Pertunjukkan yang tersisa dari zaman penjajahan

Sudah ada sejak zaman kolonial, topeng monyet menjadi hiburan rakyat yang selalu saja memikat. Tapi sayang pertunjukan itumelalaikan keadaan fisik dan kondisi mental hewan yang dipekerjakan. Di Medan, Sumatera Utara, pewarta foto Sutanta Aditya mengabadikannya.

Editor Foto :
Pertunjukkan yang tersisa dari zaman penjajahan
Sutanta Aditya

HIBURAN | Hingar penonton selalu pecah di setiap aksi kera ekor panjang (Macaca fascicularis) bertingkah menirukan manusia. Dibekali kostum dan keterampilan berakrobat binatang itu telah menjadi komoditas hiburan rakyat jelata sejak dahulu kala. Sudah dari zaman kolonial dulu, topeng monyet dinikmati oleh anak-anak, baik pribumi maupun Belanda. Seidaknya itu terekam dalam karya foto Charles Breijer, seorang fotografer asal Belanda yang mengabadikannya pada tahun 1947 di Indonesia.


Pertunjukkan yang tersisa dari zaman penjajahan
Sutanta Aditya

PERTUNJUKKAN RAKYAT | Menjadi ladang uang, topeng monyet adalah hiburan yang biasa dinikmati rakyat jelata. Selain terdapat di berbagai daerah di Indonesia, topeng monyet juga menjadi pertunjukan di jalanan sejumlah negara seperti India, Pakistan, Thailand, Vietnam, Tiongkok, Kamboja, Jepang, dan Korea.


Pertunjukkan yang tersisa dari zaman penjajahan
Sutanta Aditya

EKSPLOITASI | Tapi zaman bergerak, jika dahulu pertunjukkan topeng monyet tak ada yang mempermasalahkan, kini pertunjukkan itu dinilai sebagai ajang eksploitasi primata.


Pertunjukkan yang tersisa dari zaman penjajahan
Sutanta Aditya

PENYIKSAAN | Dengan rantai yang terikat pada leher, hewan kecil itu dipaksa untuk melakukan adegan yang menghibur. Protes pun bermunculan, terutama dari pemerhati hewan yang menganggap bisnis ini merupakan bentuk dari penyiksaan.


Pertunjukkan yang tersisa dari zaman penjajahan
Sutanta Aditya

MENYAMBUNG HIDUP | Di Medan, Sumatera Utara, Andi, 28 tahun, asal Jawa Barat, telah tiga tahun hidup dari pertunjukkan topeng monyet yang ia jalankan bersama temannya, Edi. Dari pertunjukkan topeng monyet ia dapat menyambung hidupnya di perantauan. Kalau sedang ramai mereka bisa mendapatkan Rp 150 ribu, tapi kalau sedang sepi mereka harus bisa menahan lapar.


Pertunjukkan yang tersisa dari zaman penjajahan
Sutanta Aditya

BERBAHAYA | Dalam pertunjukkan topeng monyet, interaksi primata dengan manusia dapat membahayakan. Para ahli biologi menyatakan bahwa gigitan atau cakaran seekor monyet dapat menimbulkan bahaya jika monyet tersebut diketahui positif terinfeksi Simian Foamy Virus (SFV). Selain itu primata pun berpeluang memiliki potensi menularkanpenyakit seperti tuberculosis, rabies dan hepatitis.


Pertunjukkan yang tersisa dari zaman penjajahan
Sutanta Aditya

MERAWAT | Paham dengan resiko yang bisa ditimbulkan, Andi mengaku selalu merawat kera miliknya. Saban enam bulan sekali Edi membawa Rossi, monyetnya ke dokter hewan untuk diberi suntikan anti rabies.


Pertunjukkan yang tersisa dari zaman penjajahan
Sutanta Aditya

PEMAKSAAN | Monyet-monyet yang dipekerjakan dalam pertunjukkan topeng monyet biasanya dilatih terlebih dahulu. Dalam latihan yang berlangsung berminggu-minggu itu, hewan tersebut dipaksa berdiri tegak. Padahal monyet bukanlah hewan yang terbiasa melakukan itu.


Pertunjukkan yang tersisa dari zaman penjajahan
Sutanta Aditya

PENYIKSAAN | Selain leher yang dirantai, dalam pelatihannya monyet pertunjukkan juga dipaksa bergelantung dalam posisi tertentu selama 6-8 jam. Para aktivis pecinta hewan pun menganggap itu sebagai bentuk penyiksaan yang tak seharusnya dilakukan.


Pertunjukkan yang tersisa dari zaman penjajahan
Sutanta Aditya

MENOLAK ANGGAPAN | Meski begitu Andi yang selama ini mengandalkan hidup dari pertunjukkan topeng monyet menolak anggapan bahwa ia telah melakukan penyiksaan terhadap hewan. Dengan mata yang tampak putus asa ia berujar, “Saya tidak tahu harus berprofesi sebagai apa lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup jika atraksi topeng monyet ini harus dihentikan.”


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR