Petuah bijak dari tepi Cisadane

Memperingati kematian Qu Yuan, masyarakat keturunan Tionghoa yang bermukim di tepi Sungai Cisadane, Tangerang, Banten menggelar Festival Pehcun pada Sabtu ( 15/06/2019) dan Minggu (16/06/2019). Sudah berlangsung sejak 1910, perayaan Pehcun di Sungai Cisadane itu merupakan festival Pehcun tertua di tanah air. Dalam perayaan tersebut, ajakan untuk mencintai negeri yang dipijak dan tidak korupsi kembali diingatkan agar lekat dalam sanubari.

Editor Foto :
Petuah bijak dari tepi Cisadane
Edy Susanto

QU YUAN | Dalam lembaran sejarah masyarakat Tionghoa, terdapat seorang bangsawan pada Dinasti Ciu bernama Qu Yuan yang sangat amat dihormati. Penghormatan itu melekat, bahkan mengalir jauh hingga tepian Sungai Cisadane, Tangerang, Banten, tempat masyarakat Cina Benteng beranak pinak hingga kini.


Petuah bijak dari tepi Cisadane
Edy Susanto

PENGHORMATAN | Qu Yuan bukan bangsawan biasa, selain sempat menjadi menteri besar, masyarakat Tionghoa juga mengenal sosoknya sebagai sastrawan yang bijak. Dalam syair-syair yang ia gubah, tak hanya keberpihakannya pada rakyat kerap ditulisnya, tapi juga nasehat kepada penguasa yang lalim. Qu Yuan dicatat mati bunuh diri.Itu terjadi ketika ia mendengar kabar bahwa negerinya hancur akibat fitnah dan korupsi. Untuk mengenang kematian Qu Yuan, setia tanggal 5 bulan 5 perayaan Pehcun digelar oleh masyarakat Tionghoa di berbagai negeri


Petuah bijak dari tepi Cisadane
Edy Susanto

KETURUNAN | Di tepi Sungai Cisadane, perayaan Pehcun selalu diperingati oleh masyarakat Cina Benteng. Telah mengakar dari generasi ke generasi, perayaan Pehcun menjadi upaya keturunan Tionghoa di sana menghayati kembali nilai-nilai patriotisme Qu Yuan sembari terus melestarikan budaya dan tradisi tanah leluhur.


Petuah bijak dari tepi Cisadane
Edy Susanto

EKSISTENSI KULTURAL | Secara antropologi, eksistensi kultural masyarakat Tionghoa sudah ada sejak abad ke-15. Di Klenteng Boen Tek Bio yang dibangun pada awal 1684, kaum intelektual Tionghoa generasi awal kerap berkumpul untuk berbuat kebajikan. Tek Bio sendiri baru diresmikan menjadi Klenteng sekaligus perkumpulan keagamaan dan sosial sejak 12 Januari 1912. Dari tempat inilah kemudian kultur Tionghoa di tepian Cisadane terbangun.


Petuah bijak dari tepi Cisadane
Edy Susanto

AKULTURASI | Masyarakat Tionghoa tersebar di berbagai belahan bumi. Dengan caranya mereka mampu berintegrasi dan mengakulturasi budayanya dengan budaya asli di tempat yang mereka datangi. Perayaan Pehcun pun menjadi bukti bahwa tradisi itu sudah melekat di kawasan itu sejak lama. Dan saat ini, tradisi itu dilakukan masyarakat Cina Benteng dalam turut berupaya melestarikan Sungai Cisadane agar tetap asri dan bersih.


Petuah bijak dari tepi Cisadane
Edy Susanto

TERBEBAS | Selain di masa kolonial, kultur dan syiar tradisi masyarakat Tionghoa di tepi Sungai Cisadane pernah dibungkam. Baru pada pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid (1999-2001), syiar budaya yang dimiliki masyarakat Cina Benteng terbebas dari batasan.


Petuah bijak dari tepi Cisadane
Edy Susanto

GEMBIRA | Adalah kegembiraan bagi masyarakat Cina Benteng kembali merayakan Pehcun. Selain melepas rindu akan budaya nenek moyang, mereka menjadikan peringatan itu untuk mengenang ajaran-ajaran dan nasehat Qu Yuan yang konon sebelum matinya pun sempat menuliskan puisi.


Petuah bijak dari tepi Cisadane
Edy Susanto

PERAHU NAGA | Dalam perayaan Pehcun, lomba perahu naga menjadi ciri khas lain dari tradisi itu. Keberadaan perahu naga dalam peringatan Pehcun adalah bagian dari cerita Qu Yuan yang mengasingkan diri dari Negeri Chien kala dilanda perang akibat fitnah dan korupsi.


Petuah bijak dari tepi Cisadane
Edy Susanto

CERITA | Orang-orang tua Tionghoa di tepi Sungai Cisadane ingat benar cerita turun temurun yang diwariskan oleh para leluhurnya. Cerita itu tentang Qu Yuan yang bijak dan suka membaca puisi.


Petuah bijak dari tepi Cisadane
Edy Susanto

AJARAN QU YUAN | Sampai hari ini hikayat akan Qu Yuan masih lekat di kepala masyarakat Cina Benteng. Meski telah beranak pinak, keberanian dan kejujuran Qu Yuan sang menteri besar tetap menjadi cerita yang patut dikenang hingga kini. Melalui puisinya yang berjudul Li Sao, atau Jatuh Dalam Kesukaran, Qu Yuan kepada pengikutnya mengajak agar mereka memiliki rasa cinta pada negeri yang dipijak. Selain itu, Qu Yuan pun mangajak agar mereka wajib menebarkan cinta kasih, dan tak menyebar fitnah, juga korupsi.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR