Kesaksian Tambora

Dalam banyak hikayat, letusan Gunung Tambora begitu dahsyat. Melekat dalam ingatan sejarah, amuknya menyebabkan dunia menjadi gelap. Namun kini, Tambora bersinar terang, padang rumputnya yang menampakkan warna keemasan, membuat gunung itu memancarkan kilau cahaya. Pewarta foto lepas Atet Dwi Pramadia mengisahkan kembali legenda Gunung Tambora melalui apa yang dilihatnya.

Editor Foto :
Kesaksian Tambora
Atet Dwi Pramadia

SEJARAH | Dalam The History of Java, Sir Thomas Stamford Raffles, menggambarkan dunia yang berubah menjadi gelap berhari-hari tatkala Gunung Tambora menunjukkan amuknya pada 10 April 1815 itu. Kala itu, material vulkanik yang membumbung menelan cahaya matahari, dan debunya beterbangan hingga menutup separuh belahan bumi.


Kesaksian Tambora
Atet Dwi Pramadia

MENCIUT | Memuntahkan jutaan kubik material vulkanik dengan energi letusan mencapai 1,44 x 1027 Erg atau setara dengan 171.428,60 kekuatan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima pada 1945 berdampak pada tinggi gunung itu. Pada mulanya, Gunung Tambora memiliki tinggi 4.300 mdpl, namun setelah itu ketinggian gunung itu menciut menjadi 2.850 mdpl.


Kesaksian Tambora
Atet Dwi Pramadia

HIKAYAT BARU | Siapa nyana, kawasan di sekeliling Tambora kini telah berubah menjadi alam elok nan eksotis. Rumput ilalang yang tersapu sinar matahari, dan hijaunya daun dari pohon-pohon yang tumbuh subur di sana menjadi hikayat baru pariwisata negeri ini.


Kesaksian Tambora
Atet Dwi Pramadia

KACAU | Setahun pasca letusan, Tambora masih berdampak. Bencana ekologi global terjadi, dan zaman itu dicatat oleh para sejarawan sebagai era tanpa musim panas yang menghangatkan bumi. Di Eropa dan Amerika Utara, cuaca yang kacau berujung pada gagal panen terjadi. Bencana kelaparan menewaskan hingga 100.000 penduduk bumi. Sedangkan di Sumbawa, Lombok dan Bali , 11.000 orang tewas terkena efek langsung letusan Tambora, menyusul 49.000 lainnya karena bencana kelaparan.


Kesaksian Tambora
Atet Dwi Pramadia

HIKAYAT | Dari Raja Sanggar dan keluarganya yang selamat, amuk Tambora dikisahkan pada Letnan Owen Philips yang ditugaskan oleh Sir Thomas Stamford Raffles untuk melihat dampak bencana. Hikayat letusan maha dahsyat Tambora pun menginsipirasi bangsawan Freiherr von Drais untuk mengembangkan konstruksi sepeda serta sosok horor Frankenstein dalam novel karya Mary Godwin lantaran musim panas yang berubah kelam.


Kesaksian Tambora
Atet Dwi Pramadia

EKSOTISME PETUALANGAN | Bagi banyak petualang, Gunung Tambora bak sebuah singgasana yang menawan. Meski tak tinggi, panorama nan elok tanaman perdu kala tersiram cahaya mentari adalah eksotisme yang ingin dinikmati. Menjejaki sejarah yang terserak menjadi sensasi petualangan yang menawan.


Kesaksian Tambora
Atet Dwi Pramadia

SEMESTA | Menikmati malam cerah di puncak Tambora ibarat menyibak semesta yang kaya. Bintang yang tak malu bersinar dapat dinikmati dengan mudah, dan siapa pun yang berdiri di sana pasti menyadari bahwa kini Tambora begitu menebarkan gelora.


Kesaksian Tambora
Atet Dwi Pramadia

KALDERA | Desa Pancasila dan Ndoro Canga adalah gerbang menuju Puncak Tambora. Dua jalur tersebut memilik pemandangan yang bervariasi. Untuk menuruni kaldera, disarankan untuk menyewa jasa pemandu yang kualifikasinya menguasai teknik panjat tebing. Untuk menuruni tebing, teknik rappeling digunakan. Melakukannya adrenalin pasti tertantang.


Kesaksian Tambora
Atet Dwi Pramadia

PEMANDU | Andri Umar (29) begitu akrab dengan Tambora. Pengetahuannya akan Gunung Tambora kerap digunakan oleh wisatawan yang datang ke sana. Ia sendiri berprofesi sebagai petani kopi, namun bila musim pendakian tiba, Andri berganti profesi. Berbekal pemahamannya akan gunung itu dan menguasai teknik pendakian ia pun menjadi pemandu bagi siapa pun yang mendaki Tambora.


Kesaksian Tambora
Atet Dwi Pramadia

PENGHUNI | Di padang rumput Ndoro Canga, kawanan kuda liar dan kerbau sangat mudah dijumpai. Berlarian di bentang padang rumput nan luas, hewan-hewan liar itu membuat eloknya Tambora amat dikagumi.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR