Para pembelah kapal

Berada di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, Gang Belah Kapal sudah lama dikenal sebagai tempat pemotongan kapal-kapal besar dihancurkan. Menjadi potongan-potongan, besi-besi yang berasal dari kapal-kapal tua itu menjadi lumbung rezeki bagi masyarakat di pesisir utara Jakarta. Pada Selasa (16/07/2019), fotografer Raudhatul Jeumala datang ke sana, ia mengabadikan geliat para pekerja yang saban hari bermandi peluh membelah kapal.
Editor Foto :
Para pembelah kapal
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

KUBURAN KAPAL | Masyarakat di Cilincing, Jakarta Utara, sudah sejak lama akrab dengan Gang Belahan Kapal. Di kawasan itu, kapal-kapal tua teronggok tak lagi digunakan, karenanya kawasan itu juga kerap disebut sebagai kuburan kapal.


Para pembelah kapal
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

PEKERJA | Ada puluhan pekerja pembelah kapal yang menggantungkan nasib di kawasan itu. Kebanyakan sudah belasan tahun mengais rezeki sebagai pemotong besi kapal. Kapal yang dipotong kebanyakan berbobot 15000 ton sampai 35000 ton. Untuk satu kapalnya, 15 orang pekerja bahu membahu memutilasi kapal.


Para pembelah kapal
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

BERBAHAYA | Di Gang Belahan Kapal , panas terik menyengat. Angin yang kuat membuat debu besi terbang membawa serpihan yang telah berkarat. Untuk melindungi tubuhnya, para pekerja di sana hanya menggunakan kain baju seadanya, padahal debu besi yang beterbangan amat berbahaya. Dari pengalaman yang ada, debu besi bisa menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut nan parah.


Para pembelah kapal
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

BELAH | Membelah besi kapal bukan pekerjaan mudah. Butuh 12 minggu untuk memutilasi hingga habis sampai kerangka dasar. Setelah dipilah, besi-besi itu kemudian dijual kembali. Besi yang sudah lapuk biasanya akan didaur ulang di pabrik pendaur besi, sedangkan yang masih cukup bagus, besi dijual utuh sebagai bahan dasar produksi kapal yang baru.


Para pembelah kapal
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

NYALI | Bekerja sebagai pembelah kapal butuh nyali dan keberanian. Banyak risiko yang dihadapi, dari jatuh terpeleset dan hingga luka infeksi karena terkena tajamnya karat besi.


Para pembelah kapal
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

PEMOTONG BESI | Kiki adalah salah satu dari banyak pekerja yang menggantungkan hidup dari memutilasi kapal-kapal tua di Cilincing. Datang dari Madura, Jawa Timur, ia sudah belasan tahun menjalani profesi ini.


Para pembelah kapal
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

KUBURAN KAPAL | | Gang Belahan Kapal semula hanyalah sebuah rawa. Lalu kawasan itu diubah oleh pasangan suami istri asal Madura- Bugis yang berprofesi sebagai pengepul besi tua. Dan sampai hari ini kawasan itu dikenal hingga mancanegara.


Para pembelah kapal
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

PROSES KERJA | Biasanya, pemotongan dimulai dari bagian kepala kapal, kemudian diteruskan sampai dek atau geladak. Lalu dilanjutkan memotong anjungan. Karena bentuk kapal cembung dengan anjungan bertingkat, pemotongan selalu dilakukan bertahap. Setelah itu barulah lambung sampai buritan kapal dikupas.


Para pembelah kapal
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

SUMBER REZEKI | Wajar jika lahan di pesisir pantai Cilincing menjadi sumber rezeki bagi banyak orang di sana. Berbagai jenis kapal, seperti super tanker, kargo, tongkang, kapal penumpang sampai belitan rantai besi kapal tua berkarat terserak di pesisir pantai itu setiap harinya. Tentu saja itu menjadi sumber penghasilan yang lumayan.


Para pembelah kapal
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

TAK MATI | Tertempa keras, para pekerja pembelah kapal di Cilincing telah mengalami jatuh bangun selama menggeluti profesi ini. Banyak dari mereka yakin bahwa pekerjaan yang mereka geluti tak akan mati karena kapal-kapal tua selalu ada untuk dimutilasi. Tamirin adalah salah satunya. Puluhan tahun ia bekerja di sana, dan ia pun telah menikmati asam garam sebagai pembelah kapal. Baginya tak ada pekerjaan yang pas untuknya dan ini sudah cukup bisa menjadi sumber pendapatan bagi dia untuk membiayai keluarganya.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR