Orang Nduga yang terlupakan

Nduga yang berada di Provinsi Papua adalah zona merah yang tersisa di Indonesia. Di sanalah baku tembak antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka (TPNB-OPM) dengan aparat keamanan masih kerap terjadi. Kondisi itu membuat dua ribu warga di Nduga akhirnya pergi mengungsi. Sayang, kondisi mereka terlupakan, bahkan anak-anak pun masih hidup dalam lapar dan ketakutan.
Editor Foto :
Orang Nduga yang terlupakan
Albertus Vembrianto

TAKUT | Pasca insiden penembakan pekerja proyek Trans Papua oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka (TPNB-OPM) diawal Desember tahun lalu, Kabupaten Nduga, Papua menjadi zona merah yang berbahaya. Tindakan tegas diambil Presiden Jokowi dengan mengerahkan TNI-Polri untuk menjaga ketertiban di sana.Tapi di balik itu, aura takut menyelimuti masyarakat di sana. Terutama mereka anak-anak yang turut mengungsi mencari selamat. Martinus adalah salah satunya, selain dicengkram takut ia juga kerap berbisik '' Sa lapar sekali''.



Orang Nduga yang terlupakan
Albertus Vembrianto

TINGGALKAN SEKOLAH | Pergi ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya warga yang terdampak konflik bersenjata meninggalkan rumah tinggal dan hartanya, anak-anak yang turut mengungsi pun terpaksa meninggalkan sekolah mereka.


Orang Nduga yang terlupakan
Albertus Vembrianto

KEMBALI BELAJAR | Untungnya tim relawan dari sebuah lembaga swadaya masyarakat mau secara sukarela membangun sekolah darurat untuk kelangsungan pendidikan bocah-bocah asal Nduga. Dibangun semi permanen dan ala kadarnya, sekolah darurat itu menjadi tempat anak-anak pengungsi kembali bersekolah.


Orang Nduga yang terlupakan
Albertus Vembrianto

TAKUT | Ada ratusan anak pengungsi asal Nduga yang turut belajar, tapi umumnya mereka masih dicekam takut dan didera kelaparan akibat makanan teramat sulit didapat. Ketakutan itu tampak ketika orang asing datang, mata-mata mereka yang besar tak mau menatap siapa pun yang tak dikenalnya.


Orang Nduga yang terlupakan
Albertus Vembrianto

BELAJAR | Aktivitas di sekolah darurat cukup membantu anak-anak pengungsi melupakan rasa takut dan rasa sedih akibat kehilangan saudara. Pelajaran demi pelajaran yang diajarkan oleh para guru membuat mereka gembira meski hanya sebentar saja. Sayang, konsentrasi mereka kerap hilang karena harus menahan perut yang keroncongan.


Orang Nduga yang terlupakan
Albertus Vembrianto

SAKSI | Anak-anak pengungsi yang turut dalam kegiatan belajar di sekolah darurat berasal dari Distrik Mbua, Yal, Yigi, Mapenduma, Nikuri, dan Mbulmu Yalma. Dan umumnya, anak-anak pengungsi yang bersekolah di sekolah darurat itu adalah saksi dari konflik bersenjata yang terjadi di Nduga. Kesaksian atas konflik bersenjata sering mereka ucapkan, dan jika melihat orang-orang asing berseragam tentara memanggul senjata, mereka segera lari sembunyi ke mana saja.


Orang Nduga yang terlupakan
Albertus Vembrianto

KEKURANGAN | Sebelum tinggal di pengungsian yang terdapat di Wamena, para pengungsi Nduga tinggal di gunung dan di hutan-hutan. Saat hidup di sana, banyak yang kehilangan sanak keluarga akibat deraan sakit, juga derita. Lepas dari ganasnya alam bukan berarti mereka lepas dari kesedihan, tinggal di rumah kerabat mereka kekurangan kebutuhan pangan. Anak-anak hanya makan sekali, itu pun hanya umbi saja. Sedangkan orang dewasa ada yang bisa tak makan berhari-hari demi sang anak kenyang.


Orang Nduga yang terlupakan
Albertus Vembrianto

TAK DIPERHATIKAN | Menurut para pengungsi di Wamena, perhatian pemerintah benar-benar tak ada. Selama berbulan-bulan mereka ada di sana, kebutuhan makanan lebih sering datang dari tim relawan dan masyarakat yang peduli akan kondisi mereka, itu pun tidak setiap hari ada.


Orang Nduga yang terlupakan
Albertus Vembrianto

DERITA BAYI | Banyak pengungsi asal Nduga di Wamena memiliki bayi. Perjalanan jauh kala pergi dari desanya membuat ibu-ibu mereka sakit dan tak dapat menyusui. Kondisi semakin memprihatinkan tatkala susu bayi tak bisa dipenuhi, Agar kenyang, bayi-bayi itu hanya diberi asupan teh dan air putih saja. Banyak nenek menjerit melihat kondisi cucu-cucunya. Tak salah jika mereka memina agar konflik diakhiri dan pemerintah mau membantu mereka agar bayi-bayi mereka tumbuh sehat dan jauh dari deraan sakit.


Orang Nduga yang terlupakan
Albertus Vembrianto

BUKAN TENTARA BERSENJATA | Banyak orang-orang tua asli Nduga yang turut mengungsi meminta agar tentara tak melakukan pendekatan kepada mereka dengan senjata, itu agar generasi mereka tak takut dan dicekam trauma. Dari Wamena para pengungsi pun berharap agar presiden mau melihat keadaan mereka. ''Jangan kirim tentara bersenjata, cukup kirimkan kami bantuan. Kirimkan makanan, kirimkan susu agar cucu-cucu kami dapat hidup di rumah kami, di kampung kami di Nduga, Papua''.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR