Dua cahaya di kolong tol yang gelap

Di perkampungan kumuh nan padat, jejak dua perempuan kembar yang mengabdikan dirinya untuk mendidik anak-anak di kawasan kumuh Lodan, Ancol, Jakarta, selalu diingat oleh warga di sana. Tak hanya menanamkan ilmu pada mereka, kehadiran dua wanita ini juga menjadi penerang di tengah gelapnya harapan.
Editor Foto :
Dua cahaya di kolong tol yang gelap
Agoes Rudianto

PENDIDIKAN | Di tengah pemukiman padat penduduk yang ada di Lodan, Jakarta Utara, Sri Rossyati dan Sri Irianingsih yang akrab dipanggil Rossy dan Rian memberikan pendidikan secara gratis kepada anak-anak miskin yang ada di sana.


Dua cahaya di kolong tol yang gelap
Agoes Rudianto

MANDIRI | Jika dirunut dari awal, entah sudah berapa banyak anak-anak yang pernah diajar oleh keduanya. Tujuan dari pendidikan gratis yang mereka berikan selama ini hanya ingin membuat anak-anak tak mampu itu dapat menjadi pribadi yang mandiri dan kelak bisa merealisasikan mimpi mereka di kemudian hari.


Dua cahaya di kolong tol yang gelap
Agoes Rudianto

SEKOLAH | Kebanyakan masyarakat yang tinggal dalam belenggu kemiskinan di Jakarta beranggapan bahwa sekolah hanya membuat mereka menjadi miskin, dan akhirnya anak-anak mereka pun tumbuh besar di jalan tanpa pernah mengenyam bangku pendidikan.


Dua cahaya di kolong tol yang gelap
Agoes Rudianto

UANG PRIBADI | Dua puluh sembilan tahun sudah, Sri Rossyati dan Sri Irianingsih mengabdikan diri menjadi guru bagi anak-anak tak mampu. Di Sekolah Darurat Kartini yang mereka dirikan dari uang pribadi itu, Bu Kembar, demikian masyarakat di sana memanggil, membiayai semua keperluan anak didiknya, dari buku pelajaranan, seragam, hingga makanan beserta lauknya.


Dua cahaya di kolong tol yang gelap
Agoes Rudianto

PELAJARAN | Para murid yang bersekolah di Sekolah Darurat Kartini mendapatkan materi pelajaran dari kurikulum yang sama dengan pelajar di Jakarta pada umumnya. Dan di akhir tahun, para murid-murid Bu Kembar pun mengikuti ujian di mana soal-soalnya berasal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Dua cahaya di kolong tol yang gelap
Agoes Rudianto

KETRAMPILAN | Di sekolah yang didirikan Bu Kembar, para pelajar juga mendapatkan pendidikan ketrampilan siap kerja seperti menjahit, membuat kue , memasak hingga rias pengantin. Ketrampilan inilah yang nantinya dapat menjadi modal mereka untuk mencari uang dan hidup secara mandiri.


Dua cahaya di kolong tol yang gelap
Agoes Rudianto

TANTANGAN | Perjalanan Sekolah Darurat Kartini sejak 1990 tidaklah mudah, banyak tantangan dihadapi. Tantangan yang paling sering dihadapi yaitu penggusuran yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI.


Dua cahaya di kolong tol yang gelap
Agoes Rudianto

WASIAT | Rossy dan Rian menuturkan, bahwa motivasi menjadi guru bagi mereka yang tak berpunya karena teringat pesan dari orang tua mereka yang juga seorang pendidik. Dalam pesan itu, orang tua mereka mewasiatkan agar keduanya harus bisa memperjuangkan pendidikan bagi kaum marjinal yang tertepikan.


Dua cahaya di kolong tol yang gelap
Agoes Rudianto

PERLAKUAN | Pola pengajaran di Sekolah Darurat Kartini, berbeda dengan cara yang diterapkan dalam mendidik siswa pada sekolah reguler. Anak-anak jalanan yang bersekolah di sini membutuhkan perlakuan khusus untuk mengubah prilakunya dengan ketegasan dan kasih sayang. Pembentukan karakter menjadi pilar utama dalam mendidik mereka.


Dua cahaya di kolong tol yang gelap
Agoes Rudianto

KESEMPATAN | Perjuangan ibu guru kembar ini tidak sia-sia, anak-anak lulusan sekolah tersebut tidak sedikit yang berhasil, namun ada pula dari murid-murid yang pernah belajar di Sekolah Darurat Kartini yang kembali ke jalanan lagi. Meski begitu itu tak disesali, mereka merasa telah berkesempatan menyampaikan pendidikan kepada mereka masyarakat yang termarjinalkan karena kondisi.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR