Nadi hidup bernama Furui

Puruih atau Furui sejak lama telah menjadi nadi bagi kota Padang. Disematkan oleh masyarakat Nias yang dahulu menetap di kawasan itu, Puruih adalah pantai yang ombaknya bergulung, berirama keras dan memberi nyawa kota itu.

Editor Foto :
Nadi hidup bernama Furui
Ramadhani

PURUIH | Sudah sejak dulu, kawasan Puruih atau Furui menjadi pemberi nafas kota Padang, Sumatra Barat. Siang dan malam orang-orang dari berbagai penjuru datang ke wilayah tersebut. Di sana, dua pelabuhan penting terdapat, mengapit perkampungan nelayan yang tumbuh menjadi nadi hidup bagi kota di pesisir itu.


Nadi hidup bernama Furui
Ramadhani

NELAYAN | Masyarakat di Puruih banyak hidup sebagai nelayan. Tak hanya menangkap, masyarakat di sana juga dikenal pandai meracik ikan-ikan hasil tangkapan dengan rempah hingga rasanya kaya akan kenikmatan. Itu sebabnya, kawasan Puruih pada bulan Ramadan ini menjadi tempat warga menanti waktu berbuka.


Nadi hidup bernama Furui
Ramadhani

SELANCAR | Seperti nama yang disematkan oleh orang-orang Nias pada masa lampau, ombak di Puruih tidaklah besar, itu membuat banyak peselancar menjadikan pantai ini sebagai tempat untuk berlatih sembari menunggu waktu berbuka puasa.


Nadi hidup bernama Furui
Ramadhani

USAHA | Berada di pusat kota, Pantai Puruih menjadi pilihan bagi mereka yang datang ke Kota Padang. Sedangkan bagi masyarakat lokal, Pantai Puruih kerap menjadi tempat terbaik untuk menikmati senja. Tentu saja ini menguntungkan bagi masyarakat Puruih, karenanya banyak dari mereka yang sengaja membuka usaha kuliner di sepanjang pantainya.


Nadi hidup bernama Furui
Ramadhani

GRATIS | Pantai Puruih adalah pantai gratis yang amat mudah untuk dinikmati oleh siapa pun yang datang. Jika hari libur, pantai ini kerap ramai dikunjungi oleh masyarakat berbagai kalangan. Saat bulan Ramadan, pantai ini kerap ramai di sore hari, dan itu telah berlangsung sejak lama.


Nadi hidup bernama Furui
Ramadhani

RAGAM ETNIS | Tidak jauh dari pantai, tepatnya di kawasan Batang Arau, warga muslim keturunan India hidup berdampingan dengan masyarakat Padang yang beragam etnis. Tak peduli keyakinan yang dipeluk atau ras asal, mereka berinteraksi dengan baik. Telah berlangsung berabad-abad lamanya, interaksi antar etnis di Batang Arau menjadi wajah masyarakat Padang yang multikultur.


Nadi hidup bernama Furui
Ramadhani

BIBIR PANTAI | Bagi anak muda di kota Padang, Puruih adalah tempat yang tepat menghabiskan waktu sore. Selain bisa menikmati bibir pantai, mereka biasa berakrobat, bermain papan selancar meski fasilitas permainan itu tak ada.


Nadi hidup bernama Furui
Ramadhani

SAMUDERA | Di ujung kiri pantai , tepatnya berada di dekat muara, terdapat sebuah bukit yang bernama Gunung Padang. Pada masa revolusi lampau, di puncak bukit itu pos pantau tentara Belanda ,dan juga Jepang berdiri. Dari tempat yang tinggi itu tampak Samudera Indonesia terhampar sejauh mata memandang.


Nadi hidup bernama Furui
Ramadhani

SEJARAH | Dalam buku Legacy of Ashes, The History of the CIA karya Tim Weiner diceritakan bahwa muara di Puruih atau tepatnya di kawasan Batang Arau adalah tempat senjata api dari Amerika dibongkar dari kapal. Kala itu, senjata-senjata dikiriman untuk mendukung perjuangan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang berpusat di sana.


Nadi hidup bernama Furui
Ramadhani

PEMANCING | Senja di Pantai Puruih adalah yang dinanti oleh setiap orang yang datang. Sambil menikmati desir angin, dan menatap ombak yang bergulung pecah, barisan pemancing yang berdiri di tepi dinding pemecah gelombang adalah ingatan yang lekat akan Puruih yang suasananya nyaman.



FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR