Perempuan Plastik di Pasar Tasik

Maneken adalah pertanyaan dan pernyataan yang terus berulang, tentang kepantasan berbusana dan padu padan gaya. Ia menjadi peraga busana, pengganti sosok manusia. Di Pasar Tasik, Jatibaru, Jakarta, maneken terserak. Ia menjadi penunggu setia dari pasar yang hanya buka Senin dan Kamis saja.

Editor Foto :
Perempuan Plastik di Pasar Tasik
Raudhatul Jumala /beritagar.id

MANEKEN | Bentuknya berevolusi dari waktu ke waktu, tercipta dari anyaman hingga kawat besi. Maneken pun perlahan berkembang. Bahan dasarnya boleh berubah tapi maneken tetap digunakan sebagai alat peraga. Ia dipajang di etalase, didandani semenarik mungkin demi memikat calon pembeli.


Perempuan Plastik di Pasar Tasik
Raudhatul Jumala /beritagar.id

PERAGAWATI | Di Pasar Tasik, Jatibaru, Jakarta yang dikenal sebagai pasar grosir busana dan bahan, ratusan maneken digunakan sebagai peraga. Berbalut busana warna-warni dengan mode pakaian masa kini, maneken berdiri bak peragawati.


Perempuan Plastik di Pasar Tasik
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

TERLINDUNG | Nasib para Perempuan Plastik di Pasar Tasik jauh berbeda dengan maneken-maneken yang ada di pusat perbelanjaan. Di Pasar Tasik tiada hawa dingin dari penyejuk ruangan yang membuat mereka awet dan tak tampak kusam. Karenanya agar terlindung dari sengatan matahari Jakarta nan panas, maneken-maneken di Pasar Tasik disimpan dalam karung, atau ditutupi daun agar tetap terjaga.


Perempuan Plastik di Pasar Tasik
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

BEBAS TUGAS | Jika bukan hari Senin dan Kamis, banyak maneken berserak di atas lahan yang kerap digunakan untuk pedagang berjualan. Bebas dari tugasnya sebagai peraga, Perempuan Plastik di Pasar Tasik malah disiram hujan, dan disengat matahari yang panas.


Perempuan Plastik di Pasar Tasik
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

MUTILASI | Para pedagang Pasar Tasik sengaja meninggalkan ''peragawati-peragawati plastik'' di lahan tempat mereka berjualan. Tubuh mereka dimutilasi, dimasukkan dalam karung, agar tak terlalu banyak memakan tempat penyimpanan.


Perempuan Plastik di Pasar Tasik
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

GABA GIRLS | Maneken memang sudah ada sejak abad ke-18, namun maneken yang tampak seperti manusia baru dicipta pada tahun 1930. Kala itu, Lester Gaba, seorang pematung sabun dari New York berhasil menciptakan enam spesimen mirip wanita. Kalangan fesyen pun menyebut maneken karya Gaba dengan sebutan ''Gaba Girls'', demi mengenang Lester Gaba.


Perempuan Plastik di Pasar Tasik
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

MODE PAKAIAN | Maneken di Pasar Tasik kerap mengenakan busana yang tengah digemari. Kadang mereka memakai baju muslim seperti hijab warna-warni dipadu gamis sesuai tren mode masa kini. Tak cuma itu, Perempuan Plastik juga siap mengenakan celana jeans dan kaos ketat yang memamerkan lekuk tubuh.


Perempuan Plastik di Pasar Tasik
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

MEMBANTU | Keberadaan maneken dalam dunia bisnis retail dinilai cukup membantu pedagang untuk memamerkan busana yang menjadi produk jualannya. Sebagai alat peraga, maneken dinilai mampu mendatangkan daya tarik produk yang dijualnya.


Perempuan Plastik di Pasar Tasik
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

NAMA | Bentuk maneken di Pasar Tasik hampir semua mirip. Agar tak tertukar, para tuan dan puan pemilik maneken menamai para Perempuan Plastik sesuai nama bisnisnya.


Perempuan Plastik di Pasar Tasik
Raudhatul Jumala /Beritagar.id

CANTIK | Kebanyakan maneken adalah imajinasi atas perempuan sempurna ala industri. Ia harus tampak semampai, berlekuk tubuh aduhai, berhidung mancung dan berkulit cerah. Dengan tampilan itu, industri seolah sedang mengunci tafsir kecantikan kontemporer. Perlukah hadir maneken berwajah dan berbentuk lain?


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR