Geliat Ramadan di 'kampung merah'

Saban Ramadan di Jogokariyan, geliat umat Islam begitu kentara. Lantunan ayat suci Al Qur'an yang terdengar sayup dari dalam masjidnya berhasil menghapus citra kampung yang dahulu dikenal sebagai 'rumah besar' bagi pengikut komunis di Yogyakarta.

Editor Foto :
Geliat Ramadan di 'kampung merah'
Arnold Simanjuntak

JOGOKARIYAN | Orang-orang tua di Jogokariyan tahu persis bagaimana kampungnya dulu dianggap sebagai 'rumah besar' bagi masyarakat pengikut Partai Komunis Indonesia. Tapi hari ini, citra itu tak berbekas, warna islam di kampung itu justru yang terlihat, terutama ketika bulan Ramadan tiba.


Geliat Ramadan di 'kampung merah'
Arnold Simanjuntak

MASJID | Pasca geger Gerakan 30 September 1965, Pemerintah Orba getol melakukan pembersihan di kawasan itu. Warga yang dituding terkait Partai Komunis Indonesia ditangkapi. Menggunakan tentara, Pemerintah Orba memata-matai masyarakat di Jogokariyan. Agar aman dari stempel komunis, warga pemeluk Islam banyak yang datang ke Masjid.


Geliat Ramadan di 'kampung merah'
Arnold Simanjuntak

INISIATIF | Masjid Jogokariyan dibangun pada 1966 atas inisiatif para pengusaha batik dan tenun yang tinggal di Karangkajen. Idenya sendiri dicetuskan pengusaha batik Haji Jazuri yang kemudian dibahas bersama tokoh agama dan masyarakat berlatar belakang Muhammadiyah dan Masyumi.


Geliat Ramadan di 'kampung merah'
Arnold Simanjuntak

WAJAH | Kondisi di Jogokariyan telah berubah. Jika dulu syiar Islam amatlah sulit karena adanya penolakan kaum Abangan yang tinggal di sana, kini nuansa Islam justru menjadi wajah kawasan Jogokariyan setiap hari. Dan nuansa itu semakin jelas kentara ketika bulan suci Ramadan tiba, banyak masyarakat Yogyakarta mendatangi Jogokariyan untuk berbuka puasa dengan sejawat, kerabat, atau bersama masyarakat Jogokariyan yang selalu antusias menyambut mereka yang datang.


Geliat Ramadan di 'kampung merah'
Arnold Simanjuntak

KEBERKAHAN | Perubahan Jogokariyan sampai hari ini mendatangkan keberkahan bagi masyarakatnya. Pada bulan Ramadan, beragam panganan dan minuman untuk berbuka dijual, keberadaannya menghiasi jalan-jalan di lingkungan masjid. Dijual murah dengan rasanya yang nikmat, aneka makanan itu menjadi komoditas yang menguntungkan setiap tahunnya.


Geliat Ramadan di 'kampung merah'
Arnold Simanjuntak

PANGANAN | Meski banyak masyarakat yang berjualan di sekitar masjid, selama Ramadan, setidaknya 3.000 piring santapan berbuka disediakan Takmir Masjid Jogokariyan untuk jamaah dan masyarakat yang singgah. Untuk mengadakan panganan berbuka itu, Takmir Masjid Jogokariyan mengandalkan infak dari para jamaah yang selalu membanjir kala Ramadan tiba.


Geliat Ramadan di 'kampung merah'
Arnold Simanjuntak

WARGA | Eko Hendriarianto, 54 tahun, seorang penyandang disabilitas yang juga warga Jogokariyan. Berprofesi sebagai juru parkir, ia telah lebih dari 10 tahun aktif terlibat dalam berbagai kegiatan di Masjid Jogokariyan, termasuk untuk kegiatan berbuka puasa massal yang diselenggarakan oleh takmir masjid.


Geliat Ramadan di 'kampung merah'
Arnold Simanjuntak

KEGIATAN | Di dalam masjid menjelang waktu berbuka, jamaah mendaraskan ayat-ayat Al Qur'an demi menyempurnakan ibadah puasanya. Masjid Jogokariyan memang tak pernah sepi ketika Ramadan, berbagai kegiatan dilakukan, hingga citra sebagai bekas wilayah 'merah' tak lagi berbekas di sana.


Geliat Ramadan di 'kampung merah'
Arnold Simanjuntak

RAMAI | Sementara di luar masjid, masyarakat Yogyakarta yang datang duduk lesehan di sepanjang jalan. Tikar yang dibentangkan selepas Ashar membuat kawasan itu menjadi ruang makan yang panjang dan selalu ramai oleh umat yang datang.


Geliat Ramadan di 'kampung merah'
Arnold Simanjuntak

TOLERANSI | Saat Ramadan, tak hanya warga lokal saja yang mendatangi kawasan Jogokariyan, geliatnya yang khas, dan keterbukaan masyarakat kampung itu telah menjadi daya tarik bagi wisatawan dan mahasiswa-mahasiswa asing yang ingin menikmati nuansa Ramadan di tanah Mataram. Jogokariyan adalah warna lain Yogyakarta, toleransi yang dibangun apik oleh warganya membuat kawasan yang dulu 'merah' itu berevolusi sebagai daerah percontohan dimana semua orang saling menghormati dan bersanding bersama sebagai umat manusia.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR