Para penumbang rezim lalim

Di jalanan mereka pernah diadang tentara. Melawan dengan kepalan tangan dan teriakan membahana, tak mundur mereka meski dihalau dan ditendang. Kala itu, masa senjakala Orde Baru, mereka menyusun siasat menumbangkan rezim yang telah lama meraja.

Editor Foto :
Para penumbang rezim lalim
Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

ADIAN NAPITUPULU, JAKARTA | Dia pernah mengecap sulitnya hidup menjadi kenek, sopir dan buruh.

Ketika kuliah di Universitas Kristen Indonesia, Jakarta, Adian membaca gelagat kekuasaan yang antirakyat. Kondisi ekonomi Indonesia yang rusak, ditambah rezim yang duduk nyaman, memicu Adrian dan kawan-kawannya memilih "jalan pedang".

Forum Kota (FORKOT) jadi tempatnya menapaki jalur politik. Di sana, Adian dan kawan-kawannya menyatukan sikap untuk berlawan.

Baginya, bentrok dengan polisi dan tentara sudah biasa. Di Cawang, Salemba, dan jalan-jalan menuju gedung DPR/MPR adalah palagan baginya yang bertekad menumbangkan penguasa.

Baginya, Mei1998 tak terjadi begitu saja. Momen itu, kata dia, adalah akumulasi kekecewaan dan kemarahan rakyat pada rezim yang lalim.

Kini, 20 tahun reformasi, ia melihatnya sebagai proses yang belum sempurna. Namun, ada hal-hal yang layak disyukuri, terutama soal demokrasi dan kebebasan.


Para penumbang rezim lalim
Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

DHYTA CATURANI, YOGYAKARTA | Per medio 1994, Dhyta kuliah di Jurusan Sosiologi, FISIP, Universitas Gadjah Mada. Hari-hari awal ospek, ia langsung ikut aksi dan orasi di bundaran UGM.

"Aku baru baca buku 10 Dosa Besar Soeharto (Wimanjaya K. Liotohe). Informasinya kutumpahkan dalam orasi. Padahal, waktu itu, menyebut nama Soeharto masih tabu," kenangnya.

Ia lalu jadi aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID)--sayap Partai Rakyat Demokratik (PRD). Jelang Soeharto jatuh, perempuan Surabaya itu gabung Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan (KPRP).

Ia juga jadi pengurus Partai Rakyat Demokratik (PRD) jelang Pemilu 1999. Pada peristiwa “KPU Berdarah”, 1 Juli 1999, Dhyta jadi korban keganasan aparat. Ia diinjak, digebuk, dan pinggangnya ditembak.

Itu tidak menyurutkan semangatnya. Dua dekade setelah Soeharto lengser, Dhyta terus bergiat dalam isu-isu sosial, agraria, dan perempuan.

"Reformasi bukan semata-mata Soeharto turun. Sampai sekarang masih banyak aktivis yang hilang, artinya masih ada keluarga yang kehilangan dan menunggu," ujarnya.


Para penumbang rezim lalim
Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

RHEINHARDT "RHEINER" SIRAIT, JAKARTA | Rheiner masuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia pada 1995. Semula, ia berhasrat jadi pecinta alam, sebelum menyadari diskusi dan aktivisme lebih menarik minatnya.

Pria asal Parapat, Sumatera Utara itu jadi salah satu pentolan Keluarga Besar Universitas Indonesia (KBUI). “Waktu 1998, gua dan kawan-kawan sempat bawa rakyat—pemuda dan kaum miskin kota—bergabung dengan mahasiswa di DPR. Tapi mahasiswa lain menolak. Alasannya, takut disusupi lah,” kenangnya.

Usai Soeharto lengser, Rheiner mengonsolidasikan komite-komite aksi mahasiswa di berbagai wilayah, hingga terwujud Rembug Mahasiswa Nasional Indonesia (RMNI). Forum itu melahirkan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Ia pun sempat jadi Ketua Umum LMND.

Saat rehat dari dunia pergerakan, Rheiner melanjutkan studi pascasarjana di Belanda. Kini, Rheiner menikmati hidup sebagai “bapak rumah tangga”. Ia mengurusi dua anaknya, sembari menyelesaikan disertasi studi doktoralnya di The University of Western Australia.

Rheiner sebut kerusuhan rasial Mei 1998 sebagai warisan negatif reformasi. “Masalahnya, kasus itu tidak pernah diselesaikan. Dampaknya, antara lain sentimen rasial bisa menguat lewat politik identitas yang kita lihat belakangan.”


Para penumbang rezim lalim
Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

SIMON, JAKARTA | Pada pengujung Orde Baru, Simon merupakan aktivis Keluarga Besar Universitas Indonesia (KBUI). Waktu itu, ia berstatus mahasiswa Fakultas Hukum, UI.

Ia ingat cerita yang menginspirasi mahasiswa UI dalam riuh reformasi.

Alkisah, seorang tukang sampah datang ke Posko Salemba, dan ingin menyumbang duit empat ribu--hanya itu yang dia punya. "Kami menolak, tapi dia bilang ingin menyumbang kepada mahasiswa dan mendukung gerakan," ujar Simon. Cerita itu tersebar dan memicu semangat berjuang mahasiswa.

Selepas reformasi, Simon ikut mendirikan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Ia pernah pua bertugas sebagai Sekretaris Jenderal LMND.

Kini, Simon bergelut dengan isu-isu perburuhan, bersama Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI)--kebagian tugas mengurusi Departemen Internasional. Menurutnya, reformasi memberikan beberapa hal positif bagi gerakan buruh, misal: libur May Day, aksi-aksi diperbolehkan, dan kebebasan berserikat.

"Meski demikian, sistem perundangan masih sama, buruh masih tertindas, karena sejak Orde Baru sampai hari ini masih menghamba sistem kapital," katanya memberi catatan kritis.


Para penumbang rezim lalim
Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

FAHRI HAMZAH, JAKARTA| Ia lebih dikenal dengan ketajaman lidahnya mengkritik pemerintahan Jokowi ketimbang Soeharto. Di balik kesuksesannya menduduki posisi Wakil Ketua DPR, Fahri punya jejak dalam gerakan mahasiswa 1998.

Pada masa itu, Fahri menjabat Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Organisasi itu terbentuk pada hari-hari menjelang Soeharto lengser, 29 Maret 1998. Elemen pembentuknya adalah Forum Silaturahmi Dakwah Kampus.

Fahri bilang posisinya saat itu bukan Kordinator Lapangan yang sibuk urus massa. "Tugas saya berkomunikasi dengan elite-elite," katanya.

Pada hari-hari panas Mei 1998, Fahri sering menemani Amien Rais. Mereka kerap berkeliling naik ambulans untuk melihat situasi ibu kota, terutama ketika menyiapkan aksi demonstrasi 20 Mei di Monas--yang belakangan gagal.

Fahri bilang, reformasi sudah selesai, bila ada kekurangan hanya pada perbaikan konstitusi agar tidak menghadirkan peluang munculnya otoritarianisme. "Kejadian 98 itu tidak terjadi lagi, Insha Allah. Cuman pemimpin harus memahami betul cara kerja demokrasi," katanya.


Para penumbang rezim lalim
Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

SARAS DEWI, JAKARTA | Ia masih mengenakan seragam "putih abu-abu", ketika mahasiswa menggelar demonstrasi menuntut reformasi.

Satu ketika, Saras ikut bergabung dalam aksi, dan lantas diajak untuk terlibat lebih jauh dalam gerakan reformasi kala itu.

"Lantas bertemulah saya dengan pelajar-pelajar lain, dari Tangerang dan beberapa sekolah swasta di Jakarta Selatan. Dari sana diskusi mulai berjalan," kata Saras.

Diskusi berujung pembentukan Aliansi Pelajar Indonesia (API). Selain mengangkat isu reformasi, mereka berusaha memerhatikan perkara yang dekat dengan pelajar, misal pendidikan gratis, hingga ancaman narkoba.

Saras Dewi punya pengalaman unik, ketika orang tuanya mengawalnya untuk mengikuti aksi-aksi reformasi. "Saya bilang mau ikut aksi, bapak saya diam-diam membuntuti, mengawasi dari kejauhan," katanya.

Beberapa tahun lepas reformasi, Saras Dewi sempat punya pamor sebagai penyanyi. Namun, panggilan jiwanya ada di dunia akademik. Ia pun pilih karier sebagai pengajar filsafat di Universitas Indonesia.

Ihwal era pasca-Soeharto, ia punya pernyataan retorik ihwal keterbukaan dan kebebasan. "Kalau dulu kita berjuang melawan otoritarianisme, sekarang kita berjuang untuk kebebasan yang dibatasi mayoritanisme dan konservatisme. Hoax, misalnya, menjadi bagian dari distorsi karena masih kurangnya pemahaman dan tanggung jawab atas kebebasan."


Para penumbang rezim lalim
Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

MUHAMMAD SOFYAN, JAKARTA | Pada 1994, Muhammad Sofyan mengenyam pendidikan di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jakarta. Di sana, ia berkenalan dengan dunia politik.

Pada masa itu, ia menyaksikan rakyat menjerit karena harga-harga begitu mahal. Di sisi lain, ia merasakan mahasiswa kehilangan energi gaibnya untuk melakukan perlawanan. Sofyan pun gelisah berkepanjangan, hingga akhirnya memilih jalan perlawanan.

Ia bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), dan Keluarga Mahasiswa IISIP.

Pada Mei 1998, ia turun ke jalan mengadu urat politik dengan rezim Orde Baru.

Bagi Sofyan dan kawan-kawan, kata "Lawan!" adalah semangat yang menyala di jalan.

Menurutnya keberhasilan perjuangan reformasi adalah terbukanya keran demokrasi.

Meski begitu, masih banyak pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan. Korupsi pada masa orde baru adalah salah satunya. Ia berharap siapa pun yang terlibat harus diseret ke pengadilan.


Para penumbang rezim lalim
Bismo Agung /Beritagar.id

IMAN D. NUGROHO, SURABAYA | Iman tak bakal lupa satu peristiwa pada 16 Agustus 1996. Hari itu, rumahnya sepi. Kedua orang tuanya ke kantor, kakak-kakanya ke kampus. Ia sendiri sedang terlelap tidur.

Tiba-tiba, terdengar suara pintu diketuk. Tamu yang datang mengaku dari Amnesty Internasional.

Ternyata itu kamuflase belaka. Nahas pun menimpa Iman. Dengan menggunakan baju tidur dan muka berantakan, ia digelandang ke kantor Korem. “Tikus masuk perangkap,” kata Iman menirukan percakapan di handy talkie aparat.

Di kantor Korem, ia disuruh duduk, dan rambutnya yang gondrong digunting paksa. Setelahnya, barulah ia ditanya,

“Kamu tahu kenapa kami ambil?”

“Enggak, Pak,” jawab Iman.

“Kamu sekretaris komisariat SMID underbow PRD."

Iman kaget. Kepada militer itu ia menjelaskan dirinya jurnalis magang di koran Karya Darma, Surabaya. Kebetulan, ia bertugas meliput demo-demo mahasiswa.

Anggota militer tak percaya. Ia mendatangi kantor Karya Darma. Akhirnya, karena tak ada bukti apapun, Iman dibebaskan setelah mendekam 11 hari dalam sel.

Semua itu tak membuatnya kapok. Mei 98, ia ikut demonstrasi menuntut Soeharto mundur dan diadili.

“Ketika Soeharto menyatakan mundur, kami sedih,” kata jurnalis CNN Indonesia itu. “Seharusnya dia juga diadili.”


Para penumbang rezim lalim
Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

MURADI, BANDUNG | Ia mengawali demo hanya bermodalkan tiga orang saja pada 1997. Kala itu, statusnya mahasiswa Fakultas Sastra, Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat.

Sejak itu, Muradi aktif menyebarkan selebaran berisi kritik ekonomi-politik kepada Orde Baru.

Peran Muradi bertambah besar saat jadi motor Forum Mahasiswa Bandung (FMB), sebuah organisasi yang menyatukan lebih dari 70 kampus di Bandung. Kelak FMB bisa memobilisasi ribuan massa pada 13 Mei 1998 yang berpusat di Gedung Sate, Gedung DPRD Jabar, dan Lapangan Gasibu. Itu adalah salah satu aksi massa terbesar pada masa reformasi di Bandung.

Sebelum Mei 1998, Muradi sempat dicokok aparat. Kejadiannya usai berdemonstrasi bersama musikus Harry Roesli. Ia dalam perjalanan pulang dari tempat kursus bahasa Inggris, sekitar pukul tujuh malam. Dari dalam angkot, ia ditarik keluar dan dimasukkan ke mobil Kijang.

Ada lima sampai enam orang yang menginterogasinya. Muradi kaget ketika ditunjukkan foto-fotonya ketika rapat bersama teman-temannya. Padahal, lokasi rapat itu terbilang rahasia. Belakangan, ia tahu ada penyusup dalam lingkaran mereka.

Selama dua malam, Muradi menghadapi interogasi tentara. Setiap jawaban salah berbalas pukulan. Setelah itu, ia dibawa ke Polrestabes, dan baru dibebaskan setelahnya.

“Setelah Soeharto jatuh, tugas saya selesai. Saya cuma ingin lulus S1, lanjut sampai S3, lalu hidup normal,” ujarnya.

Kini, Muradi menjabat Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan, Universitas Bandung dan Komisaris Independen PT Waskita Karya. Sebelumnya, ia sempat jadi Staf Ahli Utama di Kantor Staf Presiden Joko Widodo.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR