Keluarga Terakhir di Rejosari Senik

Di sepanjang pesisir utara Jawa, tepatnya di Demak, Jawa Tengah, kisah-kisah warga yang bertahan di tengah abrasi banyak berserak. Kisah-kisah itu adalah cerita tentang bagaimana manusia bertahan dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan di sekeliling mereka. Salah satunya adalah cerita keluarga Pasijah yang hingga saat ini masih tetap tinggal dan bertahan di kampungnya yang telah tenggelam.

Editor Foto :
Keluarga Terakhir di Rejosari Senik
Zulkifli

MASALAH SERIUS | Indonesia dengan puluhan ribu pulaunya patut menjadikan perubahan iklim sebagai persoalan serius. Dari data Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, sekitar 400 km garis pantai di 100 titik yang tersebar di 17 provinsi telah terkena abrasi. Dampak terbesarnya berada di pesisir utara Pulau Jawa.


Keluarga Terakhir di Rejosari Senik
Zulkifli

PESISIR | Naiknya permukaan air laut adalah salah satu penyebab meluasnya abrasi di daerah pesisir utara Pulau Jawa. Selain itu, berdasarkan analisis beberapa ahli dan akademisi, aktifitas-aktifitas reklamasi juga menjadi salah satu penyebab percepatan naiknya permukaan air laut di beberapa titik di bagian utara Jawa.


Keluarga Terakhir di Rejosari Senik
Zulkifli

ADAPTASI | Perkampungan di pesisir utara Jawa dari tahun ke tahun semakin menyempit. Para penduduk terpaksa untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan mereka yang berubah. Beberapa dusun di sepanjang pantai utara Jawa malah telah tenggelam. Seperti yang terjadi pada Dusun Rejosari Senik, Demak, Jawa Tengah.


Keluarga Terakhir di Rejosari Senik
Zulkifli

TERAKHIR | Keluarga Pasijah adalah keluarga yang masih bertahan di Dusun Rejosari Senik hingga hari ini. Pasijah (50 tahun) tinggal bersama suami dan empat anak. Rumah Pasijah dilingkung oleh hutan mangrove. Satu-satunya cara menuju ke kediamannya adalah dengan berperahu.


Keluarga Terakhir di Rejosari Senik
Zulkifli

DITINGGALKAN | Dusun Rejosari Senik di Kabupaten Demak beberapa tahun yang lalu adalah desa tempat hidup 200an keluarga. Lahan-lahan pertanian dan tambak-tambak ikan adalah mata pencaharian masyarakat desa ini. Sejak 2005, penduduk dusun mulai meninggalkan kampung karena naiknya permukaan air laut.


Keluarga Terakhir di Rejosari Senik
Zulkifli

EKONOMI | Suami Pasijah sehari-hari berprofesi sebagai nelayan. Anak ketiga dan keempat sedang menempuh pendidikan di sekolah menengah. Dari penuturan Pasijah, ia mengatakan bahwa salah satu alasan ia dan keluarga memilih tetap tinggal karena kendala ekonomi untuk membangun kembali rumah di tanah yang baru.


Keluarga Terakhir di Rejosari Senik
Zulkifli

SIASAT | Berbagai cara dilakukan oleh keluarga Pasijah untuk bisa beradaptasi dengan lingkungannya yang berubah. Mulai dari meninggikan lantai rumah, menaikkan tempat tidur, hingga menanam mangrove di sekeliling rumah mereka. Cara-cara ini adalah siasat yang dilakukan tetap bertahan di kampungnya yang tenggelam.


Keluarga Terakhir di Rejosari Senik
Zulkifli

UPAYA | Pada 2006, Pasijah mulai menanam mangrove. Mangrove yang ditanami telah menjadi benteng bagi rumahnya dari air pasang yang datang. Budidaya Mangrove yang dikerjakan oleh Pasijah telah terdengar luas. Tak jarang beberapa warga dari desa tetangga datang untuk membeli bibit mangrove dari Pasijah.


Keluarga Terakhir di Rejosari Senik
Zulkifli

ANCAMAN | Keluarga Pasijah adalah cerminan bagaimana manusia mempertahankan tempat hidupnya dari perubahan iklim yang sedang terjadi di dunia. Hilangnya kampung Pasijah menjadi peringatan bagi 1446 desa di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa yang juga terancam abrasi.


Keluarga Terakhir di Rejosari Senik
Zulkifli

PERUBAHAN IKLIM | Abrasi di pesisir utara Jawa adalah satu ancaman yang telah datang sejak lama. Baik terjadi karena perubahan iklim maupun ulah manusia. Data KKP menyebutkan lebih dari 44% lahan pantai di pesisir utara Jawa telah terdampak abrasi. Lebih dari 10.000 ha lahan hilang dalam 20 tahun terakhir. Lahan-lahan yang hilang itu salah satunya adalah kampung keluarga Pasijah.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR