Konflik yang tak pernah berakhir

Bentrokan di Aceh antara gajah dan manusia dilaporkan merupakan yang tertinggi di negeri ini. Pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit baru, perburuan ilegal demi gading yang diperjualbelikan serta pembalakan liar skala besar menjadi penyebab utama meningkatnya bentrokan antara manusia dan gajah di kawasan itu.

Editor Foto :
Konflik yang tak pernah berakhir
Hotli Simanjuntak /EPA-EFE

KONFLIK | Di Provinsi Aceh, perkebunan baru dan munculnya banyak pembangunan perumahan menyebabkan konflik manusia dengan gajah liar semaki fatal. Menurut catatan Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), bentrokan antara gajah dan manusia di Aceh merupakan yang tertinggi di Indonesia saat ini.


Konflik yang tak pernah berakhir
Hotli Simanjuntak /EPA-EFE

BERKURANG | Saat ini habitat gajah berkurang dengan cepat. Menurut laporan FKGI, setidaknya sejak 2012 sampai 2017, sebanyak 170 ekor gajah terbunuh akibat konflik dengan manusia.


Konflik yang tak pernah berakhir
Hotli Simanjuntak /EPA-EFE

BERKEMBANG | Makin maraknya pembukaan lahan perkebunan dan perumahan oleh masyarakat adalah yang menjadi penyebab konflik gajah dengan manusia berkembang pesat.


Konflik yang tak pernah berakhir
Hotli Simanjuntak /EPA-EFE

BERUBAH | Sebenarnya gajah tidak akan berkonflik dengan manusia jika wilayah hidupnya dilindungi, namun kini jalur lintasan binatang itu telah berubah fungsi. Dalam foto, Amira, bayi gajah liar dikuburkan setelah dia terluka dan akhirnya mati karena terjebak dalam perangkap yang dipasang pemburu gading.


Konflik yang tak pernah berakhir
Hotli Simanjuntak /EPA-EFE

MENJADI | Konflik gajah sering terjadi di sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Dan pada 2019 ini, konflik gajah dengan semakin menjadi. Pada konflik tersebut, gajah Sumatra merusak belasan hektar kebun milik warga di wilayah kawasan Bener Meriah, Pidie, Aceh Barat Hingga Kabupaten Aceh Utara.


Konflik yang tak pernah berakhir
Hotli Simanjuntak /EPA-EFE

KURANGI KONFLIK | Berbagai upaya sedang dilakukan oleh pemerintah Aceh dan sejumlah lembaga konservasi masyarakat untuk mengurangi konflik dengan gajah liar, tetapi sejauh ini hanya sedikit keberhasilan.


Konflik yang tak pernah berakhir
Hotli Simanjuntak

SOLUSI | Agar tak mengurangi habitat gajah, akhirnya didirikanlah Conservation Response Unit (CRU) di wilayah rawan konflik. Meski begitu itu bukan satu-satunya solusi, tapi sangat bermanfaat, baik untuk masyarakat maupun gajah.


Konflik yang tak pernah berakhir
Hotli Simanjuntak /EPA-EFE

FRUSTASI | Menghadapi konflik dengan gajah, masyarakat di wilayah terdampak kerap frustasi. Menjaga agar perilaku masyarakat terkendali, CRU melatih gajah jinak untuk mengusir dan mendorong gajah liar yang masuk ke daerah pemukiman.


Konflik yang tak pernah berakhir
Hotli Simanjuntak /EPA-EFE

PERINGATAN DINI | Pemasangan Global Positioning System (GPS) collar pada gajah liar pun dilakukan. GPS collar nantinya akan memberikan informasi posisi gajah secara berkala melalui satelit, laporan tersebut dapat menjadi early warning system dalam menanggulangi aksi gajah liar yang bisa kapan saja terjadi.


Konflik yang tak pernah berakhir
Hotli Simanjuntak /EPA-EFE

HABITAT | Keberadaan gajah sumatera di Aceh saat ini berkisar 539 individu yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota. Namun karena jalur lintasannya terganggu, habitat gajah diperkirakan akan terus berkurang akibat konflik yang terus menerus berlangsung sampai kini.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR