Ironisnya hukum cambuk di bumi rencong

Pelaksanaan hukum cambuk di Aceh tak sekadar pemberian hukuman, namun juga menjadi tontonan. Disambut dengan antusias, pelaksanaan hukuman itu layaknya hiburan yang dapat dinikmati oleh masyarakat dari segala lapisan. Ironisnya, anak-anak pun turut menyaksikan prosesi pemberian hukuman.

Editor Foto :
Ironisnya hukum cambuk di bumi rencong
Raudhatul Jumala

PRODUK HUKUM | Uqubat cambuk terhadap pelanggar syariah di Aceh kini tak hanya menjadi produk hukum saja, prosesi sakral itu kini tak ubahnya sebuah tontonan bagi masyarakat. Seperti yang terjadi pada pelaksanaan hukum cambuk yang berlangsung di Masjid Baiturrahman, Gampong Lampoh Daya, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh, Rabu (20/3/2019), ratusan orang datang dan menyaksikan prosesi itu.


Ironisnya hukum cambuk di bumi rencong
Raudhatul Jumala

IRONIS | Tak hanya disaksikan oleh orang-orang dewasa, pelaksanaan hukuman cambuk di bumi rencong juga kerap disaksikan oleh anak-anak dibawah usia 18 tahun, sungguh ironis. Padahal dalam ketentuannya, pelaksanaan hukuman itu seharusnya tak memperbolehkan anak-anak menyaksikan penjatuhan hukuman itu.


Ironisnya hukum cambuk di bumi rencong
Raudhatul Jumala

BEBAN BERAT | Adalah beban moral bagi penerima hukuman ketika kaki melangkah menuju tempat eksekusi. Beban itu semestinya bisa diminimalisir ketika tempat eksekusi dipindah ke area khusus di mana mereka tak dijadikan tontonan, bahkan mengarah pada hiburan bagi masyarakat.


Ironisnya hukum cambuk di bumi rencong
Raudhatul Jumala

ATURAN | Memang ada aturan baru pemindahan pelaksanaan hukuman cambuk, tapi wacana itu mendapatkan penolakan. Pemindahan pelaksanaan hukuman cambuk sendiri diusulkan agar tidak lagi dilakukan di ruang publik tapi berpindah ke Lembaga Pemasyarakatan (LP).


Ironisnya hukum cambuk di bumi rencong
Raudhatul Jumala

KETENTUAN | Adalah kalangan ormas sipil, Front Pembela Islam, dan DPRA di Provinsi Nangroe Aceh Daarussalam (NAD) yang tetap mendesak aturan baru ini dibatalkan. Mereka beralasan pelaksanaan hukuman cambuk di dalam Lapas menyalahi ketentuan Qanun dan tidak sesuai dengan kaidah Islam.



Ironisnya hukum cambuk di bumi rencong
Raudhatul Jumala

PELAJARAN | Aturan baru bagi penyelenggaraan hukuman cambuk sendiri bertujuan untuk mencegah anak-anak menyaksikan eksekusi tersebut dan untuk menjamin hak terpidana. Namun itu menjadi mentah ketika ada sebagian orang menganggap bahwa menyaksikan eksekusi hukuman cambuk merupakan bagian dari proses belajar hukum qanun jinayat.


Ironisnya hukum cambuk di bumi rencong
Raudhatul Jumala

SOROTAN | Pelaksanaan hukuman cambuk kerap memicu sorotan internasional, dianggapnya pelaksanaan hukuman ini sebagai bentuk pelanggaran dari Hak Asasi Manusia. Bahkan Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) menganggap bahwa penerapan hukuman itu dianggap merupakan pelanggaran hukum internasional tentang penyiksaan, perlakuan kejam, tidak manusiawi, atau tidak bermartabat lainnya yang tercantum dalam Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik (ICCPR).


Ironisnya hukum cambuk di bumi rencong
Raudhatul Jumala

KOMODITAS WISATA | Tak sekadar menjadi objek negatif, pelaksanaan hukuman cambuk pun ternyata menjadi komoditas pariwisata juga. Pada beberapa kesempatan pelaksanaan hukum cambuk di Aceh telah menyita perhatian wisatawan mancanegara. Terutama wisatawan yang datang dari Malaysia. Para wisatawan yang datang dari negeri seberang itu beranggapan bahwa pada dasarnya hukum cambuk di Aceh bukan untuk menyakiti terhukum, melainkan agar pelaku insaf dan bertobat atas kesalahan yang telah diperbuat.


Ironisnya hukum cambuk di bumi rencong
Raudhatul Jumala

KEHADIRAN | Diberlakukannya hukuman cambuk sendiri merupakan keinginan warga Aceh.Keinginan itu didasari oleh kepercayaan bahwa hukum Islam adalah yang tepat bagi masyarakat di Aceh. Dan itu mempengaruhi kehadiran masyarakat umum ketika hukuman itu berlangsung.


Ironisnya hukum cambuk di bumi rencong
Raudhatul Jumala

HUKUMAN | Pemerintah Daerah Nangroe Aceh Darussalam mengklaim bahwa hukuman cambuk berdampak positif bagi masyarakat di Serambi Mekah. Tapi tak ada yang membayangkan rasa malu penerima hukuman cambuk ketika menjadi tontonan. Ada yang berpikir itu adalah bagian dari hukuman, tapi banyak pula yang beranggapan sebagai bentuk penghancuran eksistensi penerima hukuman di lingkaran sosialnya.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR