Gerbang laut yang kini miskin dan kumuh

Gampong Jawa yang letaknya di kecamatan Kutaraja, Banda Aceh merupakan wilayah kota Kerajaan Aceh Darussalam. Kini kawasan itu lebih dikenal sebagai kawasan miskin dan kumuh. Padahal dulu Kampung Jawa masyhur di kalangan para pengelana laut.

Editor Foto :
Gerbang laut yang kini miskin dan kumuh
Fahreza Ahmad

SENJA | Aslinya Gampong Jawa atau Kampung Jawa adalah tempat nan elok. Suguhan senjanya bahkan bisa membuat siapa pun takjub berdiri di situ. Tapi sayang, pintu gerbang Aceh dari laut itu kini menjadi daerah kumuh, di mana kemiskinan tumbuh subur di kawasan tersebut.


Gerbang laut yang kini miskin dan kumuh
Fahreza Ahmad

SAMPAH | Kampung Jawa yang dulu masyhur sebagai bagian dari Kuta Raja kini lebih dikenal sebagai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah bagi Kota Banda Aceh. Sekitar 180 ton sampah setiap harinya masuk ke TPA itu. Dampaknya bau sampah pun berhembus, menyebar hingga pemukiman warga di setiap waktu.



Gerbang laut yang kini miskin dan kumuh
Fahreza Ahmad

TEPI SUNGAI | Banyak masyarakat di Kampung Jawa tinggal di tepian sungai. Di Dusun Ujung, gubuk kecil dengan dinding triplek tumbuh subur. Kebanyakan masyarakat yang tinggal di situ adalah pemulung, sehari-harinya mereka mengais sampah di TPA sampah demi hidup.


Gerbang laut yang kini miskin dan kumuh
Fahreza Ahmad

PENERIMA DANA | Provinsi Aceh saat ini terdaftar sebagai provinsi termiskin di Sumatra. Provinsi dengan otonomi kusus itu ercatat sebagai penerima dana desa ketiga terbesar setelah Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Gerbang laut yang kini miskin dan kumuh
Fahreza Ahmad

INFRASTRUKTUR | Di Kampung Jawa infrastruktur layak guna tak tampak. Untuk mendapatkan air pun warga masih harus menimba dari sumur yang pada musim kemarau selalu kering isinya. Sangat ironis tentunya karena dalam rentang waktu 2015-2018 dana desa yang telah dikucurkan untuk Provinsi Aceh telah mencapai Rp 14,8 triliun, dan setiap desanya mendapat jatah Rp 686 juta per tahun.


Gerbang laut yang kini miskin dan kumuh
Fahreza Ahmad

SEJARAH | Dalam sejarah Nusantara, Kampung Jawa adalah tempat singgah bagi tentara Kerajaan Demak yang dibawa Adipati Unus berperang mengusir Portugis. Meski disokong oleh armada laut Kerajaan Aceh, upaya pengusiran itu gagal. Banyak tentara Demak akhirnya tinggal menetap. Keberadaan orang-orang Jawa di tempat itu kemudian menjadi cikal bakal dari nama Gampong Jawa yang kini dikenal sebagai kampung nelayan di pesisir Banda Aceh.


Gerbang laut yang kini miskin dan kumuh
Fahreza Ahmad

SITUS SEJARAH | Kampung Jawa tak hanya dikenal sebagai kampung nelayan. Situs sejarah berupa makam - makam dari zaman Kerajaan Aceh Darussalam juga ada di sana, sayang kondisinya terabaikan. Berdekatan dengan Gampong Pande yang dipercaya sebagai pusat Kerajaan Aceh Darussalam, situs sejarah dipercaya masih banyak terdapat di sana.


Gerbang laut yang kini miskin dan kumuh
Fahreza Ahmad

SEKOLAH SORE | Anak-anak Kampung Jawa tak banyak yang mengenyam bangku sekolah, mereka lebih banyak bekerja membantu orangtua memulung sampah. Beruntung ada kegiatan sosial bernama Sekolah Sore, dimulai sejak 7 tahun lalu kegiatan ini diprakarsai oleh Maulidar Yusuf, seorang lulusan UIN Ar-raniry Banda Aceh.


Gerbang laut yang kini miskin dan kumuh
Fahreza Ahmad

SAMPAH | Berada dekat dengan TPA, sampah menjadi problem bagi masyarakat dan lingkungan Kampung Jawa. Bukan cuma polusi bau dirasa, sampah pun berserak di sunga sampai muara.


Gerbang laut yang kini miskin dan kumuh
Fahreza Ahmad

TRANSFORMASI | Dengan kucuran dana desa yang cukup besar semestinya Kampung Jawa dapat bertransformasi menjadi tempat wisata. Memulainya dari pengolahan sampah, kawasan itu bisa berubah. Kemiskinan dan kondisi lingkungan yang kumuh pun pasti perlahan hilang, berganti dengan pemandangan khas Gampong Jawa yang kaya oleh situs sejarah Kerajaan Aceh Darussalam.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR