Maninjau, danau besar rumah perantau

Terletak 140 km dari kota Padang, Danau Maninjau yang berada di Tanjung Raya, Agam, Sumatra Barat, dilimpahi panorama yang ciamik. Dikelilingi bukit-bukit yang tinggi, danau vulkanik yang berada di ketinggian 461.5 mdpl itu menjadi rumah bagi masyarakat Minang perantau yang dulunya turun dari puncak Gunung Marapi.
Editor Foto :
Maninjau, danau besar rumah perantau
Ramadhani

DANAU MANINJAU | Berbentuk cekungan, Maninjau adalah danau vulkanik yang dilimpahi tanah yang subur. Tak salah jika kemudian Danau Maninjau disebut sebagai nagari nan makmur.


Maninjau, danau besar rumah perantau
Ramadhani

MUASAL | Nenek moyang masyarakat Maninjau adalah orang-orang Minang yang merantau demi membangun kehidupan di nagari yang baru. Turun dari puncak Gunung Marapi dan singgah di puncak Lawang, kemudian mereka berbondong-bondong turun gunung dan meninjau alam yang akan menjadi rumah baru. Lalu kata meninjau pun disematkan sebagai nama dari danau yang membentang luas itu.


Maninjau, danau besar rumah perantau
Ramadhani

FILOSOFI | ''Maninjau Alam'' dahulu amat dipegang teguh oleh masyarakat Minang yang tinggal di sekitar danau. Filosofi itu selalu dijadikan landasan sebelum mereka memanfaatkan alam sebagai sumber hidup. Sayang generasi yang baru kini mulai meninggalkan ajaran tersebut, akibatnya kerusakan alam di kawasan danau pun tumbuh satu persatu.


Maninjau, danau besar rumah perantau
Ramadhani

TAK BIJAK | Petuah ''Alam takambang jadi guru'' kini telah dilupakan, akibatnya pemanfaatan alam di sekitarnya pun jauh dari kata bijak. Tersebar di sekitar danau, sistem budidaya ikan menggunakan jala pun tumbuh subur, keberadaannya merusak kualitas air dan spesies yang ada di danau tersebut.


Maninjau, danau besar rumah perantau
Ramadhani

NAGARI | Kampung-kampung yang menjadi tempat tinggal masyarakat Maninjau disebut dengan nagari. Ada delapan nagari yang bersentuhan langsung dengan danau, dan ada satu nagari hasil pemekaran yang tidak bersentuhan dengan danau. Dari nagari-nagari itu terdapat kesamaan budaya yang tumbuh, dan sampai saat ini berusaha dijaga agar tetap utuh, satu diantaranya Barakik.


Maninjau, danau besar rumah perantau
Ramadhani

TRADISI | Barakik, atau berakit merupakan tradisi asli masyarakat Minang yang tinggal di sepanjang Danau Maninjau. Tradisi ini digelar ketika Ramadan telah mencapai puncaknya, atau di malam Syawal ketika akhir puasa tiba.


Maninjau, danau besar rumah perantau
Ramadhani

WARISAN NAGARI | Diturunkan dari generasi ke generasi, barakik melibatkan seluruh masyarakat nagari. Tak hanya dewasa, anak-anak pun diikutsertakan sebagai upaya menjaga warisan budaya agar tak hilang ditelan zaman.


Maninjau, danau besar rumah perantau
Ramadhani

SULIT BERTAHAN | Tradisi barakik hanya ada di Maninjau, dan sampai saat ini tradisi itu selalu digelar di empat daerah yang letaknya tak jauh dari danau. Meski biaya pembuatan rakit mahal dan kebutuhan tenaga begitu besar, barakik selalu diupayakan berlangsung demi menjaga warisan.


Maninjau, danau besar rumah perantau
Ramadhani

KEBERSAMAAN | Untuk mengatasi masalah tersebut, proses pembangunan rakit-rakit pun dikerjakan secara bergotong-royong. Melibatkan masyarakat di sejumlah nagari, dana pun dikumpulkan secara kolektif dari masyarakat setempat dan para perantau yang saban tahunnya pulang untuk berlebaran di kampung halaman.


Maninjau, danau besar rumah perantau
Ramadhani

NAGARI PERANTAU | Hampir semua nagari di sepanjang danau menyiapkan rakit. Di atas rakit-rakit itu, miniatur masjid yang telah dibuat diletakkan dan api kemudian dinyalakan. Saat rakit dihanyutkan, meriam bambu berbahan bakar karbit meledak menggelegar, lalu gendang dan talempong dibunyikan bersahutan. Suasana itulah kemudian yang menjadi penanda bagi para perantau bahwa mereka telah berada di kampung halaman.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR