TSUNAMI SELAT SUNDA

Para penjaga Pulau Sebesi

Di Pulau Sebesi, Lampung, yang letaknya cukup dekat dengan Gunung Anak Krakatau, suasana sepi menjadi pemandangan sehari-hari. Akibat ditinggal warganya yang mengungsi, aksi penjarahan jadi makin kerap terjadi di Sebesi. Tak mau aksi itu menggila, beberapa penduduk laki-laki pun kembali.

Editor Foto :
Para penjaga Pulau Sebesi
Edi Susanto

PERGI | Menjadi daratan yang paling dekat dengan Gunung Anak Krakatau, Pulau Sebesi ditinggalkan oleh penduduknya saat ini. Bukan cuma trauma akan tsunami yang beberapa waktu lalu terjadi, erupsi anak Krakatau yang berlangsung setiap hari juga menjadi ancaman bagi penduduk Pulau Sebesi.


Para penjaga Pulau Sebesi
Edy Susanto

SUKARELA | Pada Minggu (30/12/2018) pewarta foto Edy Susanto mendatangi Pulau Sebesi. Di sana ia menjumpai beberapa lelaki yang secara sukarela menjaga kampungnya yang sepi. Sulaiman, 40 tahun, sudah sejak lama tinggal di Sebesi. Ketika tsunami terjadi, ia lolos dari maut, dan perahunya sempat pula terbawa gelombang hingga ke tengah laut. Agar rumahnya aman dari aksi penjarahan ia pun memilih tinggal di Sebesi.


Para penjaga Pulau Sebesi
Edy Susanto

MEMBACA TANDA | Mulanya Pulau Sebesi dihuni oleh 2807 jiwa penduduk. Setelah hancur diterjang tsunami, pulau itu kini hanya dihuni oleh 400 orang yang tersebar di sejumlah desa yang ada di Sebesi. Zaenal, 45 tahun, adalah warga Desa Tejang. Disela-sela menjaga kampungnya ia mengisahkan bagaimana tsunami datang menerjang kampungnya malam itu. Ia pun berkisah ia sempat menyaksikan tanda-tanda aneh sebelum tsunami terjadi. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat ular laut banyak memasuki daratan, peristiwa itu sebelumnya jarang sekali terlihat.


Para penjaga Pulau Sebesi
Edy Susanto

MENOLAK | Di Desa Tejang, Edy Susanto juga menjumpai Mad Hadi, 40 tahun. Bersama istrinya, Nina Susanti, 35 tahun, dan anaknya, Nathan yang baru berumur 2 bulan, Hadi memilih tetap tinggal di Sebesi. Keluarga ini meyakini bahwa kondisi saat ini masih aman dan mereka belum perlu mengungsi.


Para penjaga Pulau Sebesi
Edy Susanto

PEMBACA GELOMBANG | Mohamad Saleh Raja Paduka, 62 tahun, adalah sesepuh di Pulau Sebesi. Tanggung jawabnya sebagai pemantau gelombang membuat ia yang kerap dipanggil 'Datuk' memilih tak pergi. Bersama penduduk yang masih tinggal, ia selalu berjalan ke bibir pantai saat malam. Mengecek besarnya gelombang, ia selalu berjaga-jaga takut tsunami kembali datang.


Para penjaga Pulau Sebesi
Edy Susanto

TAK TAKUT | Ahmad Qurtubi, 36 tahun, memilih tinggal secara sukarela. Ketika keluarganya mengungsi, ia memilih untuk kembali ke Sebesi. Tidak ada rasa takut dalam dirinya, karena baginya mati adalah sebuah takdir. Ia pun yakin bahwa kondisi akan aman kembali seperti sedia kala.


Para penjaga Pulau Sebesi
Edy Susanto

PENJARAHAN | Herman, 42 tahun, sempat mengungsi. Namun kemudian ia memilih kembali karena mendengar rumahnya di Dusun Tiga Regahan Lada, Desa Tejang dijarah. Bersama tetangganya satu kampung ia pun memilih kembali demi menjaga kampungnya dari para pencuri.


Para penjaga Pulau Sebesi
Edy Susanto

RASA TAKUT | Helmi, 33 tahun, kembali ke Sebesi setelah mengungsikan istri dan dua anaknya ke Lampung Barat. Mengabaikan rasa takut, ia menjaga kampungnya dari aksi para penjarah. Kerap berkeliling memantau keamanan rumah-rumah yang ditinggalkan penghuninya, Helmi pun kerap menuju bibir pantai untuk melihat kondisi Krakatau yang terus menerus erupsi.


Para penjaga Pulau Sebesi
Edy Susanto

JAGA | Robiansyah, 31 tahun, adalah seorang guru. Anak dan istrinya telah lebih dulu pergi mengungsi. Mendengar adanya aksi penjarahan di kampungnya ia pun memilih kembali. Bersama sejumlah warga ia selalu berpatroli menjaga keamanan kampungnya yang amat sunyi.


Para penjaga Pulau Sebesi
Edy Susanto

AKSI PENCURI | Sama halnya dengan sejumlah penduduk Pulau Sebesi yang kembali, Sadiman, 30 tahun, tak mau aksi penjarahan menggila di kampungnya. Tak lama setelah mendengar kabar penjarahan terjadi, Sadiman memilih pulang. Bersama sejumlah tetangganya ia bahu membahu menjaga Pulau Sebesi. Warga Sebesi lainnya berharap, aparat kemanan ada yang datang, dan bersama-sama menjaga Sebesi yang kini bak kampung mati.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR