Orang Tengger dalam pelukan adat

Robert W. Hefner dalam bukunya Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam menyebut bahwa orang-orang Tengger adalah keturunan pengungsi Majapahit. Hidup di Dataran Tinggi Ngadas, Poncokusumo, Malang, Jawa Timur, dulunya mereka hidup mengisolasi diri. Beragam budaya pun merasuk ke dalam hidup masyarakatnya. Namun dengan modal toleransi, mereka justru hidup dengan penuh welas asih.

Editor Foto :
Orang Tengger dalam pelukan adat
Fully Syafi

ORANG TENGGER | Pada abad ke-16, Kerajaan Majapahit yang mulai melemah mendapat tekanan dari kerajaan Islam yang dulu berkembang. Menyelamatkan diri dari invasi, sebagian masyarakat Majapahit pergi mengungsi menuju Pulau Bali. Namun tak sedikit dari mereka pergi ke pegunungan yang letaknya tak jauh dari Gunung Bromo dan mengisolasi diri. Orang-orang inilah yang kini dikenal sebagai Suku Tengger.


Orang Tengger dalam pelukan adat
Fully Syafi

MEMAKNAI TENGGER | Terdapat banyak makna mengenai ''Tengger''. Ada yang menyebut bahwa istilah “Tengger” berarti pegunungan yang menjadi tempat tinggal mereka. Tapi ada pula menyatakan bahwa istilah “Tengger” berasal dari kalimat Tenggering Budi Luhur yang berarti budi pekerti yang luhur.


Orang Tengger dalam pelukan adat
Fully Syafi

BERKEBUN | Melihat dari riwayat yang ada, ada juga yang menyebut bahwa masyarakat “Tengger” yang senang berladang merupakan kata gabungan dari nama Roro Anteng dan Joko Seger, mereka berdua adalah moyang dari Suku Tengger.


Orang Tengger dalam pelukan adat
Fully Syafi

KEPERCAYAAN TENGGER | Berbeda dengan peradaban Jawa lainnya yang telah didominasi oleh ajaran Islam, orang-orang Tengger masih mempertahankan kepercayaan para leluhurnya dari Majapahit. Para leluhur Suku Tengger menganut aliran kepercayaan Siwa-Budha yang kemudian berkembang menjadi agama Hindu seperti yang dipeluk oleh Suku Tengger sampai saat ini.


Orang Tengger dalam pelukan adat
Fully Syafi

BAKTI ORANG TENGGER | Dikenal sebagai tanah suci sejak zaman Kerajaan Majapahit, orang-orang Tengger dianggap sebagai abdi dari Sang Hyang Widi Wasa. Karenanya di Ngadas, kawasan yang menjadi rumah bagi orang-orang Tengger upacara keagamaan kerap berlangsung sebagai bentuk bakti pada pemilik alam.


Orang Tengger dalam pelukan adat
Fully Syafi

BUDAYA TENGGER | Tradisi kebudayaan dan identitas masyarakat Tengger amatlah problematis. Itu disebabkan oleh pergulatan suku Tengger dalam merespon masuknya budaya dan agama yang masuk dari luar. Hal tersebut banyak mempengaruhi tradisi dalam kehidupan orang-orang Tengger.


Orang Tengger dalam pelukan adat
Fully Syafi

HINDU TENGGER | Mirip dengan masyarakat Bali, mayoritas masyarakat Tengger juga beragama Hindu. Bedanya, jika masyarakat Bali menganut Hindu Dharma, masyarakat Tengger memeluk agaman Hindu Mahayana. Hanya saja, prinsip yang mereka yakini kurang lebih sama. Terutama, tentang kepercayaan jika karma itu ada.


Orang Tengger dalam pelukan adat
Fully Syafi

JALAN ORANG TENGGER | Orang Tengger takut akan perbuatan jahat yang muncul dari diri sendiri. Mereka berkeyakinan, apa pun yang mereka lakukan nantinya akan berbalik kepada diri mereka sendiri. Kepercayaan akan karma inilah yang menuntun mereka menjadi manusia yang senantiasa hidup di jalur yang direstui oleh Tuhan dan semesta alam.


Orang Tengger dalam pelukan adat
Fully Syafi

DUKUN TENGGER | Dipercaya sebagai jembatan antara manusia dengan Sang Hyang Widhi Wasa, dukun menjadi sosok istimewa dalam komunitas orang-orang Tengger. Tak hanya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, dukun juga diyakini mampu menyelesaikan berbagai masalah yang ada di tengah masyarakat.


Orang Tengger dalam pelukan adat
Fully Syafi

KASADA TENGGER | Sebagai penghormatan atas pengorbanan leluhur, masyarakat Tengger tiap tahunnya menggelar Upacara Kasada. Pada upacara itu, sesaji yang dilemparkan ke kawah Gunung Bromo menjadi wujud syukur masyarakat Tengger kepada Tuhan Penjaga Alam.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR