Kapal kayu, jembatan menuju Wakatobi

Di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, kapal kayu menjadi alat transportasi yang amat penting. Warga di sana bahkan menganggap keberadaannya layak disebut bak jaringan urat nadi. Menjadi penunjang kegiatan ekonomi, kapal kayu adalah jembatan menuju pulau yang kini disebut oleh Presiden Jokowi sebagai Bali Baru di timur negeri. Sayang, saat ini kapal kayu di Wakatobi tak semuanya lolos uji kelayakan dan keamanan. Padahal kapal itu transporasi utama bagi warga di sana.

Editor Foto :
Kapal kayu, jembatan menuju Wakatobi
Alfian Widiantono

KAPAL KAYU | Di Wakatobi, kapal kayu adalah penyangga utama roda ekonomi. Walau ada kapal speed yang lebih cepat, kapal kayu adalah primadona karena tarifnya cukup murah. Armada kapal kayu banyak terdapat di perairan Wakatobi. Menjangkau semua pulau utama di sana, kapal-kapal itu beroperasi tiap hari.


Kapal kayu, jembatan menuju Wakatobi
Alfian Widiantono

LUAS | Ukuran kapal kayu yang lebih buncit dari kapal speed membuat kapal itu mampu membawa penumpang lebih banyak. Dalam perut kapal kayu, komoditas dagang yang menjadi kebutuhan sehari-hari sering pula diangkut. Bahkan barang dagangan berukuran besar seperti mesin cuci, kulkas, motor, juga mobil kerap pula diangkut.



Kapal kayu, jembatan menuju Wakatobi
Alfian Widiantono

NYAMAN | Di dalam kapal kayu tidak ada kursi, yang ada hanya dipan kayu berbaris. Demi rasa nyaman penumpang boleh memilih tempatnya sendiri. Berhadapan langsung dengan Laut Banda dan Flores yang dalam dan luas membuat perairan Wakatobi cukup rawan akan ombak tinggi.


Kapal kayu, jembatan menuju Wakatobi
Alfian Widiantono

NYALI | Bagi orang yang baru pergi ke Wakatobi, butuh nyali lebih untuk menaiki kapal kayu ini. Tapi bagi mereka yang telah terbiasa, kapal kayu ini seperti kapal ferry dengan tingkat kenyamanan dan keamanan tinggi.


Kapal kayu, jembatan menuju Wakatobi
Alfian Widiantono

NAHKODA | Di bulan April sampai Agustus, ombak di perairan menuju Wakatobi cukup ganas. Namun biasanya para nahkoda kapal kayu memiliki rute lain untuk menghindar dari terjangan gelombang keras dan tinggi. Ada kalanya jalur lain juga tak bisa dilewati, dan pilihan yang paling aman adalah menepi ke pulau terdekat untuk menunggu cuaca tenang kembali.


Kapal kayu, jembatan menuju Wakatobi
Alfian Widiantono

TANJUNG ASAM | Perairan antara Pulau Kaledupa dan Tomia adalah kawasan rawan yang paling berpotensi diganggu gelombang. Begitu juga dengan perairan di kawasan Tomia dan Binongko. Orang-orang di kepulauan Wakatobi menyebutnya Tadu Sampalu yang berarti Tanjung Asam. Menurut para awak kapal perairan itu merupakan tempat pertemuan arus yang tak jarang menghasilkan gelombang keras dan cukup tinggi.


Kapal kayu, jembatan menuju Wakatobi
Alfian Widiantono

DI TENGAH LAUT | Hal lain yang membuat penyebrangan di Wakatobi begitu penuh warna adalah naik dan turun di tengah laut. Situasi itu terjadi jika penumpang naik dan turun di tengah rute kapal. Meski sudah ada dermaga, kapal kayu enggan menepi. Sebagai gantinya penumpang harus menggunakan jasa ojek laut (perahu kecil) yang fungsinya sebagai feeder bagi penumpang yang akan naik dan turun.


Kapal kayu, jembatan menuju Wakatobi
Alfian Widiantono

NGERI | Biasanya ojek kapal yang berfungsi sebagai pengumpan akan menempel dan mengikatkan talinya ke kapal kayu. Ditengah laut, penumpang yang naik dan turun bergantian memanfaatkan perahu kecil itu. Proses ini kerap menjadi tontonan, karena keseruan hadir dalam kengerian.


Kapal kayu, jembatan menuju Wakatobi
Alfian Widiantono

PERJALANAN | Jarak antar pulau di Wakatobi relatif sama. Rata-rata dapat ditempuh sekitar dua jam dengan menggunakan kapal kayu. Sedangkan jarak paling jauh yang ditempuh oleh armada kapal kayu di Wakatobi adalah rute dari Wangi-Wangi ke Binongko. Perjalanannya berkisar enam jam lamanya, itu membuat banyak penumpang memilih tidur.


Kapal kayu, jembatan menuju Wakatobi
Alfian Widiantono

TENGGELAM | Wisatawan yang datang ke Wakatobi kian kemari semakin banyak. Mereka membutuhkan kenyamanan dan keamanan untuk perjalanannya. Keberadaan transportasi laut yang modern dan menawarkan kenyamanan serta rasa aman pasti akan membuat kapal-kapal kayu yang jauh dari kata aman itu ditinggalkan dan tenggelam. Maka sudah sepantasya bisnis transpotasi laut di Wakatobi berbenah demi menyambut datangnya para penikmat alam.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR