Saat rumah tak lagi teduh

Suku Anak Dalam hidup bersanding dengan alam berabad-abad lamanya. Di sepanjang hijaunya hutan Bukit Barisan, Sumatera, mereka mengembara. Tapi sayang, kini mereka terpinggirkan oleh hutan sawit yang semakin luas.

Editor Foto :
Saat rumah tak lagi teduh
Ramadhani

HUTAN | Di dalam hutan Suku Anak Dalam tinggal. Beranak-pinak mereka melanjutkan hidup dan membangun kebahagiaan. Bagi mereka hutan adalah rumah yang teduh dimana keperluan hidup tersedia secukupnya.


Saat rumah tak lagi teduh
Ramadhani

MISTERI | Masih banyak misteri yang menyelubungi Suku Anak Dalam. Para ahli ada yang berpendapat mereka berasal dari kelompok Proto Melayu, golongan Austronesia yang melakukan eksodus pertama dari Yunnan. Nenek moyang mereka disebut satu generasi dengan nenek moyang suku Dayak, Mentawai, Nias, Toraja dan Batak yang diperkirakan masuk ke Indonesia pada 2500 tahun sebelum Masehi.


Saat rumah tak lagi teduh
Ramadhani

SAWIT | Keberadaan Suku Anak Dalam kini terancam. Hutan-hutan di Sumatera yang dulu lebat dan kaya kini telah disulap menjadi lahan sawit yang luas. Itu membuat Indonesia disebut sebagai raksasa sawit dunia.


Saat rumah tak lagi teduh
Ramadhani

PERUBAHAN | Tahun ini produksi sawit ditargetkan mencapai 46 juta ton dengan luas lahan 12,30 juta hektar dan terus bertambah. Sekitar 70 persen dari luas lahan sawit itu terhampar di hutan Sumatera. Tentu saja itu membawa gelombang perubahan besar bagi masyarakat yang hidup di dalam rimba.


Saat rumah tak lagi teduh
Ramadhani

TERSEBAR | Data WARSI tahun 2017 menunjukkan 2.546 orang Suku Anak Dalam yang tersebar di belantara hutan Sumatera. Sebagian besar terkonsentrasi di hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas. Suku Anak Dalam dalam jumlah yang tidak sedikit juga ditemukan hidup berpindah-pindah di dalam perkebunan sawit milik perusahaan.


Saat rumah tak lagi teduh
Ramadhani

TERKEPUNG | Satu kelompok masyarakat Suku Anak Dalam tinggal di tepian Sungai Pejudian.Di Dusun Tujuh, Desa Muara Medak atau tepatnya di dalam hutan antara Jambi-Palembang, mereka menyaksikan bagaimana belantara rimba menyempit dikepung perkebunan sawit yang bertambah luas saban hari.


Saat rumah tak lagi teduh
Ramadhani

SAKSI DAN KORBAN | Dan setiap tahunnya masyarakat Suku Anak Dalam menjadi saksi bagaimana api melumat hutan tempat di mana mereka mencari makan. Tak hanya itu anak-anak mereka pun akhirnya menjadi korban dari polusi udara yang disebabkan oleh pembakaran lahan.


Saat rumah tak lagi teduh
Ramadhani

DAMPAK | Hutan yang habis isinya berdampak mempengaruhi kesehatan dan pola hidup mereka. Menghadapi itu, beberapa orang Suku Anak Dalam terpaksa harus memutuskan bekerja sebagai buruh kasar di desa-desa yang berada di tepian hutan. Dalam kesusahan itu masih ada saja oknum yang memanfaatkan keberadaan masyarakat rimba ini.


Saat rumah tak lagi teduh
Ramadhani

KEADAAN | Menurut masyarakat Suku Anak Dalam, sering sekali orang-orang dari kota datang. Ke dalam rimba mereka melakukan pendataan. Mereka kerap berjanji kembali membawa bantuan, namun ternyata mereka hanya sekelompok tukang tipu yang memanfaatkan keadaan.


Saat rumah tak lagi teduh
Ramadhani

KELUAR | Di tengah gempuran modernitas dan kebun sawit yang makin meluas, Suku Anak Dalam terpaksa beradaptasi dengan lingkungannya. Saat hutan tak lagi memberi kecukupan, mereka perlahan harus keluar, berhadapan dengan realitas demi hidup tentunya. Di masa depan, mungkin saja tidak ada hutan untuk generasi Suku Anak Dalam yang akan datang, dan sudah jelas mereka pasti terpinggirkan.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR