Cio Tao, tradisi pernikahan ala Manchu

Walaupun sudah enam ratus tahun tinggal di kawasan tepi Sungai Cisadane, masyarakat Tionghoa Benteng tetap mempertahankan tradisi Cio Tao. Tradisi itu dibawa nenek moyang mereka yang berasal dari suku Manchu.

Editor Foto :
 Cio Tao, tradisi pernikahan ala Manchu
Malahayati

TRADISI MANCHU | Memiliki nenek moyang berdarah Manchu, keluarga Phang Bu Guan & Oey No Nih di Kampung Ciangir, kabupaten Tangerang, Banten, berusaha teguh dengan tradisi menjalankan upacara Cio Tao.


 Cio Tao, tradisi pernikahan ala Manchu
Malahayati

DOA PENGHORMATAN | Dalam kultur masyarakat CIna Benteng, Cio Tao dianggap sakral sejak dahulu. Cio Tao adalah upacara pernikahan. Ketika mengawalinya kedua orang tua terlebih dahulu memanjatkan doa sebagai penghormatan dan mohon restu pada Thien (Tuhan), juga pada leluhur.


 Cio Tao, tradisi pernikahan ala Manchu
Malahayati

SAJIAN LELUHUR | Doa orangtua dalam Cio Tao dilakukan dihadapan Meja Leluhur. Diatas meja itu tersaji aneka macam buah, kue, lilin dan dupa yang baunya harum. Tak cuma itu, manisan pun dihadirkan, bersanding dengan kopi dan arak sajian itu ditujukan untuk arwah para leluhur.


 Cio Tao, tradisi pernikahan ala Manchu
Malahayati

SIMBOL DEWASA | Dalam kultur Tionghoa, Cio Tao berarti menyisir rambut (bahasa Hokkien). Dalam tradisi Manchu ritual menyisir itu adalah simbolisasi alih masa kanak-kanak menjadi manusia yang seutuhnya dewasa.


 Cio Tao, tradisi pernikahan ala Manchu
Malahayati

MELEPAS | Cio Tao juga kerap disebut pernikahan ala tradisi Manchu. Dalam pernikahan itu, wajah pengantin wanita ditutup oleh kain hijau, dan ketika dibuka Dalam Fase itu anak perempuan dilepas pada laki-laki yang dipilihnya menjadi pendamping hidup.


 Cio Tao, tradisi pernikahan ala Manchu
Malahayati

KEBAHAGIAAN | Ketika Ciao Tao berlangsung, rumah pengantin dihias pita berwarna merah. Pita itu dibentuk menyerupai bunga persik yang kemudian diletakkan di antara pintu. Pada kertas merah itu tulisan “Fu” disematkan. ''Fu'' bermana kebahagiaan.


 Cio Tao, tradisi pernikahan ala Manchu
Malahayati

MANDIRI | Usai Cio Tao, pengantin memasuki fase kemandirian. Membangun biduk rumah tangga, mereka menentukan jalan hidupnya sendiri.


 Cio Tao, tradisi pernikahan ala Manchu
Malahayati

12 MANGKUK | Menjalani proses Cio Tao, pengantin wanita wajib mengikutii prosesi makan 12 mangkuk. Kedua belas mangkuk makanan itu adalah pemaknaan bulan dalam setahun.


 Cio Tao, tradisi pernikahan ala Manchu
Malahayati

FASE HIDUP | Setiap makanan dalam mangkuk memiliki rasa yang berbeda. Ragam rasa itu menjadi simbol atas rasa yang ada dalam fase hidup. Didampingi sepasang bocah, prosesi itu dilakukan. Kehadiran bocah dalam prosesi Cio Tao menjadi gambaran atas keluarga yang kelak mereka bangun.


 Cio Tao, tradisi pernikahan ala Manchu
Malahayati

MENGHORMATI | Usai melakukan Cio Tao, sepasang pengantin yang ditautkan cintanya wajib saling menghormati. Menjalani hidup yang baru mereka harus saling bantu dan mengerti.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR