Bertahan di jalannya meski akan segera mati
Edy Susanto

POSISI PENTING | Di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, Britania Raya, Selandia Baru, dan Jepang, penjual koran menempati posisi penting dalam industri surat kabar. Lewat tenaga loper koran inilah nasib para jurnalis dan juga perusahaan media menjadi tak mati dan terus berjalan. Tak salah jika banyak perusahaan media cetak menyebut mereka adalah pahlawan.


Bertahan di jalannya meski akan segera mati
Edy Susanto

SETIA | Adi, 40 tahun, masih setia berjualan koran dengan berjalan kaki. Keluar - masuk gang sempit di kawasan Tebet, Jakarta, ia menjajakan korannya. Ia tahu jika saat ini kemajuan internet telah menghancurkan bisnis koran yang ia lakoni. Namun ia pun masih percaya jika koran atau majalah sebagai sumber informasi masih memiliki pembaca setia yang menunggu saat pagi.


Bertahan di jalannya meski akan segera mati
Edy Susanto

GETIR | Tak berbeda jauh dengan Adi, Inan, 49 tahun, juga merasakan getirnya berjualan koran saat ini. Jika pada 2010, Inan bisa mendapat untung sebesar Rp500 ribu dalam sebulan, kini ia hanya bisa memperoleh untung Rp150 ribu per bulannya.


Bertahan di jalannya meski akan segera mati
Edy Susanto

MATI | Melihat perkembangan zaman dimana banyak informasi mudah didapat secara gratis, para pebisnis media cetak jalanan telah meyakini bahwa bisnis ini tak bisa dijadikan pegangan guna meraup rezeki. Maka tak salah jika kemudian banyak penjual koran saat ini telah siap mengganti usaha demi menjaga dapur terus menyala meski bisnis media cetak akan segera mati.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR